Bos Properti Merapat, Gen Z Ternyata Pilih Ngontrak Rumah di sini
Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena generasi muda atau Gen Z yang lebih memilih menyewa rumah dibandingkan membeli hunian mulai menjadi perhatian industri properti. Tingginya harga rumah dan lokasi hunian yang semakin jauh dari pusat aktivitas membuat sebagian anak muda belum merasa perlu memiliki rumah sendiri.
Fenomena tersebut terjadi terutama di kalangan Gen Z yang masih berusia 18 hingga 20-an tahun dan belum menikah. Sebagian anak muda saat ini lebih mempertimbangkan kedekatan tempat tinggal dengan lokasi kerja dan infrastruktur transportasi dibandingkan kepemilikan rumah.
"Fenomena itu benar terjadi dimana kebanyakan sekarang Gen Z, terutama yang 20-an tahun, dia enggak merasa perlu punya rumah," ujar Pengamat Properti Panangian Simanungkalit kepada CNBC Indonesia, Selasa (3/11/26).
Pilihan menyewa hunian menjadi lebih menarik karena membeli rumah di kawasan perkotaan semakin sulit dijangkau. Masyarakat yang ingin memiliki rumah dengan harga relatif terjangkau umumnya harus mencari lokasi di pinggiran kota. Konsekuensinya, mereka harus menempuh perjalanan lebih jauh menuju tempat kerja.
Panangian menilai fenomena tersebut perlu diperhatikan pemerintah karena kebutuhan hunian tidak selalu harus dijawab melalui kepemilikan rumah. Pemerintah perlu mulai mengembangkan konsep hunian sewa dengan harga terjangkau di kawasan perkotaan, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan generasi muda.
"Harusnya orang Gen Z yang enggak mau di luar kota itu bisa ke sini. Misal gaji Rp5 juta. Ya sudah, sewa Rp1 juta. Pasti mau dia, kan? Asal dekat LRT atau busway," katanya.
Pemerintah dapat memanfaatkan lahan-lahan milik negara yang belum digunakan untuk membangun hunian sewa murah atau rumah susun sederhana sewa (rusunawa). Hunian vertikal di atas tanah pemerintah berpotensi menekan harga sewa karena biaya pengadaan tanah tidak lagi menjadi komponen utama pembangunan.
Sejumlah kawasan perkotaan memiliki lahan pemerintah yang berpotensi dikembangkan menjadi hunian vertikal bagi masyarakat yang tidak mampu membeli rumah di pusat kota. Ia bahkan mengaku pernah menyampaikan gagasan pembangunan hunian sewa murah dengan memanfaatkan tanah pemerintah langsung kepada Presiden Prabowo Subianto.
"Di tanah-tanah pemerintah, banyak tanah pemerintah yang menganggur di kota. Harusnya begitu dibangun rumah susun," ujarnya.
Ia menegaskan, fenomena Gen Z yang memilih menyewa rumah bukan berarti kebutuhan kepemilikan rumah akan hilang. Sebab, ketika seseorang sudah menikah dan memiliki keluarga, kebutuhan terhadap hunian tetap akan menjadi pertimbangan utama.
Namun, pemerintah perlu menyediakan pilihan yang lebih beragam agar masyarakat tidak dipaksa membeli rumah jauh dari pusat kota hanya karena keterbatasan pilihan hunian terjangkau.
"Orang lebih suka ngontrak, benar. Karena dia dekat dengan infrastruktur. Itulah gagasan sewa rumah murah," kata Panangian.