MARKET DATA
Internasional

Perang Kelar Langsung Bikin Harga BBM Turun? Tak Semudah Itu

tps,  CNBC Indonesia
07 August 2026 14:30
Sebuah tayangan drone menunjukkan Kilang Minyak Stanlow milik Essar Energy, kilang terbesar kedua di Inggris yang memproduksi sekitar seperenam bensin negara itu, bersama dengan bahan bakar jet dan diesel, di Ellesmere Port, Inggris, 30 April 2026. (
Foto: Sebuah tayangan drone menunjukkan Kilang Minyak Stanlow milik Essar Energy, kilang terbesar kedua di Inggris yang memproduksi sekitar seperenam bensin negara itu, bersama dengan bahan bakar jet dan diesel, di Ellesmere Port, Inggris, 30 April 2026. (REUTERS/Phil Noble)

Jakarta, CNBC Indonesia - Serangan pesawat nirawak Ukraina ke Rusia serta serangan bertubi-tubi di kawasan Teluk Persia telah memicu gangguan destruktif pada kapasitas penyulingan minyak global. Konflik militer yang kian memanas antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran ini membuat pasar bahan bakar dunia menghadapi tekanan pasokan yang sangat parah.

Mengutip CNBC International, Jumat (6/8/2026), krisis penyulingan akibat perang ini membuat harga bensin diprediksi akan tetap meroket tajam pada musim gugur mendatang. Tren harga selangit ini diperkirakan akan terus berlanjut tanpa henti meskipun harga minyak mentah secara global mulai menunjukkan tanda-tanda stabil.

Kepala Analisis Minyak Bumi di GasBuddy, Patrick De Haan, menyebut bahwa pengemudi di AS bisa menghadapi rekor harga bensin pada Hari Buruh. Rekor tersebut berpotensi pecah jika Washington dan Teheran tidak segera mencapai kesepakatan yang pasti dan stabil mengenai jalur perairan Selat Hormuz.

"Harga sempat mencetak rekor Hari Buruh sebesar US$3,83 (Rp68.645) per galon pada tahun 2012," papar Patrick.

Para pengendara mobil saat ini tercatat harus membayar sekitar US$4,06 (Rp72.767) per galon untuk mengisi bahan bakar harian mereka. Angka tersebut memang telah turun dari level tertinggi tahun 2026 sebesar US$4,56 (Rp81.728), namun nyatanya masih 36% lebih mahal dibandingkan harga sebelum AS dan Israel mulai menyerang Iran.

Patrick memproyeksikan bahwa harga bahan bakar seharusnya bisa sedikit melunak pada musim gugur seiring dengan melemahnya permintaan akibat faktor musiman. Akan tetapi, krisis dan kekurangan kapasitas penyulingan global dapat mengakibatkan bensin menjadi sangat mahal dan tidak wajar untuk periode waktu tersebut.

Chief Operating Officer Valero, Gary Simmons, turut menyoroti dampak kerusakan yang timbul dari perang Iran dan Ukraina terhadap infrastruktur energi. Ia menyebut konflik bersenjata yang mematikan tersebut telah mematikan berbagai fasilitas kilang dengan total kapasitas mencapai sekitar lima juta barel per harinya.

Wakil Presiden Eksekutif Pemasaran di Phillips 66, Brian Mandell, juga mengamini adanya pengetatan fundamental yang luar biasa pada sektor penyulingan minyak.

"Fundamental penyulingan sangat ketat dan makin ketat dengan adanya masalah di Rusia dan Timur Tengah," tutur Brian.

CEO ExxonMobil, Darren Woods, menjelaskan bahwa krisis penyulingan inilah yang membuat bahan bakar tetap mahal meskipun harga minyak mentah sesungguhnya telah anjlok. Ia menyebut kendala penyulingan pada masa kini telah menciptakan sebuah keterputusan nyata antara harga minyak mentah global dan harga yang harus dibayar warga di pompa bensin.

