Bunga Obligasi AS Naik Jadi 5,51%, Fixed Rate Tertinggi dalam 20 Tahun

haa, CNBC Indonesia
Senin, 02/11/2026 10:10 WIB
Foto: Ilustrasi/ Obligasi AS/ Ilham Restu

Jakarta, CNBC Indonesia - Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) menaikkan tingkat bunga obligasi pemerintah seri I (Series I Bonds) menjadi 5,51% per tahun untuk periode pembelian 1 November 2026 hingga 30 April 2027.

Tingkat bunga tersebut meningkat dibandingkan periode sebelumnya yang sebesar 4,26%. Kenaikan ini membuat obligasi AS seri I kembali menarik di tengah meningkatnya tekanan inflasi di AS.

Mengutip CNBC International, Senin (2/11/2026), tingkat bunga baru obligasi I terdiri dari komponen bunga variabel sebesar 4,08% dan bunga tetap (fixed rate) sebesar 1,40%.


Komponen bunga tetap tersebut naik dari 0,90% yang diumumkan pada April 2026. Besaran bunga tetap 1,40% juga menjadi tingkat bunga tetap tertinggi sejak 2006 atau sejak 20 tahun lalu.

Jika digabungkan, kedua komponen tersebut menghasilkan tingkat bunga komposit sebesar 5,51% setelah pembulatan, menurut Departemen Keuangan AS.

Obligasi I merupakan instrumen investasi yang diterbitkan pemerintah AS dan dirancang untuk melindungi daya beli investor dari inflasi. Instrumen ini memiliki dua komponen bunga, yakni bunga tetap dan bunga variabel yang disesuaikan dengan perubahan inflasi.

Saat inflasi AS melonjak setelah pandemi, tingkat bunga obligasi I sempat mencapai rekor 9,62% pada Mei 2022. Tingginya imbal hasil saat itu mendorong investor menggelontorkan dana dalam jumlah besar ke instrumen yang dijamin pemerintah tersebut.

Namun, ketika inflasi mulai mereda dan tingkat bunga obligasi I turun, banyak investor jangka pendek memilih mencairkan investasinya.

Kini, kenaikan kembali tingkat bunga membuat instrumen tersebut berpotensi dilirik investor.

"Obligasi I jauh lebih menarik pada saat ini," ujar David Enna, pendiri Tipswatch, situs yang memantau surat berharga negara yang dilindungi dari inflasi (Treasury Inflation-Protected Securities/TIPS) dan tingkat bunga obligasi I.

Kenaikan bunga obligasi I terjadi di tengah tekanan inflasi AS yang kembali meningkat. Indeks harga konsumen (IHK) AS pada September 2026 tercatat naik 3,7% secara tahunan (year-on-year/yoy), lebih tinggi dibandingkan inflasi Agustus sebesar 3,4%.

Sejumlah faktor turut mendorong kenaikan harga. Perang Iran meningkatkan harga bensin dan biaya energi, sementara tarif impor yang diberlakukan Presiden Donald Trump, pembangunan pusat data kecerdasan buatan (AI), serta meningkatnya permintaan perjalanan juga menambah tekanan inflasi, menurut para ekonom.

Ekspektasi inflasi masyarakat pun meningkat. Survei Federal Reserve (The Fed) New York yang dirilis pada awal Oktober menunjukkan perkiraan inflasi untuk satu tahun ke depan naik menjadi 3,9% pada September. Angka tersebut merupakan yang tertinggi dalam lebih dari tiga tahun.

Cara Kerja Bunga Obligasi I

Tingkat bunga obligasi I terdiri dari dua komponen, yakni bunga tetap dan bunga variabel. Departemen Keuangan AS menyesuaikan tingkat bunga tersebut setiap enam bulan, yakni pada Mei dan November.

Komponen bunga variabel mengikuti perkembangan inflasi yang dihitung berdasarkan persentase perubahan indeks harga konsumen selama enam bulan. Setelah investor membeli obligasi, tingkat bunga variabel tersebut berlaku selama enam bulan, terlepas dari perubahan tingkat bunga yang diumumkan Departemen Keuangan AS berikutnya.

Sementara itu, komponen bunga tetap tidak berubah selama investor memegang obligasi tersebut. Departemen Keuangan AS tidak mengungkapkan secara terperinci metode penghitungan penyesuaian bunga tetap, sehingga pergerakannya lebih sulit diprediksi.

Ken Tumin, pendiri DepositQuest, memperkirakan bunga tetap obligasi I dapat dipengaruhi oleh imbal hasil riil atau imbal hasil setelah dikurangi inflasi dari obligasi TIPS bertenor lima tahun.

" Ada sejumlah ketidakpastian terkait hal tersebut," ujar Tumin.


(haa/haa)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Inflasi AS Melonjak 3,7%