Ekspor Batu Bara RI yang Transit di Singapura Bisa Sampai 60 Juta Ton
Jakarta, CNBC Indonesia - Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno, merespons permintaan Menteri Koordinator bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, terkait ekspor hasil sumber daya alam RI.
Bahlil meminta ekspor sumber daya alam langsung ke negara tujuan bukan lagi transit ke negara tertentu.
Menurut Tri Winarno, dia juga mempertanyakan ekspor negara Singapura. Negeri singa diketahui tidak memiliki kawasan tambang namun memiliki pencatatan ekspor batu bara yang tinggi.
"Jadi coba yang pembelian dari Singapura ada nggak di data. Pasti ada kan? Yang lewat sana (total ekspor Singapura) itu batu bara mungkin sekitar 50 - 60 (juta ton) gitu lah. Kan nggak ada batu bara di sana, kan nggak mungkin juga kalau misalnya dari sana (Singapura) ke China atau kemana gitu. Pasti dari kita," kata Tri, di Komplek Kementerian ESDM, Senin (2/10/2026).
Meski begitu dia belum mau membenarkan bahwa seluruh batu bara yang diekspor Singapura itu berasal dari Indonesia. "Wartawan kan bisa cari," tuturnya.
Sebelumnya, Bahlil meminta kepada jajaran Direktur Jenderal (Dirjen) Kementerian ESDM untuk melakukan ekspor sumber daya alam langsung ke negara tujuan. "Tidak boleh lagi SDA kita sekarang ESDM, kalau kirim barang ke China, ya dari Jakarta langsung ke China, tidak boleh dari Jakarta mampir ke negara 'yang itu'. (Negara itu) hanya stample kemudian dia bilang ini ekspor dari negara dia. Dari mana barang kau!"
"Langsung saja, sudah lama barang kita diolah begini terus, saya ngga bisa diolah olah mereka, ngga bisa, saya sudah perintahkan dirjen," terang Bahlil.
Tak cuma soal SDA pertambangan, Bahlil juga memerintahkan soal ekspor gas dalam hal ini Liquefied Natural Gas (LNG) yang biasanya diekspor ke Jepang maupun Korea.
"Langsung saja, kenapa harus pakai negara lain. mereka dapat pajak, mereka dapat neraca perdagangan. Baru ada bencana sedikit saja sudah gopoh-gopoh kayak apa aja. jangan kirim lagi kesana. Indonesia berdaulat jangan diatur-atur," tegas Bahlil.
(pgr/pgr)