Murdianto
Murdianto

Berkarir di Bank Indonesia sejak 2005 di bidang perumusan kebijakan perbankan. Sejak 2017 sampai sekarang sebagai Analis Fungsi Koordinasi dan Komunikasi Kebijakan Bank Indonesia Provinsi Riau.

Profil Selengkapnya

Jalan Panjang RI Jadi Tuan Rumah Sidang IMF-WB 2018

Opini - Murdianto, CNBC Indonesia 19 September 2018 09:59
Jalan Panjang RI Jadi Tuan Rumah Sidang IMF-WB 2018
Sidang Tahunan IMF dan World Bank (ST IMF-WB) merupakan forum internasional yang membahas isu-isu utama perekonomian global seperti outlook ekonomi global, stabilitas keuangan global, kemiskinan, pembangunan, lapangan kerja, perubahan iklim serta isu global lainnya. Kegiatan ini dihadiri oleh gubernur dan pejabat bank sentral, menteri dan pejabat kementerian keuangan dan pembangunan, sektor swasta, investor dan akademisi se-antero dunia.

ST IMF-WB digelar untuk pertama kalinya pada 1947 di London, Inggris. Forum ini memiliki pakem atau kebiasaan penyelenggaraan dengan rumus 2+1. Tentu bukan formasi layaknya kesebelasan tim sepak bola. Rumus 2+1 artinya ST IMF-WB diselenggarakan oleh negara tuan rumah secara bergantian yaitu: dua tahun berturut-turut diselenggarakan di Washington DC, Amerika Serikat, dan satu tahun diselenggarakan di luar Amerika Serikat.

Dengan kata lain, kesempatan menjadi tuan rumah ST IMF-WB diperebutkan oleh negara-negara selain Amerika Serikat setiap tiga tahun sekali!


Menjadi tuan rumah perhelatan forum internasional setingkat ST IMF-WB tentu bukan masalah remeh. Apalagi kegiatan ini akan dihadiri sekitar 15.000 delegasi dari 189 negara. Kali ini, pemerintah Indonesia mampu meyakinkan pentolan IMF dan World Bank untuk menyerahkan tugas sebagai tuan rumah ST IMF-WB, Oktober 2018. Capaian itu bukan tanpa perjuangan, karena untuk dipercaya menjadi tuan rumah ST IMF-WB 2018, Indonesia harus melalui serangkaian seleksi yang panjang dan menguras energi.

Bak kontes kecantikan ratu sejagad, pemerintah Indonesia menampilkan kebolehan di hadapan tim penilai. Hingga akhirnya Indonesia terpilih menjadi tuan rumah ST IMF-WB 2018.

Delegasi yang hadir di pertemuan akbar pelaku ekonomi ini sebagian besar berasal dari unsur pengambil kebijakan dan pemangku kepentingan di bidang keuangan, maka selain agenda sidang utama, kegiatan akan diwarnai berbagai pertemuan dan forum diskusi. Dari pertemuan bilateral antar negara, forum diskusi ekonomi dan keuangan, sampai pertemuan antar lembaga keuangan tingkat dunia. Total pertemuan diperkirakan mencapai 2.000 forum yang berlangsung secara simultan sepanjang bergulirnya ST IMF-WB 2018 di Bali.

Penyelenggaraan ribuan forum pertemuan dalam waktu nyaris bersamaan pasti membutuhkan persiapan paripurna. Berbagai infrastruktur dan koordinasi diperlukan demi suksesnya acara. Tidak dapat dibayangkan jika salah satu agenda meleset karena kesalahan tuan rumah. Tentu komplain akan berdatangan dan mencoreng citra dan prefesionalisme Indonesia sebagai tua rumah.

Terpilih Karena Prestasi

Di antara negara ASEAN-5, Indonesia menjadi negara keempat setelah Filipina (1976), Thailand (1991) dan Singapura (2006) lebih dulu dipercaya menjadi tuan rumah ST IMF-WB 2018.
Perjuangan panjang bermula di tahun 2014, ketika pemerintah Indonesia mengajukan proposal untuk menjadi tuan rumah ST IMF-WB 2018. Bermodal berbagai pencapaian pembangunan, utamanya di bidang ekonomi, Indonesia percaya diri mengajukan penawaran sebagai tuan rumah ST IMF-WB 2018.

Kerja keras tersebut kini membuahkan hasil dengan masuknya Indonesia dalam daftar pendek (shortlisted candidate) calon tuan rumah ST IMF-WB 2018 pada April 2015 bersama Mesir dan Senegal.

