Menkeu Waspada Kenaikan Harga Pangan, Ganggu Pertumbuhan Ekonomi RI?
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Suahasil Nazara mewaspadai inflasi harga pangan bergejolak (volatile food). Sebab, saat ini beberapa wilayah berada dalam fase kekeringan yang berdampak pada produksi pangan dan inflasi.
Inflasi komponen pangan bergejolak mencapai 5,81% secara tahunan (year-on-year) pada Oktober 2026, berdasarkan data BPS. Secara bulanan, inflasi komponen pangan bergejolak berada pada level 0,77%. Meski demikian, pemerintah melakukan koordinasi untuk memastikan ketersediaan pangan.
"Perlu kita waspadai adalah volatile food karena sedang dalam kekeringan. Jadi memang harus kita waspadai terus ke depannya, seperti apa produksi barang-barang kita. Kita tingkatkan, kita koordinasi terus di pemerintah memastikan ketersediaan pangan, ya volatile food," ujar Suahasil kepada awak media di Mahkamah Agung, Jakarta Pusat, Selasa (3/11/2026).
Di sisi lain, Suahasil mengatakan dua komponen lain dalam inflasi masih terkendali. Misalnya, inflasi inti dalam level 2,56% secara tahunan pada Oktober 2026. Sementara, inflasi harga diatur pemerintah berada pada level 3,24% secara tahunan pada Oktober 2025.
Bendahara Negara juga memastikan inflasi yang berada dalam level 3,23% secara tahunan masih dalam batas yang ditetapkan Bank Indonesia yakni 2,5% plus minus satu persen. Pemerintah akan mengkaji dampak inflasi tersebut ke pertumbuhan ekonomi semester II-2026.
"Nanti kita lihat pertumbuhan ekonomi, minggu ini diumumkan. Kita lihat angkanya," ujarnya.
Inflasi Oktober
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi sebesar 0,22% secara bulanan pada Oktober 2026, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 112,31 pada September 2026 menjadi 112,56 pada Oktober 2026. Sementara itu, inflasi tahunan tercatat sebesar 3,23% dan inflasi tahun kalender sebesar 2,4%.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi bulanan Oktober 2026 dengan andil inflasi 0,15% dan tingkat inflasi sebesar 0,51%.
"Komoditas yang dominan menyumbang inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau adalah cabai merah dengan andil inflasi sebesar 0,13%, cabai rawit dengan andil inflasi 0,05%, tomat dengan andil inflasi 0,04%, serta sawi hijau, labu siam/jipang, dan sawi putih yang masing-masing memberikan andil sebesar 0,01%," jelas Ateng pada konferensi pers di Jakarta, Senin (2/11/2026).
Berdasarkan komponen, komponen bergejolak mengalami inflasi 0,77% dengan andil inflasi 0,13%, dan komponen inti mengalami inflasi 0,12% dengan andil inflasi 0,07%. Sementara itu, komponen harga diatur pemerintah mengalami inflasi 0,09% dengan andil sebesar 0,02%.
Menurut wilayah, dari 38 provinsi, 33 provinsi mengalami inflasi dan 5 provinsi mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Papua Selatan sebesar 1,12 persen, sedangkan deflasi terdalam terjadi di Gorontalo sebesar 0,67 persen.
Secara tahunan, inflasi Oktober 2026 mencapai 3,23%, lebih tinggi dibandingkan inflasi Oktober 2025 sebesar 2,86%. Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tahunan terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil inflasi 1,4%, diikuti kelompok transportasi sebesar 0,59%, dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,32%.
Berdasarkan komponen, seluruh komponen mengalami inflasi. Komponen inti memiliki andil inflasi terbesar, yaitu 1,64%, diikuti komponen bergejolak sebesar 0,96% dan komponen harga yang diatur pemerintah sebesar 0,63%. Inflasi pada komponen inti terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, telepon seluler, laptop/notebook, serta pelumas/oli mesin.
Seluruh provinsi juga tercatat mengalami inflasi secara tahunan. Inflasi tertinggi tercatat di Sulawesi Utara sebesar 8,07%, sedangkan inflasi terendah terjadi di DKI Jakarta sebesar 2,52%.
(arj/arj) [Gambas:Video CNBC]