BPS Ramal Produksi Beras 2026 Turun 1,59 Juta Ton, Ini Biang Keroknya
Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan produksi beras nasional sepanjang 2026 mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Berdasarkan hasil amatan Kerangka Sampel Area (KSA) September 2026, produksi beras Indonesia diperkirakan mencapai 33,11 juta ton sepanjang Januari-Desember 2026.
Angka tersebut turun 4,57% atau sekitar 1,59 juta ton dibandingkan produksi beras pada periode yang sama tahun 2025.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, penurunan produksi beras tersebut sejalan dengan proyeksi produksi padi yang juga diperkirakan lebih rendah pada tahun ini.
Secara rinci, produksi beras pada September 2026 diperkirakan mencapai 2,81 juta ton. Jumlah tersebut turun 18,25% dibandingkan September 2025 yang mencapai 3,44 juta ton. Sementara itu, produksi beras sepanjang Januari-September 2026 diperkirakan mencapai 28,10 juta ton atau turun 2,12% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Adapun untuk periode Oktober-Desember 2026, BPS memperkirakan potensi produksi beras hanya mencapai 5,01 juta ton. Angka ini turun 16,32% atau sekitar 980 ribu ton dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Sejalan dengan itu, produksi padi dalam bentuk gabah kering giling (GKG) sepanjang 2026 juga diperkirakan mengalami penurunan. BPS memperkirakan produksi padi mencapai 57,45 juta ton GKG, turun 4,57% atau sekitar 2,75 juta ton dibandingkan tahun sebelumnya.
Luas Panen Padi RI Menyusut
Penurunan produksi beras tersebut sejalan dengan menyusutnya luas panen padi nasional. BPS memperkirakan luas panen padi sepanjang Januari-Desember 2026 mencapai 10,78 juta hektare, turun 4,80% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Berdasarkan hasil amatan KSA September 2026, luas panen padi pada September tercatat sebesar 0,91 juta hektare. Angka tersebut turun 19,40% dibandingkan September 2025 yang mencapai 1,13 juta hektare.
Dengan demikian, luas panen padi sepanjang Januari-September 2026 mencapai 9,24 juta hektare atau turun 2,23% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Adapun luas panen padi pada Oktober-Desember 2026 diperkirakan mencapai 1,54 juta hektare. Jumlah ini menyusut 17,75% atau sekitar 330 ribu hektare dibandingkan periode yang sama pada 2025.
BPS juga mencatat adanya perubahan kondisi pertanaman padi pada September 2026. Hasil amatan menunjukkan mayoritas lahan pertanian justru sedang ditanami selain padi, dengan proporsi mencapai 34,81%.
Ilustrasi (Deny Napitupulu / Unsplash) Foto: Ilustrasi (Deny Napitupulu / Unsplash) |
Sementara itu, lahan yang berada dalam fase standing crop atau sedang ditanami padi hanya mencapai 20%. Kemudian, lahan yang sedang diberakan atau dibiarkan mencapai 25,74%, lahan yang telah dipanen sebesar 11,74%, dan lahan dalam tahap persiapan mencapai 6,94%.
Ateng menjelaskan, pada September 2026 terjadi penurunan proporsi luas lahan yang sedang ditanami padi dibandingkan Agustus 2026 maupun September 2025.
"Pada kondisi September 2026, terjadi penurunan proporsi luas standing crop atau pertanaman padi, kenaikan proporsi luas lahan yang diberakan atau dibiarkan, dan juga kenaikan proporsi luas lahan yang ditanami selain padi," ungkap Ateng dalam konferensi pers BPS, Senin (2/11/2026).
Menurut Ateng, penurunan proporsi standing crop mengindikasikan lebih rendahnya luas pertanaman padi yang berada dalam fase vegetatif awal, vegetatif akhir, dan generatif.
Kondisi tersebut berpotensi diikuti penurunan potensi luas panen padi dalam tiga bulan berikutnya.
Ini Daerah dengan Potensi Panen Padi Terbesar
Meski luas panen dan produksi padi diperkirakan turun, BPS mencatat masih terdapat sejumlah wilayah yang menjadi sentra potensi panen pada Oktober-Desember 2026. Secara umum, potensi panen terbesar terkonsentrasi di Pulau Jawa, terutama Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah.
Di Pulau Sumatra, potensi panen tersebar di Sumatra Utara, Lampung, Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Selatan. Sementara di Sulawesi, potensi panen berada di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah.
Adapun di Kalimantan, potensi panen terkonsentrasi di Kalimantan Selatan. Untuk wilayah Nusa Tenggara, potensi panen berada di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat. Jika dirinci berdasarkan kabupaten/kota, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, menjadi salah satu wilayah dengan potensi panen besar. Selain itu, terdapat Subang, Karawang, Bekasi, dan Cirebon.
Di Jawa Tengah, potensi panen berada di Kabupaten Sragen dan Pemalang. Sementara di Jawa Timur meliputi Ngawi, Banyuwangi, Ponorogo, Jember, dan Lumajang. Adapun di luar Pulau Jawa, potensi panen antara lain berada di Tulang Bawang dan Aceh Utara di Sumatra, serta Pinrang, Banggai, Luwu, dan Konawe di Sulawesi.
Ateng mengingatkan, angka potensi luas panen dan produksi masih dapat berubah mengikuti perkembangan kondisi pertanaman di lapangan.
"Sebagai catatan kami, angka potensi masih dapat berubah, ini bergantung pada kondisi pertanaman padi sepanjang nanti pada bulan Oktober sampai Desember tahun 2026, seperti pada saat adanya serangan hama atau organisme pengganggu tanaman (OPT), pada saat banjir, pada saat kekeringan, waktu pelaksanaan panen oleh petani mengalami perubahan, dan juga kondisi yang lainnya," pungkasnya.
(wur) [Gambas:Video CNBC]