Siswanto Rusdi
Siswanto Rusdi

Siswanto Rusdi adalah pendiri dan Direktur The National Maritime Institute (Namarin), lembaga pengkajian yang fokus di bidang pelayaran, pelabuhan, MET (Maritime Education and Training (MET), dan keamanan maritim. Ia berlatar belakang pendidikan pascasarjana dari FIKOM UPI YAI, Jakarta dan RSIS-NTU, Singapura, setelah gelar sarjana ditempuh di Universitas Ibnu Chaldun Jakarta. Dia pernah bekerja sebagai wartawan dengan posisi terakhir sebelum banting setir adalah koresponden untuk koran Lloyd's List, Inggris. Pada masanya, terbitan ini merupakan rujukan pelaku usaha pelayaran global. Kini, selain mengelola Namarin, dia juga mengajar di beberapa universitas di Jakarta.

Profil Selengkapnya

Siapkah Perusahaan Pelayaran RI Distribusikan Vaksin Covid?

Opini - Siswanto Rusdi, CNBC Indonesia
20 December 2020 15:35
A worker inspects vials of SARS CoV-2 Vaccine for COVID-19 produced by SinoVac at its factory in Beijing on Thursday, Sept. 24, 2020. A Chinese health official said Friday, Sept. 25, 2020, that the country's annual production capacity for coronavirus vaccines will top 1 billion doses next year, following an aggressive government support program for construction of new factories. (AP Photo/Ng Han Guan)

Media massa melaporkan bahwa vaksin untuk menekan wabah Covid-19 sudah keluar dari pabriknya dan siap beredar. Bagi dunia yang selama hampir setahun belakangan berada di bawah kuasa gelap virus corona kabar tersebut jelas amat menggembirakan.

Seluruh negara kini tengah disibukkan dengan bagaimana membangun jejaring logistik agar pendistribusian vaksin itu efektif sampai ke warganya.

Ini tentu saja pekerjaan yang tidak mudah mengingat vaksin-vaksin tersebut harus didistribusikan pada suhu yang sangat rendah. Suhu rendah diperlukan supaya kondisi vaksin tetap stabil.


Vaksin buatan Pfizer dan BioNTech misalnya, diangkut melalui pesawat dan truk dari fasilitas produksi di Belgia ke seluruh dunia. Pabrikan ini membuat kotak khusus yang mampu menyimpan 1.000 hingga 5.000 dosis pada suhu yang minus 70 derajat Celsius hingga 10 hari ke depan.

Kemasan ini dilengkapi transponder/pemancar sehingga dapat dilacak oleh piranti global positioning system (GPS). Vaksinyang dikembangkan Moderna juga harus diperlakukan lebih-kurang sama; disimpan pada suhu di bawah nol, tepatnya pada minus 20 derajat Celsius.

Tetapi, tetek-bengek aspek logistik pendistribusian vaksin Covid-19 tidak hanya sebatas hal di atas. Diperlukan infrastruktur lain mengirim dan menyimpan vaksin pada suhu yang diperlukan. Sebut saja es batu atau freezer (kotak pendingin). Barang-barang ini harus tersedia cukup di sepanjang rantai distribusi atau supply chain agar vaksin tidak kenapa-napa. Beberapa perusahaan distribusi kelas dunia diketahui tengah mempersiapkan kedua penyambung 'nyawa' vaksin tersebut.

Ambil contoh United Parcel Service (UPS). Perusahaan ini telah meningkatkan kapasitas produksi es keringnya menjadi 1.200 pound per jam di tengah kekhawatiran terjadi kekurangan saat meng-handle vaksin. Mereka juga menyediakan freezer yang dapat mempertahankan suhu antara minus 20 derajat Celsius hingga minus 80 derajat Celsius.

Sementara itu, pemain lain, FedEx, telah menyiapkan lebih dari 5.000 pusat distribusi, 80.000 kendaraan pengiriman dan 670 pesawat untuk mendukung upaya distribusi vaksin.

Dukungan dari Federal Aviation Administration (FAA), United Airlines menerbangkan vaksin dari pabrik Pfizer di Belgia ke Chicago untuk menguji tingkat stres atau stress test kemasan dan penanganannya di lapangan terbang. Semua pihak terlihat serius mempersiapkan diri menyambut kedatangan vaksin dengan sebaik-baiknya kendati keampuhan benda yang mereka layani masih menyisakan tanda tanya besar.

Distribusi Laut

Seperti yang tergambar di awal tulisan, sejauh ini pendistribusian vaksin bertumpu pada moda pesawat dan truk. Untuk pesawat, Garuda Indonesia sudah memiliki sertifikatnya.