Ketiga negara ini menyisihkan negara-negara lain yang turut bersaing memperebutkan posisi tuan rumah. Bukan masalah ringan untuk bersaing dengan Mesir dan Senegal karena masing-masing memiliki keunggulan. Hingga akhirnya Indonesia melenggang menyisihkan 2 negara pesaingnya dan terpilih sebagai tuan rumah ST IMF-WBG 2018 yang akan digelar mulai 8 Oktober 2018 di Nusa Dua, Bali.

Tahapan pengajuan proposal sebagai tuan rumah dimulai pada September 2014 dan dilakukan evaluasi oleh tim penilai pada Desember 2014. Selanjutnya tim penilai menetapkan daftar pendek calon tuan rumah (Indonesia, Mesir dan Senegal) pada April 2015. Proses evaluasi dan asesmen terus berlangsung untuk menilai kesiapan ketiga negara tersebut. Dari mulai capaian ekonomi, kondisi sosial dan politik, sampai kesiapan infrastruktur pendukung tak luput dari kriteria penilaian oleh tim. Hingga pada Oktober 2015 Indonesia ditetapkan secara resmi sebagai tuan rumah ST IMF-WB 2018.

Tentu saja, itu poin-poin penilaian formal yang masuk dalam daftar kriteria penilaian resmi oleh tim. Di luar itu tentu ada kriteria "non-formal" yang cenderung bersifat subyektif sesuai preferensi tim penilai. Contoh saja, pertanyaan sederhana seperti, apakah terdapat banyak destinasi wisata di Bali dan sekitarnya yang bisa dikunjungi? apakah terdapat khas kuliner dan souvenir yang menarik? Bahkan mungkin pertanyaan yang sensitif seperti, apakah Bali sudah cukup aman dari bom bunuh diri dan aksi terorisme lainnya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut patut dipertimbangkan. Karena pada asasnya pada setiap interaksi manusia selalu menginginkan hasil akhir yang positif dan berkesan (happy ending).

Daya Tarik Bali yang Aduhai

Bali dipilih sebagai tempat penyelenggaraan ST IMF-WB 2018 tentu bukan tanpa alasan. Di tengah kelesuan ekonomi global, Indonesia tengah berupaya menggenjot pertumbuhan ekonomi melalui sumber-sumber baru, antara lain sektor pariwisata. Bali memiliki sejuta pesona wisata yang digemari banyak pelancong mancanegara. Bali juga memiliki magnet besar untuk menarik perhatian mata dunia dan menempatkan Bali sebagai salah satu ikon pariwisata Indonesia kelas dunia.

Potensi wisata yang ditawarkan Bali memiliki keunggulan tersendiri. Berbagai jenis wisata alam bisa dinikmati seperti wisata bahari, wisata cagar alam, wisata konvensi, atau wisata pertanian. Daya pikat Bali tidak hanya datang dari keindahan alam yang memesona, namun didukung kearifan budaya lokal yang hangat dan bersahaja.

"Keramahan" Bali diharapkan dapat menyapa seluruh delegasi ST IMF-WB 2018 dan meninggal kesan positif mereka terhadap Bali dan Indonesia pada akhirnya.

Berbagai kalkulasi telah dilakukan untuk menghitung potensi penerimaan negara dari penyelenggaraan ST IMF-WB 2018. Bappenas memprediksi belanja yang akan dikeluarkan oleh para delegasi selama tinggal di Bali mencapai Rp 943,5 miliar.

Namun angka tersebut baru dari satu sisi potensi pemasukan dari belanja delegasi. Sementara dari dimensi nonekonomi, posisi Indonesia sebagai tuan rumah ST IMF-WB 2018 akan mendongkrak posisi tawar Indonesia terhadap negara lain.

Sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, Indonesia segera menjadi tuan rumah ST IMF-WB 2018 pada Oktober mendatang. Kesuksesan Indonesia dalam penyelenggaraan ST IMF-WB 2018 dapat memengaruhi citra Indonesia di kancah global. Citra Indonesia yang posistif dipastikan menentukan posisi strategis Indonesia dimata dunia.

Tidak hanya untuk bangsa Indonesia, bahkan kesuksesan Indonesia dalam penyelenggaraan ST IMF-WB 2018 turut menegaskan eksistensi ASEAN sebagai salah satu pilar penopang ekonomi dunia.



(dru)
Opini Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading