IHSG Cetak All Time High, Adakah Peran Mahasiswa?

Rayyan Utoh Banja CNBC Indonesia
Senin, 12/01/2026 14:43 WIB
Rayyan Utoh Banja
Rayyan Utoh Banja
Rayyan Utoh Banja adalah Mahasiswa Ekonomi Syariah di IPB University dengan fokus kajian pada investasi, khususnya di Pasar Modal Syariah.... Selengkapnya
Foto: Layar menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2025 di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (30/12/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Suatu sore di sebuah kampus di IPB University, Daffa, mahasiswa semester IV, bercerita kepada teman-temannya dengan nada setengah bercanda. Uang saku bulanannya habis bukan karena buku kuliah atau kebutuhan akademik, melainkan cicilan paylater, pinjaman online, dan sesekali-yang paling berbahaya-judi daring. Ia menyadari kebiasaan tersebut keliru, namun tidak melihat alternatif pengelolaan keuangan yang terasa dekat dan relevan dengan kesehariannya sebagai mahasiswa.


Cerita Daffa bukanlah anomali. Ia merupakan potret sebagian generasi muda Indonesia hari ini. Fenomena ini tidak sekadar mencerminkan persoalan moral atau gaya hidup, melainkan menunjukkan rendahnya literasi keuangan di tengah generasi yang seharusnya menjadi penopang masa depan perekonomian nasional.

Euforia Rekor IHSG dan Pertanyaan Mendasar
Ironisnya, kondisi tersebut terjadi ketika pasar modal Indonesia justru mencatat capaian historis. Pada Kamis, 8 Januari 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menembus level all time high di angka 9.000. Rekor ini mencerminkan optimisme terhadap prospek ekonomi nasional serta kinerja emiten.

Namun di balik euforia tersebut, muncul pertanyaan mendasar: siapa yang sebenarnya menopang pertumbuhan pasar modal Indonesia?

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), jumlah investor pasar modal Indonesia telah melampaui 20 juta Single Investor Identification (SID) per Desember 2025.

Dari sisi kepemilikan, investor domestik menguasai sekitar 54-55 persen nilai transaksi dan kepemilikan, sementara sisanya masih berasal dari investor asing. Angka ini menunjukkan kemajuan signifikan dibanding satu dekade lalu, namun sekaligus menegaskan bahwa ketergantungan terhadap modal eksternal belum sepenuhnya hilang.

Dalam jangka pendek, arus dana asing memang mampu mendorong indeks naik secara cepat. Namun dalam jangka panjang, pasar modal yang sehat membutuhkan basis investor domestik yang kuat, stabil, dan berorientasi jangka panjang. Pertumbuhan yang terlalu bergantung pada modal eksternal tidak pernah benar-benar kokoh.

Bonus Demografi dan Absennya Mahasiswa
Dalam konteks inilah peran generasi muda menjadi krusial. Indonesia sedang memasuki fase bonus demografi, di mana kelompok usia produktif akan mendominasi struktur penduduk dalam beberapa dekade ke depan. Secara alamiah, merekalah yang diproyeksikan menjadi tulang punggung investor domestik masa depan.

Data BEI menunjukkan mayoritas investor pasar modal saat ini berasal dari kelompok usia di bawah 30 tahun, yang secara demografis sejalan dengan populasi mahasiswa dan generasi muda awal karier. Namun jumlah tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kualitas partisipasi. Banyak investor muda masih bersifat transaksional, jangka pendek, dan belum memiliki pemahaman investasi yang memadai.

Di sisi lain, realitas di kampus menunjukkan ironi. Alih-alih menjadi investor jangka panjang, sebagian mahasiswa justru terjebak dalam praktik keuangan berisiko seperti pinjaman online ilegal dan judi daring.

Kemudahan akses, narasi keuntungan instan, serta minimnya pemahaman risiko membuat pilihan-pilihan tersebut terasa lebih dekat dibandingkan pasar modal yang sering dipersepsikan rumit, elitis, dan jauh dari kehidupan sehari-hari.

Kondisi ini tidak dapat dipahami semata-mata sebagai kegagalan individu. Rendahnya literasi keuangan mahasiswa merupakan persoalan struktural.

Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan tingkat literasi keuangan nasional masih berada di bawah 50 persen, dengan kelompok usia muda sebagai salah satu segmen yang paling rentan. Pada saat yang sama, industri keuangan digital berkembang jauh lebih cepat daripada kapasitas edukasi formal yang disediakan oleh institusi pendidikan.

Kampus sebagai Ruang Strategis Literasi Keuangan
Di sinilah peran kampus menjadi krusial. Perguruan tinggi bukan hanya ruang akademik, tetapi juga ekosistem pembentukan cara berpikir ekonomi generasi muda. Jika pasar modal Indonesia ingin bertumbuh dengan fondasi domestik yang kuat, maka literasi keuangan harus dimulai sejak mahasiswa masih berada di bangku kuliah.

Pasar modal perlu diperkenalkan bukan sebagai arena spekulasi, melainkan sebagai instrumen kepemilikan produktif dan sarana partisipasi dalam pembangunan ekonomi nasional. Mahasiswa tidak hanya perlu diposisikan sebagai target literasi, tetapi juga sebagai agen perubahan-melalui komunitas investasi kampus, kegiatan edukatif berbasis pasar modal, serta integrasi isu keuangan dan investasi dalam aktivitas akademik maupun organisasi kemahasiswaan.

Lebih dari Sekadar Rekor
Rekor IHSG seharusnya tidak hanya dirayakan sebagai capaian angka, melainkan dijadikan momentum refleksi. Musisi Sting, dalam lagu Another Day dari album live Bring on the Night, menulis lirik yang relevan dengan konteks ini: "If we escape starvation, not only food but education." Kelaparan tidak selalu berbentuk ketiadaan pangan, tetapi juga ketiadaan pengetahuan.

Dalam konteks pasar modal, tantangan terbesar yang dihadapi mahasiswa hari ini bukanlah kurangnya akses, melainkan kelaparan literasi keuangan yang membuat mereka rentan terhadap pilihan keuangan berisiko. Pada akhirnya, masa depan pasar modal Indonesia tidak ditentukan oleh seberapa tinggi indeks melambung, melainkan oleh seberapa luas kepemilikan dan pemahaman generasi mudanya.


(miq/miq)