Khotbah Ekonomi untuk Pekerja, Pebisnis, Pasar Modal, dan Negara
Pengantar Serial Matinya Ilmu Ekonomi: Di tengah dunia yang terus bergerak cepat namun terasa semakin kosong, kami mengajak anda untuk berhenti sejenak, untuk menoleh ke belakang, menatap ke dalam, dan melihat ke depan.
Serial Matinya Ilmu Ekonomi bukan sekadar kumpulan kritik. Ia adalah upaya jujur untuk memandang ilmu ekonomi dari sudut yang jarang diterangi: dari sisi yang tidak selalu efisien, tidak selalu rasional, tapi sepenuhnya manusiawi.
Di sini, kami ingin menyegarkan kembali ingatan kita akan mengapa ekonomi ada, bukan hanya sebagai alat hitung, tetapi sebagai cermin kegembiraan, pencapaian, penderitaan, ketimpangan, dan harapan zaman.
Adapun Episode Ke-14 ini kami beri judul: "Khotbah Ekonomi untuk Pekerja, Pebisnis, Pasar Modal, dan Negara". Semoga bermanfaat, Selamat Menikmati.
---
Assalāmu'alaikum warahmatullāhi wabarakātuh. Saudara-saudaraku, para pekerja yang hidup dari gaji bulanan, para pebisnis yang hidup dari arus kas, para pelaku pasar modal yang hidup dari pergerakan harga, dan para pengelola negara yang hidup dari angka-angka makro. Hari ini, izinkan saya mengatakan satu kalimat yang tidak biasa: Masalah ekonomi kita hari ini bukan kurang bergerak, tapi tidak tahu kapan berhenti.
Kita capek, tapi tidak tahu kenapa. Kita sibuk, tapi tidak tahu untuk apa. Kita bergerak terus, tapi seperti tidak pernah sampai. Dan di tengah dunia yang tidak mau berhenti ini, Allah memperingati kita dengan satu peristiwa yang luar biasa: Isra Mi'raj.
Saudara-saudaraku, Isra Mi'raj itu sering kita ceritakan sebagai kisah perjalanan cepat di darat, lalu naik ke langit. Kecepatan, keajaiban, dimensi, seakan-akan itu cerita tentang bergerak lebih cepat dari cahaya. Tapi jarang sekali kita sadari satu hal: Isra Mi'raj adalah peristiwa ketika dunia dihentikan. Tidak ada pasar, tidak ada transaksi, tidak ada deadline, tidak ada KPI dan Tidak ada "productive hours", yang ada hanya kehadiran.
Dunia hari ini merapalkan hal yang sama berulang-ulang: "Kalau kamu berhenti, kamu kalah, Kalau kamu rehat, kamu bisa tertinggal. Kalau kamu tidak respons cepat, kamu tidak relevan. Kalau kamu tidak update, kamu lenyap. Maka kita berlari, Bukan karena mau sampai, tapi karena takut ditinggal. Dan ironisnya, kita lari sambil berkata: "Ya Tuhan, kok hidup saya kosong?"
Allah tidak memanggil Nabi Muhammad SAW dengan berkata: "Larilah lebih cepat." Allah memanggil beliau di malam hari, saat dunia tidur, saat aktivitas berhenti, saat pasar tutup, saat manusia bersama dirinya sendiri. Kenapa malam? Karena tidak ada Mi'raj di siang hari yang sibuk. Tidak ada kenaikan makna di tengah kebisingan.
Ekonomi modern bekerja 24 jam. Pasar buka bergiliran dari Tokyo, London, New York. Aset diperdagangkan real-time, Uang bergerak tanpa tidur. Dalam dunia seperti ini: Pekerja dinilai dari produktivitas tanpa henti, pebisnis dinilai dari pertumbuhan kuartalan yang harus selalu naik, investor dinilai dari performa harian, pemerintah dinilai dari headline ekonomi yang harus selalu positif. Tak ada ruang untuk jeda. Tak ada ruang untuk "cukup". Dan di titik inilah ekonomi mulai kehilangan makna.
