Netanyahu Hilang Kendali di Israel, Partai Arab Jadi Penentu
Jakarta, CNBC Indonesia - Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menghadapi krisis politik setelah kehilangan mayoritas di parlemen dalam pemilu 27 Oktober. Namun, alih-alih menerima hasil tersebut, Netanyahu dan sekutunya justru menuding pemilu telah dicurangi melalui dugaan penyuapan, pendanaan asing, hingga manipulasi suara oleh partai-partai Arab.
Gugatan politik itu muncul setelah dua partai Arab, Joint List dan Raam, mencatat peningkatan jumlah pemilih yang signifikan dan berpotensi menjadi penentu terbentuknya pemerintahan baru. Gadi Eisenkot, pesaing utama Netanyahu, menilai tuduhan tersebut merupakan upaya untuk menutupi kekalahan politik.
"Mereka melakukan ini karena mereka kalah," kata Eisenkot dalam pernyataan video pada Kamis, seperti dikutip CNN International, Selasa (3/11/2026).
Hasil pemilu membuat koalisi Netanyahu hanya menguasai 53 dari 120 kursi parlemen, jauh dari ambang mayoritas 61 kursi. Sementara itu, blok oposisi yang dipimpin Eisenkot memperoleh 48 kursi dan berpotensi mengumpulkan 67 kursi jika mendapat dukungan 19 kursi dari partai-partai Arab.
Menurut sumber yang dekat dengan Netanyahu, salah satu prioritas utama sang perdana menteri setelah pemilu adalah mencegah kerja sama politik antara kelompok Yahudi dan Arab yang dapat mengakhiri kekuasaannya. Kekhawatiran itu berkaitan dengan pengalaman pemerintahan Bennett-Lapid pada 2021 yang berhasil menggulingkan Netanyahu dengan dukungan partai Arab Raam.
Tuduhan kecurangan sebenarnya telah bergulir sebelum pemungutan suara. Pada pertengahan Oktober, Netanyahu bersama Ketua Partai Zionis Religius Bezalel Smotrich mengumumkan rencana pengerahan sekitar 2.000 pemantau di tempat pemungutan suara komunitas Arab karena dianggap rawan manipulasi.
Pada hari pemilu, tiga aktivis Raam juga ditangkap atas dugaan praktik jual beli suara, tetapi pengadilan menolak sebagian besar permintaan pembatasan dari kepolisian dan sejumlah tersangka kemudian dibebaskan.
Setelah penghitungan suara, Partai Likud pimpinan Netanyahu mengklaim telah mengumpulkan ratusan kesaksian mengenai dugaan penyuapan, ancaman, kekerasan, dan pemalsuan suara.
Tuduhan pendanaan asing juga mencuat setelah surat Ketua Komite Pemilihan Umum Pusat Noam Solberg kepada Direktur Shin Bet David Zini bocor ke publik, meskipun Solberg mengakui belum dapat memastikan kekuatan bukti yang tersedia. Qatar turut membantah tuduhan bahwa negaranya mendanai upaya meningkatkan jumlah pemilih Arab.
Namun, otoritas pemilu Israel menolak tuduhan adanya kecurangan sistematis. Dalam pernyataan bersama dengan Shin Bet dan jaksa agung, Solberg menegaskan pemilu telah berlangsung dengan baik dan dugaan pendanaan asing sekalipun tidak otomatis membatalkan hasil pemungutan suara.
"Keputusan Anda di kotak suara akan dihormati," ujarnya.
Netanyahu tetap tidak menarik tuduhannya dan menyebut hasil pemilu masih diselimuti "awan hitam". Sementara itu, Eisenkot menyebut tuduhan tersebut sebagai operasi pengaruh untuk mendelegitimasi parlemen baru, sedangkan pemimpin Partai Demokrat Yair Golan menilai Netanyahu bertindak seperti "seorang diktator yang menolak menerima kekalahan di kotak suara".
Joint List juga menegaskan tidak akan membiarkan kampanye tersebut menghapus legitimasi suara masyarakat Arab.
(luc/luc)