Fithra Hastiadi
Fithra Hastiadi

Fithra Faisal Hastiadi memperoleh gelar sarjana ekonomi di bidang Ekonomi dari Universitas Indonesia sebelum melanjutkan studinya ke Universitas Keio, Jepang. Dia kemudian meraih gelar PhD dari Universitas Waseda di jepang dalam bidang ekonomi perdagangan internasional. Saat ini beliau menjabat sebagai Staf Ahli Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia.

Profil Selengkapnya

Siapa Menang Perang?

Opini - Fithra Hastiadi, CNBC Indonesia 10 July 2018 17:18
Siapa Menang Perang?
Menjelang kepergian saya ke China untuk menghadiri pertemuan Network of East Asia Think Tank (NEAT) Working Group, tiba tiba muncul notifikasi whatssap dari salah seorang awak media. Dia meminta saya untuk hadir di hari senin untuk berbicara mengenai perang dagang live di studio nya di bilangan Gatot Subroto. Pada akhirnya saya menolak dengan sopan karena sudah terlanjur membuat janji.

Pertemuan NEAT di Cina bukan hanya memblok jadwal saya selama seminggu ke depan, tetapi juga memblok semua saluran media social serta data-data saya di cloud karena adanya kebijakan "Great Firewall". Duh!

Tiba kemudian saya di Dalian, sebuah kota terletak tak jauh dari pantai di provinsi Liaoning. Sebuah kota yang jika kita cek di buku sejarah, penuh dengan kisah menarik. Salah satu peristiwa yang saya ingat sampai sekarang adalah ketika Jepang mengalahkan Rusia pada tahun 1905 dalam perang yang menandakan kebangkitan Asia. Betapa tidak, Rusia dengan pasukan yang terbilang salah satu terbaik di zamannya, dikalahkan oleh Jepang yang sebelumnya tidak diperhitungkan. Dikala itu, Dalian masih bernama Port Arthur.


Secara literal, Dalian memiliki arti "the Great Connection" yang mana saya kira ini sebuah "gimmick" yang sangat penting untuk Indonesia dan juga ASEAN PLUS terkait penguatan wilayah dalm rangka bertahan dalam perang dagang. Meskipun demikian, kita harus sadar bahwa dalam perang tidak ada yang menang. Perhitungan saya, pertumbuhan ekonomi dunia hanya akan tumbuh maksimal 3,1 persen jika dampaknya meluas di tahun ini. Angka ini tentu merupakan koreksi atas ramalan pertumbuhan ekonomi IMF sebesar 3,9 persen.

Apakah ada cara lain? Kebijakan moneter hanya berlaku di jangka pendek, itupun efeknya sangat terbatas pada nilai tukar, meski pada gilirannya nilai tukar tertransmisi dengan baik ke jalur perdagangan internasional. Meski demikian, kita juga harus paham atribusi kebijakan moneter terhadap nilai tukar yang secara empiris terbukti non-monotonic. Karakter yang non-monotonic ini menyiratkan bahwa kenaikan suku bunga yang tidak terlalu tinggi akan memiliki kecenderungan untuk membuat rupiah terapresiasi namun kenaikan yang agresif justru membuat rupiah terdepresiasi.

Bagaimana dengan kebijakan fiskal? Saya rasa pengaruhnya juga cukup terbatas di jangka pendek. Adapun beberapa alternatif kebijakan fiskal di jangka menengah dan panjang bisa dalam bentuk dukungan terhadap infrastruktur dan industrialisasi yang mana tentu perlu waktu dan perlu kesabaran.

Di tengah keadaan yang miskin pilihan, konsep penguatan wilayah dalam kerangka komunitas besar di Asia timur tentu perlu sangat dipertimbangkan. Jika hanya mengandalkan ASEAN, efeknya tidak akan terlalu terasa mengingat hasil perhitungan dampak "trade creation" yang saya lakukan untuk ASEAN memberikan hasil yang tidak terlalu signifikan.

Tengok saja porsi perdagangan intra regional untuk ASEAN, masih dibawah 25 persen. Angka ini terbilang buruk jika dibandingkan Uni Eropa yang hampir mencapai 70 persen. Namun, jika kita memperbesar cakupan perdagangan dengan melibatkan China, Jepang dan Korea maka angkanya menjadi cukup menjanjikan! 60 persen lebih dari total perdagangan di wilayah ini terjadi di dalam wilayah, sementara sisanya dengan negara lain. Bahkan menurut proyeksi yang saya lakukan, pada tahun 2035 nanti porsi perdagangan intra regional akan mencapai 70 persen! Sebuah prospek yang cerah untuk ASEAN Plus Three.

Hanya saja, perlu dipertimbangkan bahwa jalinan ikatan yang selama ini terjadi masih didorong oleh kebutuhan pasar (market driven) bukan karena dorongan institusi (institution driven). Padahal, menurut pemaparan empirik yang tertuang dalam buku saya "Trade Strategy in East Asia from Regionalization to Regionalism" terbitan Palgrave Macmillan, ikatan institusi lebih menjanjikan kestabilan dijangka panjang ketimbang ikatan pasar. Contoh sederhananya, pada saat anda pacaran akan lebih mudah untuk gonta ganti pacar bukan ketimbang ketika sudah terikat janji suci pernikahan? Jadi, ikatan pasar saja tidak cukup, perlu ada cincin yang terikat dalam bentuk institusi.

Tetapi, untuk mengikat semua jalannya cukup terjal. China, Jepang dan Korea punya sejarah pelik yang membatasi ruang gerak mereka. Berbeda dengan kebanyakan negara ASEAN yang tidak punya masalah dengan mantan penjajahnya, China dan Korea punya dendam kesumat pada Jepang. Jika anda dengan mudahnya bisa mendukung Jepang atau Belanda dalam piala dunia, jangan harap itu akan terjadi kepada China dan Korea terhadap Jepang. Itulah sebabnya kenapa perjanjian trilateral yang melibatkan negara ini selalu mandeg.

Jika sudah seperti itu, maka ASEAN sudah seharusnya lebih berperan untuk menyatukan wilayah ini. Adalah "The ASEAN Way" yang bisa menjadi solusi atas mandegnya perundingan, sebagaimana argumentasi Professor Zhu Caihua dalam forum NEAT. Sifat ASEAN yang penuh fleksibilitas dan kekeluargaan bisa diadopsi secara lebih luas dalam kerangka ASEAN plus Three. Jika diartikan secara literal, sifat malas dan seenak gua komunitas ASEAN itulah yang membuat Cina, Jepang dan Korea tertarik menggunakan pendekatan ini.

Tentu tidak pernah terfikir bagaimana orang malas bisa menginspirasi orang yang rajin. Jangankan anda, sayapun awalnya heran mendengar solusi ini, meski kemudian harus mengangguk setuju. Sekarang pertanyaanya, siapa yang bisa mengambil posisi kepemimpinan di ASEAN? Secara defacto, Indonesia pantas menjadi andalan, meskipun tentu agresifitas Indonesia dalam forum kerjasama ekonomi internasional perlu diragukan.

Betapa tidak, data utilisasi kerjasama ekonomi yang jumlahnya tidak seberapa itu saja menunjukkan angka yang suboptimal, rata-rata hanya terutilisasi 30-an persen. Jauh dibanding negeri jiran semisal Malaysia, Thailand, Vietnam, Filipina apalagi Singapura. Melihat situasi perang dagang yang semakin liar, maka Indonesia sudah tidak ada pilihan lain, gerakannya sangat diharapkan bukan hanya untuk rakyat Indonesia tetapi juga segenap penghuni ASEAN dan sekitarnya.

Di tengah situasi negara-negara Barat yang semakin menutup diri, adalah peluang untuk Asia, terutama asia timur untuk mengambil ceruk pasar yang tertinggal. Abad ini lebih tepat jika dinisbatkan sebagai abadnya Asia. Gangguan dari Barat jangan sampai membuat perjuangan negara-negara di Asia melandai apalagi menukik. Pada tahun 1905 Port Arthur (Dalian) pernah menjadi saksi kedigdayaan negara Asia mengangkangi keangkuhan Barat, maka pada tahun ini mudah-mudahan forum NEAT bisa memberikan solusi konkrit untuk kembali memenangi peperangan (dagang) ini.

(dru)
Opini Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading