Tekanan Inflasi Mengkhawatirkan, Ekonom Ramal BI Rate Naik Bulan Ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Data inflasi Indonesia pada Oktober 2026 membuat kalangan ekonom khawatir, karena berisiko terus memburuk ke depannya, hingga membuat gangguan aktivitas ekonomi di dalam negeri dan mendorong Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan BI Rate.
Tim Ekonom BCA dalam Monthly Economic Briefing mengungkapkan, risiko tekanan inflasi yang berlanjut ini terlihat dari komponen inti yang terus naik andilnya, jika mengenyampingkan harga emas yang tengah melandai.
Secara tahunan (YoY) Badan Pusat Statistik (BPS) memang mencatat inflasi inti melandai menjadi 2,56% YoY dari sebelumnya 2,84% YoY, terutama mencerminkan melambatnya pertumbuhan harga emas secara tahunan.
Namun, kontribusi inflasi inti (tidak termasuk emas) terus menunjukkan tren kenaikan, meningkat dari 1,38% YoY menjadi 1,42% YoY, yang mengindikasikan bahwa pertumbuhan kredit diperkirakan tetap kuat.
"Inflasi menjadi perhatian yang semakin mendesak bagi Indonesia," kata tim ekonom BCA, dikutip Selasa (3/11/2026).
Dari sisi eksternal, ancaman reklasifikasi MSCI menjadi standalone market telah memicu aliran modal keluar (capital outflows) baik dari pasar saham (Rp13,07 Triliun per 30 Oktober) maupun SBN (-Rp7,44 Triliun per 29 Oktober).
Hal ini memberikan tekanan lebih lanjut pada nilai tukar Rupiah, yang melemah hingga 18.127 per 30 Oktober (terdepresiasi sebesar 1,4% MoM; 8,6% YtD), berujung pada risiko gangguan harga barang impor.
Sementara itu, harga energi yang tetap tinggi di tengah konflik Timur Tengah yang berkepanjangan menjaga inflasi global tetap berada di level tinggi.
Faktor selanjutnya kata tim ekonom BCA adalah bagaimana pemerintah akan merespons situasi ini, yakni dengan menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi terhadap amunisi fiskal yang terbatas.
Untuk saat ini, pemerintah diperkirakan akan mempertahankan harga BBM bersubsidi hingga akhir tahun 2026 dan telah mengumumkan stimulus (termasuk diskon transportasi) sebesar sekitar Rp32 Triliun untuk kuartal IV-2026. Secara keseluruhan, langkah-langkah ini dapat menjaga tekanan inflasi tetap moderat untuk sementara waktu.
Kendati begitu, fokus kemudian beralih ke Bank Indonesia (BI). Untuk saat ini BI menurut mereka masih terus mengandalkan insentif lindung nilai (hedging) yang lebih tinggi agar aliran modal masuk (capital inflows) tetap menarik.
Namun, depresiasi Rupiah dan tekanan inflasi yang berlanjut Tim Ekonom BCAÂ tegaskan dapat mendorong BI untuk mengambil sikap kebijakan moneter yang lebih ketat (tighter stance).
Terlebih lagi, meskipun surplus neraca perdagangan masih terjadi September 2026 US$ 3,36 miliar, mendukung likuiditas valas domestik dan cadangan devisa pada bulan September, capaian ini menurut mereka kemungkinan hanya bersifat sementara (transitory) mengingat sifat musiman dari lonjakan ekspor dan adanya kejar tayang impor minyak mendatang.
Menyempitnya surplus perdagangan dapat memicu kembali tekanan depresiasi pada nilai tukar Rupiah dan mendorong imbal hasil (yield) obligasi pemerintah lebih tinggi, terutama mengingat peringatan pasar MSCI baru-baru ini.
"Oleh karena itu, kami mempertahankan pandangan bahwa Bank Indonesia mungkin akan menyampaikan kenaikan suku bunga acuan (policy rate hike) lagi untuk menjaga stabilitas eksternal dan menenangkan pasar domestik," menurut Tim Ekonom BCA.
Pandangan serupa disampaikan Tim Ekonom Permata Bank. Dalam skenario dasar mereka, Bank Indonesia (BI) bahkan akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps lagi pada November 2026, sehingga membawa BI-Rate menjadi 6,00%.
"Pandangan ini terutama didorong oleh ekspektasi kami terhadap kenaikan lanjutan Fed Funds Rate (FFR) sebesar 25 bps menjadi 4,25% pada Desember 26, yang mengharuskan BI untuk mempertahankan perbedaan suku bunga (interest-rate differential) yang memadai guna mendukung stabilitas Rupiah dan menahan inflasi barang impor," dikutip dari analisis tim ekonom Permata Bank.
Mereka menekankan, inflasi inti akan semakin bergantung pada inflasi barang impor (imported inflation), karena daya beli rumah tangga yang rapuh kemungkinan akan menahan tekanan tarikan permintaan (demand-pull).
Apalagi, ketidakpastian geopolitik yang persisten, sikap hawkish Bank Sentral AS (The Fed), dan kejutan MSCI terus memperkuat sentimen hindar risiko (risk-off), membatasi aliran modal masuk (capital inflows), serta memperhebat tekanan depresiasi Rupiah.
"Rupiah yang lebih lemah akan meningkatkan biaya bahan baku impor dan memperbesar risiko pass-through harga dari produsen ke konsumen," menurut Tim Ekonom Permata Bank.
Sebagai informasi, Inflasi umum Indonesia tercatat sebesar 3,23% YoY dan 0,22% MoM pada Oktober 2026, sedikit mereda dari 3,28% YoY dan 0,30% MoM pada September 2026.
Volatilitas harga pangan akibat El Niño tetap menjadi pendorong utama inflasi bulanan, dengan cabai merah, cabai rawit, tomat, dan sawi hijau sebagai penyumbang utama.
Dengan El Niño yang diperkirakan akan berlanjut hingga awal 2027, kalangan ekonom itu pun melihat tekanan inflasi kemungkinan masih akan berlanjut dalam beberapa bulan ke depan.
(arj/arj) [Gambas:Video CNBC]