Ekspor Foil Tembaga RI Naik 1.163% pada September 2026, Ini Sebabnya!

Dovana Hasiana, CNBC Indonesia
Senin, 02/11/2026 18:00 WIB
Foto: PT Freeport Indonesia (PTFI) memiliki area pertambangan tembaga terbesar di dunia. (CNBC Indonesia/Firda Dwi Muliawati)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ekspor tembaga dan barang daripadanya melonjak 165,97% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada September 2026. Kenaikan ini terutama ditopang oleh lonjakan ekspor sejumlah komoditas turunan tembaga, mulai dari tembaga dimurnikan hingga foil tembaga.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono menjelaskan, peningkatan ekspor pada kelompok HS 74 tersebut didorong oleh beberapa komoditas yang mencatatkan pertumbuhan signifikan.

Pertama, komoditas tembaga dimurnikan dan paduan tembaga tidak ditempa (HS 7403) yang tumbuh 246,59% secara tahunan.


Kedua, ekspor kawat tembaga (HS 7408) yang meningkat 58,83% yoy. Sementara itu, ekspor foil tembaga, termasuk yang dicetak atau dilapisi kertas (HS 7410), melonjak hingga 1.163,23%.

"Foil tembaga ini naik 1.163,23%, artinya naik tinggi dari kecil langsung naik tinggi sekali," ujar Ateng dalam pemaparan kinerja ekspor dan impor BPS, Senin (2/11/2026).

Menurut Ateng, lonjakan ekspor foil tembaga tersebut menjadi salah satu perkembangan yang patut dicermati ke depan. Secara keseluruhan, ekspor kelompok tembaga dan barang daripadanya menjadi salah satu penopang kenaikan ekspor nonmigas Indonesia pada September 2026.

Berdasarkan analisa CNBC Indonesia melonjaknya ekspor tambang dikarenakan, PT Freeport Indonesia (PTFI) telah membuka kembali fasilitas pemrosesan dan pemurnian (smelter) kedua perusahaan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE), Gresik, Jawa Timur, pada Agustus lalu.

Pengoperasian kembali fasilitas smelter tersebut dilakukan menyusul mulai pulihnya pasokan konsentrat dari tambang pasca insiden longsor di tambang bawah tanah Freeport pada September 2025 lalu.

Direktur Utama PT Freeport Indonesia Tony Wenas menyebutkan bahwa pengiriman konsentrat (feeding) ke smelter baru telah dimulai kembali sejak Agustus 2026. Lalu, smelter tersebut mulai menghasilkan produk katoda tembaga pada September 2026 ini sebesar 5.000 ton.

"Ramp up atas produksi smelter, smelter baru Freeport karena memang pada saat longsor tahun yang lalu itu kemudian dia smelter barunya berhenti beroperasi karena pasokan konsentratnya tidak cukup untuk mem-feeding smelter yang baru, hanya cukup untuk mem-feeding PT Smelting yang sudah ada sebelumnya," kata Tony dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR RI, Jakarta, Selasa (15/9/2026).


(haa/haa)
Saksikan video di bawah ini:

Video: BPS Catat Inflasi RI Oktober 2026 Capai 3,23% (yoy)