China Ngamuk ke Eks Diplomat Tetangga RI, Sebut Tidak Takut Perang
Jakarta, CNBC Indonesia - Kedutaan Besar (Kedubes) China di Manila mengecam keras klaim pensiunan duta besar Filipina, Jaime Yambao. Perselisihan ini bermula dari kolom opini Yambao yang menyinggung posisi China dalam konflik tertorial di Laut China Selatan.
Mengutip AFP, Senin (2/11/2026), Kedubes China menyebut klaim Yambao salah besar. Kolom tersebut dinilai penuh dengan kebohongan sejarah yang serius, bias yang mencolok, serta penilaian yang tidak profesional.
Dalam tulisannya, Yambao menyebut China menghindari konflik hanya karena Perjanjian Pertahanan Bersama (MDT) 1951 antara Amerika Serikat dan Filipina.
"Jika China tidak menyerang Filipina, itu bukan karena cinta damai, melainkan efek jera dari Perjanjian Pertahanan Bersama antara kedua negara," ungkapnya.
Pihak Kedubes langsung membantah keras tuduhan yang menyebut mereka takut terhadap aliansi militer asing. Komitmen perdamaian Beijing diklaim murni berasal dari kebijakan luar negeri yang independen.
"China memilih menahan diri karena niat baik terhadap tetangganya, bukan karena takut pada aliansi mana pun," tegasnya.
Sebelumnya, Yambao juga menyinggung bahwa bangsa yang cinta damai seharusnya mematuhi Piagam PBB dan Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS). Ia mendesak China untuk mengakui putusan Pengadilan Arbitrase Permanen (PCA) tahun 2016 yang membatalkan klaim Beijing di zona ekonomi eksklusif Filipina.
"Putusan tersebut secara hukum tidak sah, bias secara politik, dan tidak memiliki kekuatan mengikat," paparnya.
Kolom itu turut membahas seruan untuk menetapkan Duta Besar China Jing Quan sebagai persona non grata. Seruan ini dipicu oleh pernyataan sang duta besar yang menyiratkan China bisa menang mudah jika menggunakan kekuatan militer.
"Sangat mungkin bahwa China akan memihak duta besarnya dan membalas dengan menyatakan duta besar kita yang tidak bersalah di Beijing sebagai persona non grata," tutur Yambao.
Pihak Kedubes menilai serangan terbuka terhadap sistem politik negara lain menunjukkan hilangnya kesopanan dasar diplomatik. Yambao bahkan dikecam karena dianggap tidak memiliki objektivitas dan profesionalisme sebagai seorang diplomat kawakan.
"Hal tersebut mencerminkan penilaian kognitif yang buruk atau ketidakmampuan diplomatik yang disesalkan," ucapnya.
Tak hanya soal Laut China Selatan, Kedubes juga menyebut narasi Yambao mengenai Pertempuran Yultong selama Perang Korea sangat menyesatkan. Tidak ada arsip militer AS maupun China yang mendukung klaim bahwa 900 tentara Filipina berhasil mengalahkan 40.000 tentara China.
"Dalam kenyataannya, pasukan Filipina mundur atas perintah AS setelah pertempuran, dan pasukan China memegang kendali penuh atas medan perang."
(tps/luc) [Gambas:Video CNBC]