Internasional

Angka Pernikahan Warga China Anjlok, Terendah dalam 18 Tahun

sef, CNBC Indonesia
Jumat, 06/11/2026 21:00 WIB
Foto: REUTERS/Aly Song

Jakarta, CNBC Indonesia - Angka pernikahan di China terus merosot dan mencapai level terendah dalam 18 tahun sepanjang Januari-September tahun ini. Tren tersebut memperbesar kekhawatiran terhadap krisis demografi, terutama penurunan angka kelahiran dan meningkatnya populasi lansia di negara tersebut.

Data Kementerian Urusan Sipil China menunjukkan hanya 4,65 juta pasangan yang menikah selama sembilan bulan pertama tahun ini. Sementara itu, sebanyak 2,08 juta pasangan lainnya tercatat bercerai, menurut laporan media lokal Yicai pada Jumat (6/11/2026).


Penurunan angka pernikahan menjadi tantangan serius bagi pemerintah China yang selama ini menganggap pernikahan sebagai salah satu prasyarat utama untuk memiliki anak. Kondisi tersebut juga memperburuk kekhawatiran mengenai semakin sedikitnya generasi muda yang akan menopang perekonomian negara pada masa mendatang.

Pemerintah China sebenarnya telah meluncurkan berbagai kebijakan untuk mendorong pernikahan dan kelahiran anak. Langkah tersebut mencakup pemberian subsidi keluarga, dukungan pengasuhan anak, hingga pengurangan biaya medis yang berkaitan dengan persalinan.

Selain itu, pemerintah berupaya memasukkan kebutuhan generasi muda dan keluarga ke dalam perencanaan perkotaan, termasuk penyediaan perumahan, layanan kesehatan, pendidikan, serta fasilitas publik. Kebijakan ini diharapkan menciptakan lingkungan yang lebih mendukung bagi pasangan muda untuk menikah dan membesarkan anak.

Namun, berbagai upaya tersebut belum mampu membendung tekanan demografi. China kini menghadapi populasi lansia yang semakin besar, bahkan rasio ketergantungan penduduk lanjut usia telah melampaui rasio ketergantungan anak-anak.

Populasi China juga tercatat menyusut selama empat tahun berturut-turut hingga 2025, seiring angka kelahiran yang merosot ke rekor terendah. Para ahli demografi memperingatkan tren penurunan tersebut berpotensi berlanjut dalam beberapa dekade mendatang.

Tekanan demografi diperkirakan semakin berat karena jumlah perempuan usia reproduksi, yakni 15-49 tahun, terus menyusut. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan jumlah kelompok tersebut akan berkurang lebih dari dua pertiganya hingga menjadi kurang dari 100 juta orang pada akhir abad ini.


(sef/sef)
Saksikan video di bawah ini:

China Usulkan Pembatasan Ekspor Teknologi Untuk Produksi Panel Surya