Kementan Beberkan Cara Jaga Keberlanjutan Swasembada Pangan

Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
Jumat, 30/10/2026 18:16 WIB
Foto: Kepala Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Padi Amin Nur meyampaikan pemaparannya dalam acara World Food Day ”Inovasi untuk Kedaulatan Pangan Indonesia” di Jakarta, Jumat (30/10/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Pertanian (Kementan) mengungkapkan swasembada pangan terutama swasembada beras sudah tercapai sejak akhir tahun lalu. Namun, menjaga keberlanjutan swasembada pangan tentunya tidak mudah.

Kepala Badan Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Padi (BRMP) Kementan Amin Nur mengatakan untuk menjaga keberlanjutan swasembada pangan dan tentunya pengurangan kebutuhan impor, Indonesia perlu menciptakan kemandirian benih.

"Untuk menjaga supaya swasembada pangan dan impor ini bisa berkurang, yang kita harus lakukan itu adalah bagaimana membangun kemandirian benih. Karena kemandirian benih inilah merupakan fondasi untuk bagaimana supaya swasembada pangan ini bisa berkelanjutan," kata Amin dalam World Food Day CNBC Indonesia, Jumat (30/10/2026).


Selanjutnya, Amin menjelaskan agar semua pihak di sektor pertanian lebih memfokuskan terlebih dahulu komoditas pangan prioritas dalam hal pelarangan impor.

"Kemudian bagaimana kita melihat komoditas prioritas yang ada. Jadi yang sekarang ini menjadi prioritas utama itu adalah padi, jagung, dan kedelai. Nah itu yang harus menjadi prioritas kita untuk menjaga impor itu tidak masuk," terang Amin.

Selain kemandirian benih dan prioritas komoditas pangan, pihaknya juga menjelaskan penerapan teknologi yang selalu terupdate juga dapat menjaga keberlanjutan swasembada pangan.

"Kemudian bagaimana penerapan teknologi, budidaya, dan pasca panen yang harus kita kuasai. Sehingga betul-betul diterapkan pada komoditas yang produktivitas tinggi untuk menjaga komoditas kontinuitas produksi," jelasnya.

Terakhir, pihaknya menyoroti masalah pasokan yang kerap terjadi, membuat harga bisa melambung karena distribusi pangan tidak optimal akibat infrastruktur yang belum memadai.

"Terakhir, bagaimana kualitas dan kontinyuitas pasokan. Nah tentu disini adalah bagaimana benih-benih varietas padi itu yang bisa dikembangkan secara spesifik, kemudian proses produksi dan pengujiannya harus betul-betul dilakukan dengan baik terstandar dan ada penyimpanan serta distribusi benih yang harus dilakukan secara berjenjang. Itulah yang harus dilakukan sehingga terhubung antara pemerintah daerah, kemudian kelompok tani dan pasar, dan yang terakhir adalah bagaimana dampak terhadap pengurangan impor ini," ungkapnya.


(dce)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Terobosan Kemenko Pangan Perkuat Sinkronisasi Capai Swasembada