Dzulfian Syafrian
Dzulfian Syafrian

Dzulfian adalah kandidat doktor dan juga staf pengajar di Durham University Business School – Inggris. Sebelum melanjutkan studi doktoralnya, Dzulfian sempat menjadi peneliti ekonomi di berbagai tempat, termasuk Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat FEUI (LPEM FEUI), Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Komisi Pengawas Persaingan Usaha RI (KPPU RI) dan juga Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin Pusat).

Profil Selengkapnya

Badai Telah Berlalu

Opini - Dzulfian Syafrian, CNBC Indonesia
09 April 2019 18:52
Badai Telah Berlalu
Tahun lalu merupakan episode yang cukup berat bagi pengelolaan makroekonomi Indonesia. Selama 2018, rupiah secara umum terdepresiasi cukup signifikan dan menyentuh level terendahnya dalam beberapa tahun belakangan.

Cadangan devisa juga terus tersedot selama 2018 sebagai konsekuensi kebijakan intervensi pasar uang untuk menjaga pelemahan rupiah agar tidak terlalu jatuh lebih dalam. Terlebih, konteksnya tahun lalu memang negara-negara emerging markets (EMs), seperti Turki dan Argentina telah mengalami krisis mata uang yang cukup serius, dan bukan tidak mungkin Indonesia terjangkit virus serupa.

Kini, dalam beberapa bulan terakhir awan mendung dan badai topan nampak sudah menghilang dari perekonomian nasional. Perlahan tapi pasti, berbagai indikator ekonomi terus membaik, seperti menguatnya IHSG, menurunnya imbal hasil surat utang dan ter-apresiasinya rupiah terhadap dolar AS.


Melambat

Meskipun demikian, faktor eksternal akan terus menghantui perekonomian nasional. Dalam beberapa minggu terakhir perekonomian global mengindikasikan perlambatan yang membuat pasar menjadi lebih pesimis menatap 2019 dan 2020.

Terlebih bank sentral AS, the Fed, juga telah memberikan sinyal untuk menahan suku bunganya (Fed Rate) dalam jangka pendek. Tidak menutup kemungkinan the Fed akan memotong suku bunganya jika perekonomian AS terus melambat di bawah ekspektasi.

Pasar juga telah merespon sinyal perlambatan ini. Hal ini dapat dilihat dari imbal hasil surat utang jangka panjang (long-term bond yield) terus mengalami penurunan. Di sisi lain, imbal hasil surat utang jangka pendek (short-term bond yield) justru mengalami kenaikan. Alhasil, kurva imbal hasil surat utang (yield curve) yang awalnya memiliki derajat kemiringan (slope) positif kini mulai menjadi datar dan menuju negatif. Fenomena ini dikenal dengan istilah inversi kurva imbal hasil (inverted yield curve).

Inversi kurva imbal hasil merupakan salah satu indikator utama untuk memprediksi resesi ekonomi. Sejarah mencatat bahwa hampir di setiap resesi perekonomian global, selalu diawali oleh fenomena inversi kurva imbal hasil yang awalnya positif menjadi negatif.

Selisih imbal hasil (yield spread) antara utang jangka pendek (tenor 3 bulan) dan jangka panjang AS (tenor 10 tahun) terus mengecil. Bahkan data terakhir telah menyentuh -3,5 basis points yang dapat diartikan bahwa perekonomian AS akan mengalami perlambatan atau bahkan resesi.

Meskipun demikian, proporsi perubahan selisih kurva imbal hasil masih jauh lebih rendah dibanding periode-periode sebelumnya. Hal ini mengindikasikan bahwa resesi belum akan terjadi dalam waktu dekat, meskipun perlambatan ekonomi akan terus berlangsung.

Kebijakan Ekspansif

Lantas apa yang mesti dilakukan Indonesia dalam merespon perkembangan perekonomian terbaru seperti saat ini? Ada dua kebijakan ekspansif utama yang dapat segera dilakukan. Pertama, sudah saatnya Bank Indonesia menurunkan suku bunganya. Semenjak November 2018, suku bunga BI bertengger di level 6%.

Ketakutan atas kembali naiknya suku bunga AS, ancaman modal keluar dan pelemahan rupiah masih, nampaknya masih menjadi perhatian utama BI. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Gubernur BI Januari lalu di World Economic Forum (WEF) yang menyatakan bahwa BI berekspektasi akan ada dua kali kenaikan suku bunga AS selama 2019.

Padahal, jika kita lihat tren perekonomian belakangan ini, kenaikan suku bunga the Fed nampaknya tidak akan terjadi selama 2019. Pun jadi, the Fed sepertinya hanya akan menaikkan satu kali dan itu pun akan terjadi di semester kedua atau penghujung tahun ini mengingat perlambatan ekonomi AS dan dunia yang sedang terjadi baru-baru ini.

Di sisi lain, kepercayaan pasar sudah mulai pulih. Hal ini terlihat dari menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam lima bulan terakhir. Begitu pula, indeks harga saham gabungan (IHSG) juga terus menguat. Jadi, inilah saat yang tepat bagi BI untuk memotong suku bunganya.

Kedua, Pemerintah mesti melanjutkan proyek-proyek infrastruktur yang tertunda. Ketika rupiah terus melemah tahun lalu dan menyentuh level Rp15 ribu per dolar AS, Pemerintah memutuskan untuk menunda proyek-proyek infrastruktur yang memiliki kuota impor tinggi, khususnya proyek-proyek ketenagalistrikan. Mengingat rupiah yang terus membaik dan badai eksternal yang mereda, sudah saatnya proyek-proyek tersebut dilanjutkan kembali mengingat pentingnya ketersedian listrik bagi perekonomian nasional, khusunya meningkatkan investasi dan produktivitas.

Singkat kata, ada dua hal yang ingin disampaikan dalam tulisan singkat ini. Pertama, hantaman eksternal relatif telah menurun, badai telah berlalu. Perekonomian global, termasuk AS di 2019 dan 2020 diprediksi akan melambat dibanding tahun lalu. Kedua, momentum ini harus dimanfaatkan Pemerintah dan BI untuk menerapkan kebijakan ekonomi ekspansif guna mempercepat laju ekonomi nasional.

(dru)
Opini Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading