Netanyahu di Ujung Tanduk, Presiden Israel Mulai Cari Sosok Baru
Jakarta, CNBC Indonesia - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di ujung tanduk setelah hasil resmi pemilu parlemen menunjukkan koalisinya gagal mempertahankan mayoritas kursi. Presiden Israel Isaac Herzog kini mulai mencari sosok yang mampu membentuk pemerintahan baru, di tengah peluang oposisi menggandeng partai-partai Arab untuk menyingkirkan Netanyahu dari kursi perdana menteri.
Herzog pada Rabu (4/11/2026) menerima hasil resmi pemilu yang digelar pada 27 Oktober lalu dan memulai konsultasi dengan para pemimpin partai politik. Langkah ini sekaligus menjadi pukulan bagi upaya Netanyahu dan para pendukungnya yang sebelumnya mempertanyakan keabsahan hasil pemungutan suara.
"Pemilu telah berakhir. Sekarang saatnya menghadapi kenyataan," kata Herzog, dilansir Al Jazeera.
Hasil pemilu menunjukkan tidak ada satu pun blok politik yang berhasil mengamankan sedikitnya 61 kursi dari total 120 kursi parlemen atau Knesset, jumlah minimum yang dibutuhkan untuk membentuk pemerintahan.
Koalisi Netanyahu hanya memperoleh 53 kursi, sementara kelompok oposisi yang dipimpin Gadi Eisenkot meraih 48 kursi. Di sisi lain, dua partai yang dipimpin politisi Arab, yakni Ra'am dan Joint List, mencatat pencapaian bersejarah dengan menguasai total 19 kursi.
Komposisi tersebut membuka sejumlah kemungkinan pembentukan pemerintahan, termasuk kerja sama antara Eisenkot dan partai-partai Arab. Pilihan lainnya adalah kesepakatan politik antara Netanyahu dan Eisenkot, meskipun keduanya selama ini berada di kubu yang berseberangan.
Herzog telah menyelesaikan konsultasi hari pertama dengan sejumlah perwakilan partai pada Rabu malam. Pembicaraan dijadwalkan berlanjut pada Kamis (5/11/2026).
Dalam pertemuan awal, Herzog menerima delegasi dari faksi Religious Zionism dan Zehut, Shas, serta Yisrael Beytenu untuk mendengarkan rekomendasi mereka mengenai kandidat yang layak diberi mandat membentuk pemerintahan.
"Saya menerima rekomendasi mereka mengenai identitas anggota Knesset yang seharusnya diberi tugas membentuk pemerintahan," tulis Herzog melalui platform X.
Tiga faksi yang memiliki kedekatan dengan basis politik nasionalis-religius Netanyahu merekomendasikan agar perdana menteri petahana kembali diberi kesempatan membentuk koalisi. Sementara itu, satu faksi yang dipimpin mantan sekutu Netanyahu yang kini menjadi rivalnya memberikan dukungan kepada Eisenkot.
Delapan partai lainnya, termasuk Ra'am dan Joint List, dijadwalkan menemui Herzog pada Kamis. Partai Yashar pimpinan Eisenkot dan Likud pimpinan Netanyahu akan mendapat giliran terakhir.
Partai Arab Jadi Penentu Nasib Netanyahu
Peluang Eisenkot membentuk pemerintahan meningkat setelah Ra'am menyatakan akan merekomendasikan pemimpin oposisi tersebut sebagai calon perdana menteri.
Menurut laporan media Israel Ynet, dukungan yang diperkirakan diperoleh Eisenkot kini mencapai 56 anggota parlemen, hanya terpaut lima kursi dari ambang mayoritas.
Sementara itu, Joint List yang menguasai 11 kursi belum mengumumkan sikap resminya.
Channel 12 Israel melaporkan bahwa partai tersebut diperkirakan akan berkoordinasi dengan Eisenkot, baik dengan memberikan dukungan langsung apabila diminta maupun memilih abstain jika langkah tersebut dinilai lebih menguntungkan secara politik.
Apabila seluruh anggota Joint List memberikan dukungan, jumlah rekomendasi untuk Eisenkot berpotensi melampaui 61 kursi.
Sebaliknya, Netanyahu menghadapi ketidakpastian bahkan di dalam blok pendukungnya sendiri. Meski koalisinya memperoleh 53 kursi, jumlah anggota parlemen yang benar-benar akan merekomendasikannya belum tentu mencapai angka tersebut.
Faksi ultra-Ortodoks Degel HaTorah, yang menguasai empat dari tujuh kursi United Torah Judaism, menyatakan tidak akan mendukung Netanyahu maupun Eisenkot.
Menurut laporan The Times of Israel, kelompok tersebut sebelumnya berselisih dengan Netanyahu karena pemerintahannya gagal mengesahkan undang-undang yang membebaskan pria Yahudi ultra-Ortodoks atau Haredi dari kewajiban dinas militer.
Setelah seluruh konsultasi selesai, Herzog akan menunjuk kandidat yang dinilainya memiliki peluang membentuk pemerintahan. Kandidat terpilih kemudian diberi waktu 28 hari untuk menyusun koalisi, dengan kemungkinan perpanjangan selama 14 hari.
Jika upaya pembentukan pemerintahan gagal, Israel berpotensi kembali menggelar pemilu pada awal tahun depan.
Netanyahu Tuduh Pemilu Dicurangi
Di tengah proses pembentukan pemerintahan, Netanyahu dan para pendukungnya terus melontarkan tuduhan bahwa partai-partai Arab telah "mencuri" pemilu, bahkan dengan kemungkinan bantuan pihak asing.
Namun, tuduhan tersebut tidak didukung bukti yang dapat diverifikasi.
Komisi Pemilihan Umum Israel pada Rabu menyatakan telah menyelidiki secara menyeluruh berbagai laporan dugaan kecurangan yang diajukan partai-partai politik.
Hasilnya, penyelidikan tidak menemukan pelanggaran yang dapat memengaruhi keabsahan maupun hasil pemilu.
"Tidak ada bukti penyimpangan yang merusak integritas pemilu atau memengaruhi hasilnya," demikian pernyataan komisi tersebut.
Jaksa Agung Israel Gali Baharav-Miara juga menolak permintaan untuk memeriksa sejumlah pejabat terpilih tanpa adanya bukti pendukung.
Herzog menyerukan agar seluruh kekuatan politik bersedia berkompromi demi menghindari pemilu ulang. Menurutnya, tidak semua janji maupun komitmen politik dapat dipenuhi dalam situasi ketika tidak ada pemenang dengan mayoritas yang jelas.
"Dalam kenyataan saat ini, ketika tidak ada pemenang yang jelas setelah pemilu, saya meminta orisinalitas dan kreativitas, keberanian serta niat baik, agar Negara Israel keluar sebagai pemenang," ujarnya.
Presiden Israel itu juga mendukung penyelidikan terhadap dugaan campur tangan dalam pemilu. Namun, ia memperingatkan agar tuduhan tersebut tidak digunakan untuk mendiskreditkan warga Israel keturunan Palestina, yang mencakup sekitar 20% populasi negara itu.
Herzog menegaskan dirinya memiliki rasa hormat yang besar terhadap kelompok minoritas Palestina di Israel dan mengecam meningkatnya pernyataan bernada diskriminatif setelah pemilu.
"Saya mengecam kekasaran dan ungkapan rasis yang kita dengar belakangan ini," tegasnya.
(luc/luc)