Fithra Hastiadi
Fithra Hastiadi

Fithra Faisal Hastiadi memperoleh gelar sarjana ekonomi di bidang Ekonomi dari Universitas Indonesia sebelum melanjutkan studinya ke Universitas Keio, Jepang. Dia kemudian meraih gelar PhD dari Universitas Waseda di jepang dalam bidang ekonomi perdagangan internasional. Saat ini beliau menjabat sebagai Staf Ahli Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia.

Profil Selengkapnya

Menanti Rupiah di Garis Akhir

Opini - Fithra Hastiadi, CNBC Indonesia 27 August 2018 19:14
Menanti Rupiah di Garis Akhir
Sirkuit Nurbugring di Jerman tergolong salah satu sirkuit paling berbahaya didunia. Betapa tidak, tak terhitung sudah puluhan pembalap meregang nyawa akibat sirkuit yang berjuluk "The Green Hell" ini. Bahkan seorang pembalap sekelas Niki Lauda pun pernah celaka besar yang membuat sebagian wajahnya cacat permanen. Rupiah kini ibarat berada dalam lintasan Nurbugring yang jika kurang awas bias berujung celaka. Mampukah rupiah bertahan hingga garis akhir? Atau jangan-jangan malah terperosok dilibas bahaya.

Belum selesai tekanan dari perang dagang dan ancaman suku bunga yang dipicu Amerika Serikat, Rupiah harus kembali tertekan sebagai akibat dari rekan sesama emerging markets (EM) Turki. Lira yang tertekan memiliki efek idiosinkratik kepada Indonesia yang berada pada satu keranjang EM bersama dengan Turki, Brazil, India. Meski tekanan telah mereda, namun efek kelembaman ekspektasi masih tetap menjalar dalam. Belum lagi ditambah dengan rentang Neraca Akun Semasa (Current Account Deficit) yang malah semakin lebar. Dua hal yang pasti, pertumbuhan utang luar negeri dan melebarnya rentang neraca akun semasa telah membuat perekonomian Turki dan Argentina menjadi bulan-bulanan para spekulan, bagaimana dengan Indonesia? Indonesia ternyata hanya di keluk jalan, meski masih terhitung aman namun harus tetap awas.

Perlu diketahui bahwa tekanan pada rupiah sebenarnya bukan hanya permasalahan dari sisi moneter saja, faktor domestik juga cukup berperan. Tekanan pada neraca akun semasa yang dipicu oleh kinerja ekspor yang suboptimal merupakan salah satu biang keladi. Hal ini pada gilirannya menimbulkan tekanan yang cukup persisten, sehingga jika tidak dibenahi maka permasalahan pada nilai tukar akan selalu membayangi di masa depan. Indonesia tidak bisa tidak, harus mampu merangsang kontribusi sektor industrinya terhadap GDP yang saat ini tumbuh lekat tanah. Namun, membenahi ini tidak cukup satu periode presiden, butuh waktu dan butuh kesabaran.


Kalau sudah begitu, tantangan terdekat yang perlu dihadapi adalah faktor ekspektasi. Untuk meredam ekspektasi yang liar, yang terkadang berubah menjadi spekulasi jahat, seorang ekonom pemenang nobel kesohor, Paul Krugman, pernah memberikan sebuah resep mujarab. Krugman berpendapat bahwa tidak bisa tidak, aksi spekulasi harus segera dipangkas oleh kontrol modal (capital control) yang melekat tegas. Krugman adalah salah satu orang yang paling layak untuk didengar mengingat pengalaman serta penelitiannya mengenai krisis yang sudah sedemikian masyhur. Dia telah merumuskan tiga model teori krisis dari mulai model kanonikal hingga model generasi ketiga yang diinspirasi oleh krisis keuangan Asia pada tahun 1998.

Pendapat Krugman boleh jadi sebuah antitesa tren arus lalu lintas modal bebas namun pengalaman Malaysia dan Korea Selatan di tahun 1998 serta Argentina di tahun 2002 bahkan Turki di awal minggu ini menjadi bukti sahih ampuhnya kontrol modal tersebut untuk melipat aksi spekulasi yang berlebihan. Tentu kontrol modal ini sifatnya sangat temporer mengingat jika digunakan secara berlebihan malah akan menjadi kontraproduktif. Sehingga menurut Krugman, yang menjadi mantra kebijakan adalah bersifat heterodoks di jangka pendek sembari menjamin kredibilitas kebijakan yang bersifat ortodoks dijangka panjang.