Namun tidak terdengar oleh penulis, bahkan tahap uji coba sekalipun, moda kapal laut digunakan untuk mendistribusikan vaksin Covid-19.

Seorang teman yang bekerja sebagai eksekutif pada salah satu pelayaran peti kemas global di Jakarta bercerita, saat ini operator pelayaran kontainer tengah memutar otak bagaimana packaging vaksin tersebut bila dimuat ke dalam peti kemas. Setelah aspek ini diketahui, barulah bisa dihitung hal-hal teknis lainnya.

Yang sudah pasti, lanjut sang teman, wadah baja yang dipergunakan adalah tipe refer container atau peti kemas berpendingin. Hanya saja, dia meyakini pendistribusian vaksin Covid-19 akan lebih didominasi sebagian besar, jika tidak mau disebut seluruhnya, oleh moda kapal terbang.

Dengan karakteristiknya yang labil, pendistribusian vaksin Covid-19 memang paling cocok menggunakan pesawat.

Urusan ini bukan 'makanan'nya kapal. Kata kuncinya terletak pada kecepatan. Common sense saja sebetulnya. Barang-barang dengan karakteristik labil seperti vaksin (dalam praktik perlogistikan dikelompokkan sebagai special cargo) harus secepat mungkin dikirim ke tujuan akhirnya dan transporter yang paling tepat untuk itu adalah pesawat. Di samping kalah cepat dari sisi waktu perjalanan atau transit time, kapal juga terhitung ribet urusan proses bongkar-muatnya.

Di tengah amat sangat terbatasnya peluang bisnis pelayaran dalam urusan pendistribusian vaksin Covid-19, muncul suara-suara di dalam negeri yang menguarkan optimisme bahwa jasa ini bisa berperan dalam tugas mulia menyampaikan komoditas yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat itu.

Konsekuensinya, nafas perusahaan pelayaran domestik yang saat ini dihela Senin-Kamis karena pandemi corona bisa lebih longgar karena ada pemasukan yang diperkirakan cukup signifikan. Alias bisa mendulang cuan.

Disinggung juga program tol laut yang akan semakin moncer perannya jika terlibat dalam pendistribusian vaksin Covid-19 karena jejaringnya sudah menyebar di seluruh pelosok nusantara, khususnya di wilayah terluar, tertinggal, terpencil dan perbatasan (3TP).

Yang namanya narasi sah-sah saja. Hanya saja, narasi/optimisme yang baik tentulah harus didukung dengan perhitungan yang cermat. Masalahnya, hitung-hitungan ini yang belum muncul.

Katakanlah, dengan segala keterbatasan yang dimilikinya, pelayaran bisa ikut terlibat mendistribusikan vaksin Covid-19.

Namun, persoalannya tidak selesai sampai di situ. Pelayaran hanyalah salah satu mata rantai dari kegiatan logistik. Dalam kalimat lain, pelayaran hanya bisa mengantarkan vaksin sampai di pelabuhan. Agar vaksin sampai ke end destination (rumah sakit, klinik, dll) masih diperlukan lagi jasa truk, pergudangan dan sebagainya. Dan, truk dan pergudangan ini kualitasnya mesti bukan kaleng-kaleng. Ingat, ini vaksin loh.

Sayangnya, sebagai negara kepulauan dengan tingkat ketersediaan truk dan pergudangan yang cocok untuk distribusi vaksin Covid-19 (yang dilengkapi freezer dengan kemampuan pendinginan hingga minus 80 derajat Celsius) masih jauh dari cukup, proses mengirim vaksin dari pelabuhan ke consignee dalam kondisi yang tetap stabil menghadapi tantangan serius. Vaksin menjadi rentan rusak.

Sekadar pembanding. India memiliki 28.000 unit jaringan penyimpanan dingin (cold chain) yang digunakan pemerintah untuk program imunisasi konvensionalnya. Seperti yang dilaporkan oleh media setempat, para ahli dan perusahaan logistik menilai bahwa tidak ada perusahaan yang memiliki kemampuan atau kapasitas untuk mengangkut vaksin dengan suhu lebih dingin dari minus 25 derajat Celsius.

Kemampuan perusahaan logistik Indonesia dalam menyiapkan cold chain sampai saat ini belum diketahui.

Barangkali nanti juga dibuka kesiapannya. Satu hal sudah jelas, khusus untuk pemanfaatan jaringan tol laut dalam pendistribusian vaksin, persoalannya ada pada ketersediaan reefer yang masih terbatas. Jadi, sulit berharap kepada sektor pelayaran nasional untuk cawe-cawe mendistribusikan vaksin Covid-19.

(tas/tas)
Opini Terpopuler
    spinner loading
Artikel Terkait
Opinion Makers
    z
    spinner loading
Features
    spinner loading