MARKET DATA
Internasional

Ada Apa India, Pemerintah Tiba-Tiba "Sale" Besar-besaran BUMN?

sef,  CNBC Indonesia
07 August 2026 14:00
Bendera India. (Dok. Pixabay)
Foto: Bendera India. (Dok. Pixabay)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah India kini sedang melakukan "sale" besar-besaran ke saham-saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Sejak awal tahun, pemerintah telah melepas kepemilikan di 10 perusahaan BUMN, meski kondisi pasar saham masih lesu.

Tahun ini saja, pemerintah telah menjual saham di sejumlah perusahaan, antara lain Cochin Shipyard, Indian Railways Finance Corp, NHPC, dan Coal India. Rabu lalu, pemerintah juga menuntaskan salah satu aksi divestasi terbesar tahun ini.

Dilaporkan CNBC International Jumat (7/8/2026), pemerintah berhasil mengumpulkan US$3,3 miliar (sekitar Rp54,5 triliun) dengan melepas 6,5% saham di perusahaan asuransi jiwa terbesar di India, Life Insurance Corporation of India (LIC). Penawaran saham tersebut dipatok dengan diskon sekitar 10% untuk menarik minat investor, dan hasilnya permintaan investor bahkan melebihi jumlah saham yang ditawarkan (oversubscribed).

Meski pemerintah memang memiliki kewajiban untuk mengurangi kepemilikan di sejumlah perusahaan agar memenuhi aturan pencatatan di bursa, lonjakan transaksi divestasi tahun ini berlangsung sangat cepat dan dalam skala yang jauh lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya. Terakhir kali pemerintah India berhasil mencapai target tahunan divestasi atau penjualan saham BUMN adalah pada tahun fiskal yang berakhir pada Maret 2019.

Gelombang Divestasi

Di luar penjualan saham LIC, pemerintah India telah melepas kepemilikan di sembilan perusahaan BUMN sepanjang 2026 dan berhasil menghimpun hampir 270 miliar rupee (sekitar Rp46,2 triliun). Menurut penyedia data pasar Prime Database, angka tersebut merupakan yang tertinggi dalam lebih dari satu dekade.

Sementara itu, hasil penjualan saham LIC saja melampaui angka tersebut dengan selisih yang cukup besar. Hal ini menunjukkan semakin besarnya kecenderungan pemerintah India mengandalkan divestasi aset negara untuk menghimpun dana tanpa harus memperlebar defisit fiskal.

Para analis menilai pemerintah berada di jalur yang tepat untuk mencapai target penghimpunan dana sebesar 800 miliar rupee (sekitar Rp138,6 triliun) dari penjualan saham BUMN pada tahun ini. Dana tersebut dinilai akan menjadi sangat penting bagi India dalam menghadapi tekanan ekonomi makro yang semakin besar.

"Sejauh ini, pemerintah India telah memenuhi lebih dari 65% target divestasi tahunannya," bunyi laporan itu.

Menjaga Mesin Ekonomi Tetap Berjalan 

Mengutip Reuters, tantangan fiskal yang berat beberapa tahun terakhir mendorong pemerintah Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi mengambil langkah agresif untuk mencari dana. Penjualan dilakukan untuk menjaga mesin pertumbuhan tetap berjalan di tengah defisit fiskal yang semakin melebar.

Dana tersebut diyakini akan membantu memperkuat neraca keuangan negara yang tertekan akibat perang terutama konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran di Timur Tengah. Di sisi lain, penerimaan negara juga melemah setelah pemerintah memangkas sejumlah tarif pajak tidak langsung.

"Ini menimbulkan kekhawatiran bahwa pemerintah akan melampaui target defisit fiskal sebesar 4,3% dari produk domestik bruto (PDB) pada tahun ini," tulis laman itu.

Sementara itu, analis ANZ memperingatkan bahwa kenaikan subsidi pupuk serta biaya pembayaran utang berpotensi memperlebar defisit fiskal hingga 0,3% PDB. Tekanan tersebut diperkirakan akan mendorong pemerintah mempercepat program divestasi aset negara.

(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Tak Cuma Batu Bara, Bahlil Ungkap India Tertarik Masuk Hulu Migas RI


Most Popular
Features