Bagi pekerja, dunia hari ini berkata: "Kalau kamu berhenti, kamu tertinggal", Maka jam kerja memanjang. Batas kerja-hidup menghilang dan burnout dianggap lemah, bukan sinyal. Padahal dalam Isra Mi'raj, Allah memerintahkan shalat, bukan kerja. Shalat adalah: hentikan aktivitas ekonomi, lepaskan peran, turun dari mesin produksi, lima kali sehari. Ini koreksi ilahi terhadap ekonomi yang mengeksploitasi manusia tanpa henti.
Pebisnis modern hidup dalam logika: Scale or die, grow or be acquired, disrupt or be disrupted/ Pertumbuhan bukan lagi pilihan, tapi kewajiban moral. Namun Isra Mi'raj tidak menghadiahkan Nabi Muhammad SAW strategi ekspansi, Ia menghadiahkan ritme hidup lewat panggilan salat.
Ritme artinya: ada waktu berjalan, ada waktu berhenti, ada waktu menghitung, ada waktu bersujud. Bisnis yang berjalan tanpa ritme akhirnya: over-leverage, over-expand, over-confident, lalu runtuh bukan karena kurang pintar, tapi karena tak pernah berhenti.
Di pasar modal: harga bergerak lebih cepat daripada penciptaan nilai itu sendiri, narasi bergerak lebih cepat dari laba, sentimen berubah jauh lebih cepat dari realitas. Trader kurang tidur, Investor takut tertinggal, volatilitas dianggap normal.
Namun Isra Mi'raj mengajarkan satu hal penting: Tidak semua pergerakan itu kemajuan. Trader yang bijaksana paham, ada waktunya untuk istirahat dan berdiam diri. Salat yang perintahnya turun ketika Isra Mi'raj adalah "market halt" ilahi dan circuit breaker spiritual. Bukan untuk menghentikan pasar, tapi untuk menghentikan manusia agar tidak ditelan pasar.
Negara hari ini juga terjebak: target pertumbuhan, rating agency, persepsi pasar. Kebijakan dibuat cepat, respons harus instan dan narasi harus terus hidup. Namun Isra Mi'raj mengingatkan: Negara bukan hanya mesin pertumbuhan. Negara adalah penjaga ritme sosial. Salat berjamaah adalah simbol: kesetaraan, sinkronisasi, jeda kolektif. Bayangkan ekonomi yang tahu kapan berhenti bersama. Itulah stabilitas sejati.
Saudara-saudaraku, ekonomi yang tidak mengenal jeda akan: menguras pekerja, merusak bisnis, membuat pasar liar, dan mengosongkan negara. Isra Mi'raj datang sebagai interupsi, bukan untuk menghentikan ekonomi, tapi untuk menyelamatkan manusia di dalamnya.
Dunia hari ini memuji mereka yang tidak pernah berhenti. Tapi Allah memuliakan mereka yang tahu kapan harus berhenti. Dan berhenti itu bukan kalah, Berhenti itu taat. Berhenti itu berkata: "Aku bukan Tuhan."
Isra Mi'raj bukan sekadar bergerak dan "naik". Ia adalah jeda sebelum naik. Dalam bahasa ekonomi: bukan efisiensi maksimal, tapi keberlanjutan makna. Allah tidak menyelamatkan umat dengan: produktivitas lebih tinggi, leverage lebih besar, pertumbuhan lebih cepat. Allah menyelamatkan dengan: mengembalikan manusia ke posisinya sebagai hamba, bukan mesin.
Dan mungkin, di zaman ini, salat bukan lagi sekadar ibadah. Ia adalah tindakan ekonomi paling radikal: berhenti ketika semua menyuruhmu berjalan. Wassalāmu'alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
(miq/miq)