MARKET DATA

Presiden Minta Rendemen Tebu RI Naik ke 10%, Kondisi Asli Masih Begini

Martyasari Rizky,  CNBC Indonesia
06 November 2026 14:30
Penggilingan tebu. (Dok. Pixabay)
Foto: (Dok. Pixabay)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Prabowo Subianto meminta rendemen tebu nasional ditingkatkan hingga 10% untuk mendongkrak produksi gula dalam negeri. Pasalnya, rendemen tebu Indonesia saat ini masih berada di kisaran 6,4%-7%, jauh di bawah sejumlah negara lain yang sudah mencapai 12%.

Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq mengatakan, peningkatan produksi gula nasional tidak cukup hanya mengandalkan perluasan lahan. Pemerintah juga harus memperbaiki produktivitas tanaman tebu dan meningkatkan rendemen melalui perbaikan praktik budidaya hingga efisiensi pengolahan di pabrik gula.

"Rendemen ini kita masih di angka 6,4% sampai 7%. Negara lain sudah mencapai 12%. Bapak Presiden di dalam arahan pada beberapa bulan yang lalu, meminta agar kita mencapai angka 10%," kata Hanif saat ditemui di kantornya, Jakarta, Jumat (6/11/2026).

Hanif menjelaskan, saat ini Indonesia memiliki sekitar 560.000 hektare tanaman tebu dengan produksi rata-rata hampir 3 juta ton per tahun. Produksi tersebut dinilai mencukupi untuk memenuhi konsumsi gula dalam negeri, tetapi belum mencukupi kebutuhan gula industri yang masih bergantung pada impor.

Selain peningkatan rendemen, pemerintah juga membidik perbaikan produktivitas tebu. Saat ini produktivitas tebu nasional masih berada di kisaran 65-70 ton per hektare. Pemerintah menargetkan produktivitas tersebut dapat meningkat sekitar 10-20 ton per hektare.

Untuk mencapai target tersebut, pemerintah telah menyusun rencana operasional penanganan tebu, mulai dari penerapan praktik pertanian yang baik atau good agriculture practices (GAP), penggunaan pupuk, pemeliharaan tanaman, hingga program bongkar ratoon.

"Jadi untuk produktivitas ini benar-benar tergantung dari good agriculture practices yang harus kita edukasi, melalui literasi yang cukup dengan teman-teman petani tebu," ujarnya.

Tapi, ada tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya, pelaksanaan program bongkar ratoon atau peremajaan tanaman tebu yang sudah beberapa kali dipanen. Sebagian petani masih enggan melakukan pembongkaran, terutama di wilayah yang produktivitas tanamannya masih relatif tinggi.

Hanif mengatakan, bongkar ratoon penting dilakukan untuk menjaga produktivitas sekaligus meningkatkan rendemen tebu. Pasalnya, tanaman tebu yang terus dipertahankan tanpa peremajaan berisiko mengalami penurunan hasil.

Menurutnya, tanaman tebu maksimal hanya dapat dipertahankan melalui ratoon selama sekitar empat hingga lima tahun. Setelah itu, produktivitasnya dipastikan menurun.

"Kalau nggak, produktivitas kita akan menurun. Jadi bongkar ratoon biasanya maksimal boleh tidak ganti ratoon itu 4-5 tahun. Setelah itu dipastikan produktivitasnya pasti menurun," jelas dia.

Ia mengakui, tidak semua petani menolak program tersebut. Namun, pemerintah masih menemukan keengganan di sejumlah wilayah, terutama Jawa Timur yang memiliki produktivitas tebu relatif tinggi.

Di wilayah tersebut, sebagian petani belum bersedia membongkar tanaman karena masih mampu menghasilkan tebu dalam jumlah cukup tinggi, meskipun usia ratoonnya sudah mencapai lima tahun.

"Jadi itu sudah berjalan normal, bongkar ratoon sebenarnya di beberapa tempat berjalan normal. Tetapi pada lokasi yang sangat tinggi produktivitasnya seperti di daerah Jawa Timur, ini masih belum mau bongkar ratoon karena sudah lama," ungkap Hanif.

(dce) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Ternyata Ini Alasan Petani Tebu Kesal RI Buka Impor Gula 150.000 Ton


Most Popular
Features