"Itulah salah satu alasan mengapa kita tidak melihat harga produk turun saat harga minyak mentah turun, karena ada keterputusan ini di pasar," ungkap Darren.

Harga minyak AS tercatat telah anjlok sekitar 10 persen pada pekan ini untuk diperdagangkan di kisaran US$76 (Rp1,3 juta) per barel setelah Presiden Donald Trump menyinggung potensi kesepakatan dengan Iran. Meskipun harga minyak dunia hanya naik 14 persen sejak pecahnya perang, harga bensin eceran justru telah melonjak hingga 36 persen melebihi harga awal.

Di tengah krisis pasokan yang menyiksa ini, perusahaan penyulingan justru meraup keuntungan berlipat ganda karena mereka beroperasi dengan kapasitas penuh demi memenuhi sisa permintaan. Margin keuntungan antara biaya minyak mentah dan harga jual produk, atau yang sering dikenal sebagai crack spread, dilaporkan telah melonjak melewati angka US$70 (Rp1,2 juta).

"Jika Anda memiliki kilang, Anda akan menjalankannya sekuat tenaga," ucap Patrick.

Pendapatan Valero pada kuartal kedua dilaporkan telah melonjak lebih dari 400% hingga menyentuh angka US$3,7 miliar (Rp66,31 triliun). Sementara itu, laba bersih Marathon Petroleum dan Phillips 66 masing-masing juga meroket pesat lebih dari 300% menjadi US$5,1 miliar (Rp91,4 triliun) dan US$3,8 miliar (Rp68,1 triliun).

Fasilitas kilang di sepanjang Pantai Teluk AS dilaporkan mendapat keuntungan besar dari lancarnya impor minyak mentah Venezuela dan pengabaian aturan pengiriman dari Undang-Undang Jones. Patrick menyebut kelonggaran birokrasi tersebut pada dasarnya membuat para penyuling Pantai Teluk kini dapat mengekspor bensin dan diesel ke mana saja secara bebas.

"Kilang-kilang di pesisir Louisiana dan Texas itu memiliki pilihan paling banyak, dan tidak ada tempat yang lebih baik untuk menjadi kilang di dunia," kata Patrick.

Darren memaparkan bahwa sekitar tiga juta barel kapasitas penyulingan per hari di Timur Tengah saat ini tidak dapat tersedia akibat kacaunya gangguan di wilayah Hormuz. Rentetan serangan pesawat nirawak Ukraina ke sejumlah kilang Rusia juga dinilai telah berhasil melumpuhkan sekitar satu juta barel kapasitas tambahan per harinya.

"Ukraina sangat efektif dalam melumpuhkan kilang minyak Rusia," tegas Patrick.

CEO Marathon Petroleum, Maryann Mannen, menyoroti tantangan berat serta lambatnya proses pemulihan kilang-kilang minyak di seluruh kawasan Timur Tengah.

"Setiap gangguan lebih lanjut di wilayah tersebut dapat menyebabkan kendala pasokan berevolusi lebih lanjut," tutur Maryann.

Darren juga mencatat fakta bahwa China kini telah berhenti mengekspor, yang secara langsung semakin menghilangkan pasokan beberapa juta barel per hari dari pasar global. Sementara itu, Brian dari Phillips 66 memperkirakan bahwa total ada sekitar tujuh juta barel per hari kapasitas kilang yang harus turun minum di wilayah Asia dan Timur Tengah.

Brian memproyeksikan bahwa akan ada lebih banyak minyak mentah yang menganggur daripada jumlah pasokan produk akhir jika Selat Hormuz suatu saat dibuka kembali.

"Kilang-kilang tersebut, tergantung pada kerusakan dan kemampuan untuk mendapatkan suku cadang, akan memakan waktu yang cukup lama untuk kembali beroperasi daring," pungkas Brian.

(tps/luc) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Perang Iran Bawa Petaka Minyak, Mobil Listrik Pesta Pora


Most Popular
Features