Penyebab RI Hujan Lebat Saat El Nino Sangat Kuat, Ini Penjelasan BMKG
Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan beberapa daerah berpotensi dilanda hujan lebat dalam beberapa hari ke depan, meski kondisi El Niño saat ini masih sangat kuat.
BMKG mengatakan kondisi kekeringan saat ini mendapat dorongan kuat dari interaksi El Niño sangat kuat dan IOD positif. Sepanjang 26-28 Oktober 2026, curah hujan terpantau minim diiringi keterbatasan awan, sementara temperatur udara relatif tinggi di atas 37°C di wilayah seperti Lampung serta Sulawesi Tengah.
Kendati kekeringan masih melanda, cuaca ekstrem berupa hujan lebat tetap membayangi sejumlah daerah lain. Hujan lebat hingga sangat lebat tercatat melanda Sumatra Utara dengan intensitas mencapai 131,0 mm/hari, Sumatra Barat mencapai 97,0 mm/hari, Aceh 75,0 mm/hari, Kalimantan Barat 65,0 mm/hari, dan Nusa Tenggara Barat (NTB) 55,0 mm/hari.
"Ketersediaan uap air yang melimpah akibat kehangatan suhu muka laut, ditambah pertemuan angin serta aktifnya fenomena MJO serta Gelombang Kelvin, Rossby Ekuatorial, dan MRG, menjadi faktor utama yang memicu hujan di wilayah-wilayah tersebut," kata BMKG dalam siaran resminya, dikutip Jumat (30/10/2026).
BMKG memprediksi pada periode Dasarian I November 2026, mengindikasikan bahwa mayoritas wilayah Indonesia didominasi oleh presipitasi kategori menengah (50-100 mm/dasarian) sebesar 67,62%, disusul kategori rendah (0-50 mm/dasarian) sebesar 30,57%, dan kategori tinggi (150-300 mm/dasarian) sebesar 1,81%.
Presipitasi rendah terkonsentrasi di Lampung, Banten, DKI Jakarta, pesisir utara Jawa, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, serta sebagian kawasan Sulawesi dan Maluku.
Kendati akumulasi dasarian berada pada rentang rendah hingga menengah, dinamika atmosfer berpeluang memicu pembentukan awan konvektif. Dalam sepekan ke depan, penjalaran Madden-Julian Oscillation (MJO) diprediksi memengaruhi wilayah barat dan selatan Indonesia, sedangkan Gelombang Kelvin diprediksi aktif di bagian timur.
"Fenomena-fenomena ini mendorong pertumbuhan awan hujan, terutama pada area dengan konvergensi massa udara dan labilitas atmosfer yang signifikan," terang BMKG.
Selain itu, dinamika pola angin regional turut dipengaruhi oleh kemunculan Bibit Siklon Tropis 91B di Laut Andaman serta pola sirkulasi siklonik di Laut Natuna.
Keberadaan kedua sistem tersebut membentuk zona konvergensi dan perlambatan kecepatan angin (konfluensi), yang menstimulasi pembentukan awan konvektif pemicu hujan intensitas sedang hingga lebat disertai kilat dan angin kencang.
Oleh sebab itu, meskipun akumulasi dasarian tergolong sedang, probabilitas presipitasi ekstrem harian tetap memerlukan antisipasi mitigasi bencana hidrometeorologi.
Potensi Hujan Sepekan
BMKG memprakirakan musim hujan di sisa 2026 berlangsung bertahap mulai November, berlanjut pada Desember 2026, dengan puncak pada Desember 2026 hingga Februari 2027. Saat ini, bibit siklon tropis 91B terpantau terbentuk pada Kamis (29/10/2026) pukul 01.00 WIB di Laut Andaman, sebelah utara Aceh.
Dampak tidak langsungnya dalam 24 jam ke depan, berpotensi menimbulkan hujan sedang hingga lebat di Aceh dan Sumatra Utara, serta gelombang setinggi 1,25-2,5 meter di Selat Malaka bagian utara.
Untuk periode 3 hari ke depan yakni pada 29-31 Oktober 2026, BMKG mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem. Status Siaga (hujan lebat-sangat lebat) berpotensi terjadi di Aceh, Lampung, Bengkulu, Riau, Sumatra Barat, Sumatra Selatan, dan Sumatra Utara.
Sementara status Waspada (hujan sedang-lebat) mencakup wilayah Pulau Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Bali, Maluku, