Bencana El Nino Hantam Lahan Pertanian RI, Ini Bukti-Buktinya
Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena El Nino mulai terlihat dampaknya dalam kondisi pertanaman padi di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat proporsi luas lahan yang sedang ditanami padi atau standing crop pada September 2026 mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.
Berdasarkan hasil amatan Kerangka Sampel Area (KSA) September 2026, proporsi luas standing crop hanya mencapai 20%. Angka ini lebih rendah dibandingkan September 2023, saat Indonesia juga mengalami El Nino, yang tercatat sebesar 23,10%.
Bahkan, capaian September 2026 menjadi yang terendah dibandingkan September 2021, 2022, 2024, dan 2025. Pada periode tersebut, proporsi luas pertanaman padi berkisar antara 24,67% hingga 26,46%.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, penurunan proporsi luas pertanaman padi pada September 2026 terjadi bersamaan dengan meningkatnya proporsi lahan yang diberakan atau dibiarkan, serta lahan yang ditanami selain padi.
"Pada kondisi September 2026, terjadi penurunan proporsi luas standing crop atau pertanaman padi, kenaikan proporsi luas lahan yang diberakan atau dibiarkan, dan juga kenaikan proporsi luas lahan yang ditanami selain tanaman padi, jika dibandingkan dengan bulan Agustus, maupun di tahun yang lalunya," ungkap Ateng dalam konferensi pers BPS, Senin (2/11/2026).
BPS mencatat, dari total lahan pertanian yang diamati pada September 2026, mayoritas atau 34,81% sedang ditanami selain padi. Kemudian, lahan yang sedang diberakan atau dibiarkan mencapai 25,74%.
Sementara itu, lahan yang sedang ditanami padi atau standing crop hanya sebesar 20%. Adapun lahan yang telah dipanen mencapai 11,74% dan lahan dalam tahap persiapan mencapai 6,94%. Ateng menjelaskan, fenomena serupa juga terlihat ketika membandingkan kondisi pertanaman padi pada September 2023 dan September 2026, yang sama-sama berada dalam periode El Nino.
"Pada September 2023 dan juga September 2026 saat terjadi El Nino, proporsi luas standing crop atau pertanaman padi tercatat relatif lebih rendah, masing-masing sebesar 23,10% dan 20%," jelas dia.
Menurutnya, penurunan proporsi luas standing crop mengindikasikan lebih rendahnya luas pertanaman padi yang berada dalam fase vegetatif awal, vegetatif akhir, dan generatif. Kondisi tersebut berpotensi diikuti penurunan potensi luas panen padi dalam tiga bulan berikutnya. Sebab, masing-masing fase pertumbuhan tanaman padi memiliki waktu panen yang berbeda.
"Tanaman padi pada fase generatif, ini umumnya akan dipanen 1 bulan ke depan. Sedangkan pada fase vegetatif akhir, ini akan dipanen 2 bulan ke depan, dan fase vegetatif awal akan dipanen pada 3 bulan ke depan," terangnya.
Potensi Panen Padi Terancam Turun
Penurunan proporsi pertanaman padi tersebut menjadi salah satu kondisi yang perlu dicermati karena berpotensi memengaruhi luas panen pada periode selanjutnya. Berdasarkan hasil amatan KSA, luas panen padi pada September 2026 tercatat sebesar 0,91 juta hektare. Jumlah tersebut turun 19,40% dibandingkan September 2025 yang mencapai 1,13 juta hektare.
Secara kumulatif, luas panen padi sepanjang Januari-September 2026 mencapai 9,24 juta hektare atau turun 2,23% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, potensi luas panen pada Oktober-Desember 2026 diperkirakan hanya mencapai 1,54 juta hektare. Angka ini turun 17,75% atau sekitar 330 ribu hektare dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Dengan demikian, total luas panen padi sepanjang 2026 diperkirakan mencapai 10,78 juta hektare atau turun 4,80% dibandingkan tahun sebelumnya.
BPS juga memperkirakan produksi padi sepanjang 2026 mencapai 57,45 juta ton gabah kering giling (GKG), turun 4,57% atau sekitar 2,75 juta ton dibandingkan 2025.
Ateng mengingatkan, angka potensi luas panen masih dapat berubah mengikuti perkembangan kondisi pertanaman di lapangan.
"Sebagai catatan kami, angka potensi masih dapat berubah, ini bergantung pada kondisi pertanaman padi sepanjang nanti pada bulan Oktober sampai Desember tahun 2026, seperti pada saat adanya serangan hama atau organisme pengganggu tanaman (OPT), pada saat banjir, pada saat kekeringan, waktu pelaksanaan panen oleh petani mengalami perubahan, dan juga kondisi yang lainnya," pungkasnya.
(wur) [Gambas:Video CNBC]