China Longgarkan Keran Uang-Bank Diguyur Rp1.474 Triliun, Ada Apa?
Jakarta, CNBC Indonesia - Bank sentral China mulai menggeser suku bunga kebijakan utamanya ke tenor satu hari (overnight) dan menyuntikkan 541 miliar yuan atau sekitar Rp1.474 triliun ke sistem perbankan. Langkah ini diperkirakan melonggarkan kondisi pendanaan, menekan biaya pinjaman, dan menopang pertumbuhan ekonomi di tengah gejolak pasar keuangan.
Melansir Reuters, Senin (2/11/2026), Bank Rakyat China (PBOC) mengucurkan dana tersebut melalui instrumen reverse repurchase agreement atau reverse repo tenor satu hari dengan suku bunga 1,25%.
"Suku bunga kebijakan kini secara resmi beralih ke suku bunga jangka satu hari (overnight), dengan penetapan angka 1,25% yang mengonfirmasi tolok ukur biaya pendanaan yang ada saat ini," kata Kepala Ekonom CITIC Securities, Ming Ming.
Perubahan kerangka operasional tersebut secara efektif menurunkan batas bawah koridor suku bunga China sebesar 15 basis poin. Meski bukan pemangkasan suku bunga konvensional, kebijakan ini dinilai dapat menekan imbal hasil obligasi sekaligus mengurangi biaya pendanaan bagi lembaga keuangan.
Kepala Analis Pasar Keuangan MUFG China, Marco Sun, mengatakan penetapan suku bunga awal sebesar 1,25% menunjukkan arah kebijakan moneter yang mendorong suku bunga jangka pendek ke tingkat lebih rendah.
Sementara itu, Zhaopeng Xing, pakar strategi senior China di ANZ, menilai langkah tersebut setara dengan pemangkasan suku bunga 15 basis poin yang ditujukan bagi lembaga keuangan. Menurut Xing, kebijakan ini ibarat "angpau" bagi sektor keuangan yang dapat meningkatkan margin bunga bersih sekitar 5 basis poin.
"Tujuannya adalah untuk menstabilkan profitabilitas di sektor keuangan serta memperkuat kapasitas sektor tersebut dalam menyerap risiko," ujarnya. Namun, ia memperkirakan dampaknya terhadap pasar saham tidak akan signifikan.
Langkah PBOC berlangsung ketika kekhawatiran kredit terhadap pengembang milik negara, Zhuhai Huafa Group, mengguncang pasar obligasi. Kondisi ini menambah tekanan bagi pemerintah untuk memulihkan kepercayaan investor.
Secara terpisah, sejumlah regulator China, termasuk bank sentral, dilaporkan akan bertemu dengan lembaga keuangan guna membahas instrumen pendukung pasar modal di tengah gejolak saham dan obligasi.
Meski demikian, pelonggaran lebih lanjut belum tentu terjadi dalam waktu dekat. Analis Citi menilai perubahan tersebut merupakan penyesuaian berdasarkan mekanisme pasar (mark-to-market), bukan pemangkasan suku bunga secara de facto. Mereka juga tidak memperkirakan penurunan Loan Prime Rate (LPR), suku bunga acuan pinjaman China, pada November.
Citi memperkirakan pemangkasan suku bunga lebih mungkin dilakukan pada 2027. Sementara itu, kekhawatiran kredit baru yang melibatkan Zhuhai Huafa memperkuat urgensi penyelesaian utang pemerintah daerah, yang dinilai dapat membuat kondisi likuiditas tetap longgar untuk sementara waktu.
Sebelumnya, PBOC telah mengisyaratkan rencana menjadikan suku bunga reverse repo tenor satu hari sebagai acuan utama untuk memperbaiki transmisi kebijakan moneter dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
Â
(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]