Wow! Inflasi di Sulawesi Utara Capai 8,07% Oktober 2026, DKI Terendah

Dovana Hasiana, CNBC Indonesia
Senin, 02/11/2026 14:55 WIB
Foto: Harga sejumlah bahan pangan mengalami lonjakan pada awal pekan, Senin (2/11/2026) hari ini. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat masih tingginya tekanan inflasi di sejumlah daerah Indonesia, bahkan hingga melampaui tekanan inflasi nasional yang sebesar 3,23% secara tahunan pada Oktober 2026.

Tertinggi terjadi di Sulawesi Utara mencapai 8,07%. Diikuti oleh inflasi di Papua Pegunungan yang sebesar 7,22%, Papua Barat 6,38%, Maluku Utara 6,18%, Papua Tengah 611%, serta Kalimantan Tengah 5,19%.

"Secara tahunan, seluruh provinsi mengalami inflasi, tertinggi terjadi di Sulawesi Utara 8,07%," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono saat konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Senin (2/11/2026).


Adapun tekanan inflasi terendah tercatat di DKI Jakarta yang sebesar 2,52%, diikuti oleh Kalimantan Utara 2,68%, Banten 2,76%, Nusa Tenggara Timur 2,87%, Sumatera Selatan 2,87%, serta Jawa Barat 2,90%.

Sebagamana diketahui, inflasi nasional di Indonesia yang sebesar 3,23% pada Oktober 2026 semakin mendekati batas atas sasaran inflasi Bank Indonesia (BI) dan pemerintah yang ditetapkan sebesar 2,5% plus minus 1% atau 1,5%-3,5% tahun ini.

Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tahunan terutama didorong oleh tiga kelompok, yakni makanan, minuman dan tembakau; transportasi; serta perawatan pribadi dan jasa lainnya.

Sejumlah komoditas yang memberikan andil inflasi terbesar dari kelompok tersebut antara lain cabai rawit, ikan segar, beras, minyak goreng, daging ayam ras, sigaret kretek mesin (SKM), hingga daging sapi.

Selanjutnya, kelompok transportasi mengalami inflasi tahunan sebesar 4,87% dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,59%. Menurut Ateng, inflasi pada kelompok ini terutama didorong oleh kenaikan harga bensin, tarif angkutan udara, pelumas atau oli mesin, serta biaya pemeliharaan dan servis kendaraan bermotor.

Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi sebesar 4,52% dengan andil sebesar 0,32%. Kenaikan harga emas perhiasan menjadi salah satu komoditas yang mendorong inflasi pada kelompok tersebut.

Berdasarkan komponen, seluruh komponen mengalami inflasi tahunan pada Oktober 2026. Komponen inti mengalami inflasi 2,56% dan memberikan andil terbesar, yakni 1,64%. Komoditas yang dominan memberikan andil terhadap inflasi inti antara lain emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, telepon seluler, laptop, dan pelumas.

Adapun komponen harga yang diatur pemerintah atau administered prices mengalami inflasi 3,24% dengan andil sebesar 0,63%.

"Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada komponen ini antara lain bensin, tarif angkutan udara, susu kental manis, dan bahan bakar rumah tangga.

Sementara itu, komponen harga bergejolak atau volatile food mengalami inflasi tahunan sebesar 5,81% dengan andil 0,96%. Komoditas yang dominan menyumbang inflasi pada komponen harga bergejolak antara lain cabai rawit, beras, daging ayam ras, daging sapi, tomat, dan cabai merah," ujarnya.


(arj/arj)
Saksikan video di bawah ini:

Sabet 6 Medali Emas, DKI Jakarta Jadi Juara Umum Kejurnas Catur 2026