Chandra Asri (TPIA) Punya Fasilitas 'Anti Kiamat' Nafta di Cilegon

Ferry Sandi, CNBC Indonesia
Senin, 02/11/2026 17:55 WIB
Foto: (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menyiapkan strategi untuk mengantisipasi potensi gangguan pasokan bahan baku industri petrokimia dari pasar internasional, termasuk apabila terjadi gejolak geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Salah satu langkah yang disiapkan adalah membangun fasilitas condensate splitter unit di Cilegon, Banten. Fasilitas tersebut nantinya dapat menghasilkan kondensat yang digunakan sebagai bahan baku alternatif untuk menggantikan nafta.

"Ini pengembangan yang kita harapkan tahun 2027 juga bisa komplit, yaitu condensate splitter unit di Cilegon," ujar Direktur Sumber Daya Manusia dan Urusan Korporat Chandra Asri Group Suryandi dalam diskusi Forum Wartawan Industri (Forwin) di Hotel Bidakara, Senin (2/11/26).


Fasilitas tersebut akan menghasilkan bahan baku alternatif yang dapat digunakan industri petrokimia. Kapasitas produksinya diproyeksikan setara sekitar 2,5 juta ton per tahun berdasarkan penjelasan dalam presentasinya.

"Condensate splitter ini akan menghasilkan bahan baku alternatif untuk nafta. Ini suatu opsi pembelian yang sangat positif dan memberikan fleksibilitas kepada Chandra Asri," katanya.

Selama ini, perusahaan masih mengimpor nafta untuk memenuhi kebutuhan operasional industri petrokimia. Namun, ketergantungan terhadap pasokan impor membuat perusahaan perlu menyiapkan alternatif apabila terjadi gangguan distribusi global. Sebagai contoh gangguan geopolitik di Timur Tengah dapat berdampak terhadap ketersediaan bahan baku dan kelancaran pasokan ke industri.

"Misalnya apabila di Middle East ada gangguan, lalu kemudian pasokannya juga terganggu, kita akan punya alternatif," ungkapnya.

Meski demikian, Suryandi menegaskan bahwa keberadaan fasilitas baru tersebut bukan berarti perusahaan akan sepenuhnya menghentikan impor nafta.

PT Chandra Asri Pacific Tbk. (Dok. Chandra Asri) Foto: PT Chandra Asri Pacific Tbk. (Dok. Chandra Asri)

"Tetap kita impor nafta, tapi ini menjadi alternatif apabila ada terjadi gangguan lagi, enggak tahu nanti gangguannya di mana," jelasnya.

Dengan demikian, fasilitas condensate splitter diharapkan menjadi salah satu cara untuk menjaga kesinambungan produksi ketika pasokan bahan baku dari luar negeri mengalami hambatan.

Perusahaan juga menjalankan strategi peremajaan aset inti melalui kegiatan turnaround maintenance secara berkala setiap empat hingga lima tahun untuk menjaga keandalan fasilitas produksi.

"Agar supaya mesin-mesin produksi itu tetap terjaga dan sehingga disrupsi dari operasional bisa dihindarkan," ujar Suryandi.


(fys/wur)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Bahlil: Ekspor SDA Indonesia Tak Perlu Mampir Ke Negara Lain