Risk-Off atau Investability Pasar Modal?

Perdana Wahyu Santosa CNBC Indonesia
Minggu, 01/02/2026 18:27 WIB
Perdana Wahyu Santosa
Perdana Wahyu Santosa
Prof. Perdana Wahyu Santosa merupakan Guru Besar Ilmu Ekonomi Keuangan dan Bisnis sekaligus Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas YA... Selengkapnya
Foto: Suasana layar digital pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (30/1/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Dalam beberapa sesi terakhir, IHSG bergerak bukan lagi seperti "gelombang", melainkan "jatuh dari tebing alias longsor". Pada Selasa, 27 Januari 2026, IHSG masih sempat finish tipis menguat 0,05% di sekitar 8.980, tetapi asing mencatat jual bersih sekitar Rp1,65 triliun-sebuah sinyal klasik, yaitu indeks hijau, namun "tenaganya" rapuh, menurut Bloomberg.


Lalu datang Rabu kelam, 28 Januari. Kumparan melaporkan bahwa IHSG jatuh sekitar 7,35% dan memicu trading halt (perdagangan dihentikan sementara) setelah penurunan intraday menembus ambang yang ditetapkan bursa. Penutupan hari itu berada di kisaran 8.320,5; jumlah saham yang turun mendominasi papan.

Kamis pagi kelam kembali, 29 Januari, suasana belum membaik. IHSG dibuka melemah tajam (plunge)-Antara mencatat pelemahan awal sekitar 4,30% ke 7.962,79. Reuters melaporkan pelemahan berlanjut sekitar 8% (setelah minus ~7,4% sehari sebelumnya) hingga memicu trading halt lagi.

Aturan "rem darurat" ini memang dirancang untuk mencegah pasar berubah menjadi arena panic selling: trading halt 30 menit ketika penurunan melewati 8%, lalu level lanjutan 15%, dan potensi trading suspend pada penurunan yang lebih ekstrem lapor CNBC.

Di belakang layar, rupiah ikut menjadi latar yang tidak membantu. Kurs referensi BI (JISDOR) pada 28 Januari tercatat Rp16.723 per dolar AS-angka yang mencerminkan tekanan nilai tukar di tengah volatilitas portofolio. Bank Indonesia sendiri menahan BI-Rate di 4,75% pada RDG 20-21 Januari 2026, dengan penekanan pada stabilisasi rupiah di tengah ketidakpastian global.

Masalah utama: bukan sekadar "risk-off", ini soal investability
Kalau koreksi pasar biasanya disulut kombinasi sentimen global (The Fed, China, komoditas), episode akhir Januari ini punya "pemicu spesifik" adalah MSCI (Morgan Stanley Capital International). MSCI merilis hasil konsultasi yang menyoroti persoalan investability terkait float data feed serta isu transparansi struktur kepemilikan dan kekhawatiran perilaku perdagangan terkoordinasi yang dapat mengganggu pembentukan harga.

Konsekuensinya tentu sangat tidak main-main: Financial Times melaporkan bahwa MSCI melakukan interim freeze-menghentikan penyesuaian tertentu atas sekuritas Indonesia dalam indeksnya-dan bahkan membuka pintu risiko reklasifikasi Indonesia dari emerging market menjadi frontier market bila isu tak tuntas sampai sekitar Mei 2026.

Kenapa pasar langsung "panik jual"? Karena status emerging market tentu bukan sekadar label kosmetik; status itu memengaruhi peta alokasi dana pasif dan aktif global. Reuters mencatat Goldman Sachs menurunkan pandangan terhadap ekuitas Indonesia dan memperkirakan potensi arus keluar bisa berada pada kisaran miliaran dolar bila skenario penurunan status benar terjadi (meski mereka menilai downgrade masih "tidak mungkin" sebagai baseline).

Pemerintah pun kabarnya menyatakan akan mengevaluasi permintaan MSCI terkait transparansi data. Jadi, masalah utamanya bukan sesederhana "IHSG mahal/murah" dalam kacamata PER semata, melainkan kepercayaan pada infrastruktur informasi dan tata kelola pasar. Saat investor global meragukan kualitas data free float dan keterbacaan kepemilikan, risk premium naik mendadak-dan harga saham menyesuaikan dengan cara paling brutal: turun.

Perbaiki mesin, bukan menyalahkan speedometer

Regulator dan operator pasar (BEI-OJK-KSEI): "audit, rapikan, dan komunikasikan."

Prioritasnya adalah memulihkan kredibilitas data dan mekanisme pembentukan harga sebelum tenggat Mei yang disebut MSCI. Yang dibutuhkan pasar global biasanya sederhana tapi tidak gampang: standar data free float yang dapat diaudit, definisi kategori pemegang saham yang konsisten, transparansi beneficial ownership yang lebih tegas, dan penegakan terhadap pola transaksi yang mengarah ke manipulasi/koordinasi. Communication matters: peta jalan perbaikan yang jelas (mingguan, bukan "segera") sering lebih menenangkan daripada slogan.

Emiten: tambah float, rapikan governance, dan perkuat IR.
Jika isu MSCI menyoroti float dan transparansi kepemilikan, sebagian jawabannya ada di emiten-bukan hanya di bursa. Perluasan free float, peningkatan kualitas keterbukaan informasi, serta praktik tata kelola yang mudah diverifikasi akan menjadi "asuransi reputasi" ketika pasar global sedang sensitif.

Investor institusi dan ritel: disiplin risiko, bukan disiplin emosi.
Di fase seperti ini, keputusan terburuk biasanya lahir dari dua ilusi: (i) merasa "harus" bertindak cepat, dan (ii) mengira satu berita menjelaskan seluruh masa depan. Kembali ke fondasi, yaitu ukur eksposur pada saham berlikuiditas tipis, batasi leverage, gunakan bertahap (staggered entry/exit), dan pisahkan portofolio "jangka panjang fundamental" dari "taktikal trading". Pahami bahwa trading halt itu alarm kebakaran-bukan vonis kiamat.

Pembuat kebijakan makro (BI dan fiskal): jaga jangkar ekspektasi.
Ketika pasar saham tertekan dan rupiah makin sensitif, konsistensi kebijakan menjadi jangkar psikologis. BI sudah menegaskan fokus stabilisasi rupiah sambil menjaga pertumbuhan. Di sisi lain, koordinasi komunikasi antarotoritas penting agar pelaku pasar tidak mengisi kekosongan informasi dengan rumor.

Penutup
Akhir Januari 2026 memberi pelajaran yang pahit tapi berguna: pasar modal modern bukan hanya soal laba emiten, melainkan juga soal kualitas "pipa informasi" dan tata kelola yang dipercaya dunia. MSCI sedang-secara tidak langsung-memaksa Indonesia mempercepat pekerjaan rumah transparansi free float dan price formation.

Bila responsnya teknis, cepat, dan terukur, episode ini bisa menjadi titik balik yang mana dari pasar yang volatil karena "ketidakjelasan", menjadi pasar yang lebih dewasa karena "kepastian prosedur". Bila tidak, volatilitas akan berulang, dan biaya modal akan naik pelan-pelan-ini cara halus pasar menghukum (mendidik) kita.

Disclaimer: Artikel ini bersifat analisis pasar terkini, dan bukan ajakan membeli/menjual efek.


(miq/miq)