Argumen Krugman sejatinya tidak benar-benar baru, adalah James Tobin seorang pemenang nobel dan "die hard" nya Keynes yang pertama kali memberikan sebuah istilah teknis yang tersohor dengan nama "Tobin Tax". Idenya adalah bagaimana arus modal jangka pendek bisa ditahan dengan sebuah sanksi (pajak) pada setiap aksi transaksi spekulatif di jangka pendek.

Hal ini memang cukup kontroversial jika diterapkan mengingat kemungkinan efek negatifnya yang juga lumayan besar. Pembuat kebijakan perlu dibekali keahlian tinggi sebagaimana Sean Boswell dalam Sekuel film Fast and Furious Tokyo Drift, dibekali tekni nge-drift tingkat tinggi oleh Han untuk bisa berkompetisi dengan "the drift king" Takashi. JIka Sean adalah Pembuat kebijakan dan Takashi adalah spekulan, maka Teknik drift yang dimaksud adalah kontrol modal.

Jika tidak berhati-hati maka jurang menanti. Potensi kehilangan kepercayaan internasional tinggal disela nadi yang berujung arus deras modal keluar. Mengerikan!

JIka demikian, apakah pemerintah memiliki keberanian tersebut? Jika tobin tax terdengar terlalu menakutkan, maka sebenarnya ada solusi lain berupa "reverse tobin tax" yang mana pada prinsipnya masih berlokus pada kontrol modal namun dengan perspektif yang berbeda. Kebijakan ini memberikan insentif kepada para pemodal jika mereka mau berlama-lama tinggal di Indonesia dengan melakukan investasi jangka Panjang.

Bagaimana dengan Bank Indonesia? Apakah kenaikan 7 days repo rate secara agresif adalah langkah yang tepat? Rupanya, jika melihat tren historikal, karakter rupiah terhadap kenaikan suku bunga cenderung non-monotonic. Karakter yang non-monotonic ini menyiratkan bahwa kenaikan suku bunga yang tidak terlalu tinggi akan memiliki kecenderungan untuk membuat rupiah terapresiasi namun kenaikan yang agresif justru membuat rupiah terdepresiasi.

Ibarat Panadol, cukup diminum 3 kali sehari, jika lebih maka efeknya malah bisa merusak tubuh. Bank Indonesia bersama pemerintah sebenarnya telah sadar betul bahwa pilihan kebijakan kontraktif akan mengorbankan target pertumbuhan ekonomi di tahun ini. Suku bunga memang pada saatnya nanti harus dinaiikan sebagai respon dari apa yang dilakukan The Fed, namun saya lebih menyarankan Bank Indonesia untuk lebih wait and see sembari menghemat peluru.

Saya hanya khawatir nanti kita akn terlalu cepat kehabisan peluru sebagai strategi tit for tat dengan The Fed karena secara tren historis, elastisitas kenaikan suku bunga terhadap nilai tukar semakin kecil. Sehingga, pada gilirannya nanti kebijakan moneter super ketat akan kehilangan efektifitasnya. Alih-alih membuat keadaan semakin membaik, ekspansi kredit di jangka panjang akan semakin terkendala akibat naiknya cost of financing. Hal ini juga memberikan tekana pada bursa efek mengingat para perusahaan emiten akan tergerus fundamentalnya di jangka panjang. All in all, ongkos kebijakan bias jadi melampaui keuntungan yang didapat.

Pada akhirnya, kebijakan ekonomi mewujud bagai seni menekan pedal rem dan gas yang akan menghasilkan keseimbangan baru di masa mendatang. Pedal gas ditekan dalam dijalan yang bersih dan lurus sementara laju ditahan ketika berada di ujung keluk. Indonesia, sebagaimana yang saya sampaikan diatas, tengah berada di keluk jalan sehingga diperlukan stabilitas sembari berancang-ancang melaju pada putaran berikutnya. (dru)
Opini Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading