Bhima Yudhistira Adhinegara
Bhima Yudhistira Adhinegara

Bhima Yudhistira Adhinegara, merupakan Peneliti di INDEF (Institute for Development of Economics and Finance). Meraih gelar Master in Finance dari University of Bradford, UK dan Sarjana dari Fakultas Ekonomi, Universitas Gadjah Mada. Aktif dalam riset terkait pasar keuangan, perbankan dan ekonomi digital.

Profil Selengkapnya

Mitigasi Kegilaan di Pasar Modal

Opini - Bhima Yudhistira Adhinegara, CNBC Indonesia 21 February 2018 16:58
Mitigasi Kegilaan di Pasar Modal
“Tidak ada investor yang rasional”, begitulah kata Robert Schiller pemenang Nobel dalam bukunya Irrational Exuberance mengingatkan bahwa naik turunnya harga saham terkadang tidak mencerminkan kondisi riil ekonomi atau kinerja emiten dipasar modal. Beberapa kali teori Schiller terbukti, yang terakhir pada sesi perdagangan di pertengahan Februari 2018 lalu terjadi fenomena stock market crash di hampir seluruh dunia.

Dimulai dari Dow Jones Index, yang merangkum perusahaan-perusahaan manufaktur Amerika Serikat terjun bebas ke 23.860 hingga merembet ke Bursa Efek Indonesia. Akibat Dow Jones terkoreksi sebesar 4,15% atau terparah sejak tahun 2011, IHSG pun akhirnya sempat anjlok menjadi 6.495 terkoreksi 185 poin dari rekor tertinggi bulan Januari di level 6.680.

Selain Schiller, penelitian soal kegilaan di pasar modal pernah dilakukan oleh John Maynard Keynes. Untuk mencoba kegilaan atau irasionalitas pasar, Keynes sang Bapak Ekonomi Modern bahkan pernah mencoba bermain saham dengan berbagai hitungan matematika dan kalkulasi empiris. Faktanya, Keynes harus mengalami kerugian besar di pasar modal.


Karirnya sebagai seorang ekonom nyaris berakhir kala itu. Hikmah dari coba-coba di pasar modal akhirnya dijelaskan oleh Keynes sebagai animal spirit, keputusan manusia yang lebih didorong oleh faktor emosional dibandingkan rasionalitas. Intinya sebuah kepanikan yang diawali sekelompok kecil investor dapat menyebabkan pasar modal bergerak liar dan mustahil diprediksi seperti peristiwa Great Depression 1929 dan Black Monday 1987 di Amerika Serikat.

Awal Kegilaan

Apa yang membuat pasar menggila dalam beberapa minggu terakhir? Jawabannya adalah ekspektasi investor tak sesuai realita. Disaat Gubernur Bank Sentral AS, Janet Yellen menyampaikan kata perpisahan dan memberikan tongkat kepemimpinan ke Gubernur yang baru Jerome Powell, pelaku pasar saling menebak kemana arah suku bunga acuan Fed rate. Tidak ada kejelasan kapan Bank Sentral AS akan menaikkan suku bunga, sebanyak 3 kali atau lebih dari itu. Investor yang digerakkan oleh animal spirit memilih keluar dari pasar saham.

Kepanikan akibat tidak jelasnya arah Gubernur Fed yang baru menular, analisa pun menjadi beragam. Yang jelas dibawah kendali Jerome Powell suku bunga Fed diprediksi akan naik lebih cepat mengakibatkan inflasi segera menyentuh 2%. Hal ini sudah terlihat dari naiknya yield (imbal hasil) Treasury Note bertenor 10 tahun yang naik menjadi 2,85%. Investor akan mencari imbal hasil yang lebih aman dan besar, maka berpindahlah dana dari pasar modal sedunia ke surat utang AS terjadi. Kondisi ini menyebabkan likuiditas global semakin berkurang. Era inflasi tinggi dan pengetatan moneter menjelaskan kegilaan investor.

Mitigasi Dampak ke Indonesia

Dampak ke Indonesia dikhawatirkan akan membuat IHSG tak bisa berlari kencang seperti tahun lalu. Paling mentok IHSG akan berada di 6.400-6.500 hingga triwulan I 2018. investor asing di sesi perdagangan minggu kedua Februari mencatat aksi jual bersih di bursa saham atau net sales sebesar Rp5,3 triliun sejak awal tahun 2018. Rupiah pun harus menahan nyeri karena kurs sudah menyentuh 13.600. Bank Indonesia harus cepat bertindak dengan mengorbankan cadangan devisa yang jumlahnya 131 miliar USD untuk lakukan stabilitasi rupiah.

Masalahnya cadangan devisa Indonesia dianggap yang paling kecil dibanding Negara tetangga lainnya. Bahkan dengan Filipina yang 28%, rasio cadangan devisa terhadap PDB Indonesia juga kalah yakni, 14%. Kalau cadangan devisa kecil, resiko tertular kegilaan investor global bisa membuat Rupiah makin terkapar. Ikhitar untuk mempertebal cadangan devisa dari ekspor dan devisa pariwisata jadi satu langkah yang mendesak.

Kekhawatiran lain adalah rentannya sistem keuangan akibat terlalu dominanya investor asing. Tidak hanya di bursa saham, investor asing juga semakin dominan di surat utang. Kepemilikan asing di surat utang Negara mencapai 41%. Akibat kenaikan rating dari investment grade yang dikeluarkan oleh lembaga rating SnP beberapa waktu yang lalu, dana asing deras membeli surat utang Pemerintah. Jika kondisi tahun ini berbalik arah (sudden reversal) maka mitigasi resiko perlu disiapkan.

Tidak ada jalan lain kecuali memperbesar kepemilikan investor lokal. Pemerintah Indonesia harus belajar dari Jepang dimana 70% surat utang dimiliki oleh investor lokal, bahkan ibu-ibu rumah tangga pun membeli surat utang Pemerintah sebagai bagian dari tabungan jangka panjang. Dengan pendalaman pasar keuangan, ketika terjadi crash atau gejolak dana hasil penjualan surat utang tidak kabur keluar negeri. Dus, SBN (Surat Berharga Negara) ritel perlu terus didorong agar ekonomi makin kuat diterjang kegilaan massal yang tak pasti kapan berakhirnya. (dru)
Opini Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading