Produksi Batu Bara RI Dipotong Berbuah Manis, Harga Sudah Naik!
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia membeberkan kebijakan pemangkasan produksi batu bara melalui penataan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) untuk tahun 2026 ini mulai berbuah manis. Kebijakan tersebut dinilai berhasil mendongkrak harga batu bara di pasar internasional.
Bahlil yang juga menjabat sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral itu mengungkapkan bahwa strategi pemangkasan kuota RKAB dilakukan demi menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan (supply and demand) batu bara dunia. Dia menyampaikan bahwa harga batu bara kalori 6.333 langsung merangkak naik hingga menyentuh level US$ 154 per ton setelah pasokan asal Indonesia dikurangi.
"Saya katakan kalau begitu, daripada harga diatur oleh asing, barang-barang kita 540 juta itu sama dengan 43% suplai batubara dunia dari Indonesia, saya bilang kalau begitu kita jaga di antara suplai and demand, potong RKAB. Apa yang terjadi, Bapak Ibu semua? Hari ini harga batubara bisa mencapai 154 dolar untuk kalori 633. Ini strategi," ujarnya dalam acara Minerba Convention & Exhibition (Convex) 2026, di Jiexpo, dikutip Selasa (3/11/2026).
Pihaknya mencatat total konsumsi batu bara dunia mencapai 8,9 miliar ton per tahun, dengan volume perdagangan global sebesar 1,3 miliar ton. Indonesia memegang porsi pasokan terbesar dalam perdagangan batu bara dunia dengan volume sebesar 540 juta ton atau setara 43%.
"Saya mengambil contoh, batu bara dunia,konsumsi batu bara dunia itu 8,9 miliar ton per tahun. Batu bara yang diperjualbelikan itu 1,3 miliar ton. Di 2025, kontribusi Indonesia terhadap peredaran batu bara dunia itu mencapai 540 juta ton," paparnya.
Sebelum kebijakan pemangkasan RKAB diterapkan, tingginya volume produksi batu bara nasional pada 2025 sempat menekan harga jual ke tingkat terendah. Kondisi tersebut dinilai menyebabkan penerimaan negara tidak maksimal dan keuntungan perusahaan tambang tergerus akibat batu bara dijual dengan harga murah.
"Apa yang terjadi? Harga batu bara di 2025 pada harga yang paling rendah. Profit perusahaannya tidak terlalu banyak, pendapatan negara tidak terlalu maksimal, jorjoran kita buka lahan yang begitu besar, akhirnya barang kita dijual murah," terangnya.
Dia menilai, penerapan strategi pengendalian pasokan melalui pemangkasan alokasi RKAB ini terbukti mendongkrak pendapatan negara meskipun volume produksi fisik batu bara terkoreksi menurun. Pemerintah mencatat penerimaan negara bukan pajak (PNBP) justru mengalami lonjakan setelah kebijakan pengangkatan harga tersebut berjalan.
"Ini strategi karena kita jaga suplai and demand.Pendapatan negara kita melonjak, produksi turun. Jadi produksinya terkoreksi menurun, tapi pendapatannya naik. Ini baru paten enggak jual murah barang kita," tandasnya.
Harga Batu Bara Acuan November Melesat
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan Harga Batu Bara Acuan (HBA) periode pertama November 2026. Mayoritas dari kategori batu bara mengalami kenaikan harga dibandingkan periode kedua Oktober 2026.
Berdasarkan Keputusan Menteri ESDM No.409.K/MB.01/MEM.B/2026 tentang Harga Mineral Logam Acuan dan Harga Batu Bara Acuan untuk Periode Pertama Bulan Oktober Tahun 2026,
Mengutip Instagram resmi Ditjen Minerba Kementerian ESDM @ditjenminerba, dikatakan bahwa, untuk harga batu bara menunjukkan penguatan yang solid secara konsisten di 3 kalori. "Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk kalori sedang, hingga rendah I, II dan III mencatatkan kenaikan berlanjut yang didorong oleh tingginya permintaan energi di pasar global," terang Ditjen Minerba, dikutip Senin (2/11/2026).
"Sementara batu bara kalori tinggi (6.322 GAS) tetap berada di tingkat harga yang sangat kompetitif di angka US$125,60 per ton," tambahnya.
Berikut daftar HBA Periode Pertama November 2026:
Pertama, HBA dalam kesetaraan nilai kalor 6.322 kcal/kg GAR, Total Moisture 12,26%, Total Sulphur 0,66%, dan Ash 7,94% pada periode pertama November 2026 ditetapkan sebesar US$125,60 per ton, naik dari periode kedua Oktober 2026 sebesar US$ 122,52 per ton.
Kedua, HBA I dalam kesetaraan nilai kalor 5.300 kcal/kg GAR, Total Moisture 21,32%, Total Sulphur 0,75%, dan Ash 6,04% pada periode pertama November 2026 ditetapkan sebesar US$97,85 per ton, naik dari yang sebelumnya US$ 90,60 per ton per ton pada periode kedua Oktober 2026.
Ketiga, HBA II dalam kesetaraan nilai kalor 4.100 kcal/kg GAR, Total Moisture 35,73%, Total Sulphur 0,23%, dan Ash 3,90% pada periode pertama November 2026 ditetapkan sebesar US$ 69,28 per ton, naik dari sebelumnya US$ 63,45 per ton pada periode kedua Oktober 2026.
Keempat, HBA III dalam kesetaraan nilai kalor 3.400 kcal/kg GAR, Total Moisture 44,30%, Total Sulphur 0,24%, dan Ash 3,88% periode pertama November 2026 ditetapkan US$ 46,64 naik dari periode kedua Oktober yang ditetapkan US$ 43,84 per ton.
(pgr/pgr)