Perang Makin Canggih, Bisnis Senjata Jadul Ternyata Masih Laris
Jakarta, CNBC Indonesia - Teknologi drone dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dengan cepat mengubah wajah peperangan modern. Namun, permintaan tank, jet tempur, dan berbagai peralatan militer konvensional lainnya masih tetap kuat.
Melansir CNBC, Sabtu (7/11/2026), laporan kinerja keuangan terbaru dari perusahaan pertahanan di Amerika Serikat (AS) dan Eropa menunjukkan bahwa senjata konvensional masih menjadi pendorong pertumbuhan tahunan, di tengah melonjaknya permintaan terhadap sensor canggih, sistem otonom, dan teknologi penangkal drone.
Alih-alih menggantikan produsen senjata tradisional, kemunculan drone dan peperangan berbasis sistem otonom justru menciptakan peluang bisnis baru bagi banyak perusahaan yang sama.
Lockheed Martin mencatatkan lonjakan pendapatan sebesar 24% dari bisnis rudalnya pada kuartal III/2026. Sementara itu, RTX berhasil mengamankan kontrak bernilai miliaran dolar untuk sistem rudal yang telah lama dikembangkan.
Di Eropa, pemasok peralatan pertahanan asal Jerman, Renk, mencatat lonjakan pesanan untuk bisnis kendaraan militernya sebesar 46% dalam sembilan bulan pertama tahun ini.
Meski demikian, laporan kinerja keuangan tersebut juga menunjukkan bahwa batas antara persenjataan konvensional dan teknologi pertahanan baru semakin kabur.
Perusahaan elektronik pertahanan asal Jerman, Hensoldt, melaporkan lonjakan pendapatan sebesar 52% dari bisnis optoelektroniknya. Direktur Keuangan perusahaan tersebut mengatakan kepada CNBC bahwa sebagian besar pertumbuhan itu berasal dari peralatan militer konvensional, termasuk tank dan kendaraan lapis baja.
Sementara itu, bisnis pertahanan udara Rheinmetall, yang mencakup sistem penangkal drone, mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 63%. Capaian tersebut terjadi meskipun perusahaan secara keseluruhan memangkas proyeksi kinerja setahun penuh akibat penundaan sejumlah proyek.
Menurut Morningstar, kehadiran drone semakin mengubah platform militer konvensional, bukan menggantikannya. Tank dan berbagai persenjataan lainnya kini semakin terintegrasi ke dalam jaringan medan perang yang saling terhubung dan berbasis data.
Meski demikian, kekhawatiran bahwa teknologi baru dapat menggeser permintaan terhadap peralatan militer konvensional tetap ada.
Di luar medan perang, NATO berencana menginvestasikan lebih dari US$40 miliar untuk mengembangkan kemampuan penangkal drone dalam lima tahun ke depan. Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte memperingatkan bahwa drone telah mengubah lanskap peperangan modern secara fundamental.
Meski demikian, Direktur Keuangan Hensoldt, Christian Ladurner, mengatakan permintaan terhadap peralatan militer konvensional masih menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan perusahaan.
Ladurner mengatakan, bisnis optoelektronik Hensoldt yang tumbuh pesat, yang memasok teknologi optik dan sensor, turut diuntungkan oleh upaya pemerintah negara-negara Eropa untuk mengisi kembali persediaan peralatan militer konvensional. Hal ini terjadi meskipun teknologi baru di medan perang semakin mendapat perhatian.
Ia juga menyoroti meningkatnya permintaan terhadap sistem pertahanan udara seiring dengan semakin beragamnya ancaman yang harus dihadapi militer, mulai dari drone berukuran kecil hingga rudal balistik.
(asr/asr)