Fithra Hastiadi
Fithra Hastiadi

Fithra Faisal Hastiadi memperoleh gelar sarjana ekonomi di bidang Ekonomi dari Universitas Indonesia sebelum melanjutkan studinya ke Universitas Keio, Jepang. Dia kemudian meraih gelar PhD dari Universitas Waseda di jepang dalam bidang ekonomi perdagangan internasional. Saat ini beliau menjabat sebagai Staf Ahli Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia.

Profil Selengkapnya

Siapa Bakal Jadi Juara Dunia?

Opini - Fithra Hastiadi, CNBC Indonesia 15 July 2018 18:33
Siapa Bakal Jadi Juara Dunia?
Beberapa hari ini di negeri panda saya terpaksa melalui hari dengan double job. Pagi sampai sore menjadi delegasi Indonesia dalam forum diskusi blue print ASEAN Plus Three (APT) sementara malam hari "disewa" oleh delegasi Singapura, Kamboja, dan Myanmar untuk menjadi komentator pertandingan piala dunia.

Saya rasa mereka jauh lebih antusias ketika mendengarkan saya berbicara tentang taktik dan strategi pertandingan piala dunia ketinbang mendengarkan presentasi mengenai roadmap APT dan dampak perang dagang. Ternyata adagium lawas bahwa "ASEAN is going nowhere" memang tidak salah (smile).

Beberapa diantara pembahasan saya bersama beberapa delegasi ASEAN, China, Jepang dan Korea ketika melepas penat sejenak dari program ketat di china bisa saya sampaikan dalam artikel ini. Kebetulan malam ini adalah pertandingan final antara kroasia kontra perancis. Siapa bakal menang?


Mari terlebih dahulu kita bahas mengenai kroasia. Sampai pada titik ini pun, tim besutan Zlatko Dalic ini sebenarnya telah melampaui pencapaian generasi emas tim 1998 ketika Davor Suker dan kawan kawan menggondol medali perunggu di Perancis. Adalah momen penuh memori ketika Davor Suker menggigit medali sembari menunjukkan wajah sumringahnya kepada awak media.

Kepuasan tim Vatreni ini tentu bukan tanpa alasan, medali perunggu piala dunia digondol oleh negara yang bahkan belum genap sewindu lepas dari Yugoslavia, menjadi negara baru. Barulah setelah dua dekade berlalu, Kapten Modric membuktikan bahwa pencapaian Kroasia tahun 1998 bukan sebuah kebetulan. Tim yang selalu disesaki bakat balkan ini baru menuai hasil ditahun 2018 dengan mengangkangi Inggris di babak empat besar. Patut dicatat, bahwa terakhir kali tim tiga singa mencapai semifinal, kroasia bahkan belum lahir sebagai negara independen!

Apa resep Zlatko Dalic? Saya melihat bahwa tim Kroasia jauh lebih punya kreativitas ketimbang timnya southgate yang bermain terlalu monoton dengan hanya mengandalkan sektor sayap. Sudah dari jauh hari saya meramalkan bahwa kalaupun timnas Inggris mampu melampaui swedia, kroasia akan menunggu di semifinal dan akan mencabik cabik tim ini.

Benar saja, ketika pertandingan Rakitic dan Modric mampu mengorkestrasi lini tengah, sang vatreni sembari secara lugas mentransmisikan instruksi Dalic dari pinggir lapangan untuk secara fleksibel merubah formasi ketika menyerang dan bertahan.

Faktor lainnya, Dalic tampak menyadari formasi yang dipakainya ketika melawan Rusia tampak tidak seimbang, karena baik Rakitic dan Modric tidak memiliki atribut defensif yang baik. Faktor Marcelo Brozovic sang pemain Intermilan yang menggantikan Andrej Kramarić merupakan sebuah kepingan hilang yang moncer dipakai ketika laga bentrok dengan Inggris.

Tim Kroasia bermain lebih seimbang dan menjadikan Modric dan Rakitic, duo jagoan dari Madrid dan Barcelona, bermain lebih menyerang dan agresif. Tak hanya atribut defensif dari Brozovic yang menjadi faktor krusial, adalah chemistrynya dengan Ivan Perisic yang telah terbangun ketika bersama sama bermain untuk tim la beneamata intermilan membuat permainan semakin padu dan cair. Adapun kelemahan dari tim ini adalah stamina yang terkuras semenjak harus bermain hingga babak tos tos-an dengan sang Tuan rumah Rusia.

Barisan pertahanan juga menyisakan celah pada sosok dejan lovren. Semenjak bermain untuk liverpool, permainan Lovren cenderung tidak konsisten dan sering dituding menjadi sumber dari rapuhnya pertahanan klub the reds. Bayangkan saja, dari 139 kali tampil, timnya telah kebobolan sebanyak 144 kali!

Bagaimana dengan Perancis? Sedari awal saya sudah memprediksikan bawa perancis akan mulus mencapai final. Kecuali Giroud dan Pogba, secara statistik pemain-pemain timnas perancis sangat mencengangkan. Untuk menuju Final, tim ayam jantan ini juga terbukti mampu menjungkalkan tim-tim tangguh semisal Argentina-nya Messi, Uruguay dengan Suarez dan Cavani nya, dan juga Belgia yang meluluh lantakkan tim unggulan Brazil!

Adalah faktor pogba yang mulai nyetel dengan skema deschamps serta Ngolo Kante sang tukang bersih-bersih yang menjadi nyawa lini tengah perancis. Pogba memang bermain kurang konsisten untuk Manchester United di dua musim terakhir, sebagian orang menilai Pogba terlalu terbebani ongkos angkutnya dari Juventus yang kelewat mahal. Tapi menurut saya bukan itu faktornya, pogba yang mandeg lebih karena Mourinho, sang pelatihnya di MU, terlalu membebankan tugas bertahan yang terlalu saklek. Posisi Pogba bagi sebagian orang adalah enigma? Adalah Patrick Vierra sang mestro lini tengah perancis yang menurut saya berhasil mendefinisikan Pogba dengan sebenar benarnya. "Compared to me, Pogba is more attacking, whereas I was more defensively-minded,"

Perancis juga punya Kante yang digadang gadang menjadi jelmaan claude makalele. Pentingnya makalele untuk perancis dan juga klubnya bisa kita lihat dari terciptanya sebuah posisi unik yang disebut "Makalele Role". Sebuah posisi yang merevolusi peran gelandang bertahan dalam sepakbola modern. Mungkin banyak yang lupa bahwa Makelele pernah bermain untuk madrid dan mampu memboyong dua gelar liga spanyol. Adalah nama nama seperti zidane, raul, Luiz Ronaldo serta Figo yang membuat nama makelele seakan tenggelam meskipun peranannya dikala itu sangat krusial.

Peran makelele pernah sangat diremehkan dan bisa kita lihat dari pernyataannya florentino perez, presiden madrid dikala itu "We will not miss Makélelé. His technique is average, he lacks the speed and skill to take the ball past opponents, and ninety percent of his distribution either goes backwards or sideways. He wasn't a header of the ball and he rarely passed the ball more than three metres. Younger players will arrive who will cause Makélelé to be forgotten"

Melihat intan berkilauan, claudio ranieri kemudian memboyong Makelele ke Chelsea dan menjadi salah satu pilar penting Chelsea di masa masa berikutnya. Bagaimana dengan Kante? Kejelian Ranieri jugalah yang memboyongnya ke leceister dari Klub antah berantah perancis Caen dengan ongkos angkut yang sangat murah, 5.6 juta euro saja!

Menurut data transfermarkt setidaknya nilai Kante sekarang sudah berada di kisaran 60 juta euro! Pentingnya peran Kante bagi klubnya bisa kita lihat dengan pencapaiannya sebagai pemain pertama yang menjuarai liga inggris dengan klub berbeda back to back sejak sang senior Eric Cantona yang melakukannya ditahun 1992 dan 1993.

Selain Pogba dan Kante, les blues juga dianugerahi sumberdaya pemain yang melimpah dari kiper, pemain bertahan dan pemain tengah dan depan. Tengok saja Griezman, lemar, umtiti, varane, lloris, matuidi dan mbape adalah pemain pemain pilar untuk klubnya masing masing. Secara permainan, timnas perancis bermain lebih efektif dan tidak terlalu dominan.

Bisa kita lihat penguasaan bola tim ayam jantan ini hampir selalu kalah dari lawan lawannya. Tetapi tim ini adalah tim yang paling jeli melihat peluang. Kecean mbape, dan griezman juga menjadi faktor yang penting bagi efektifitas penyerangan timnas perancis. Selain faktor teknis, adalah faktor Deschamps yang juga bisa menjadi penentu. Sang kapten perancis ketika menjadi juara dunia tahun 1998 tentu menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi tim ini.

Jika zidane sang kompatriot deschamps telah menjelma menjadi salah satu pelatih terbaik didunia dengan tiga tahun beturut turut menggondol liga champions bersama real madrid, saya melihat deschamps memiliki kesempatan yang sama untuk Perancis.

Tetapi ini hanyalah dugaan dari ekonom, yang sebenarnya tak jauh beda dari dukun (gus)
Opini Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading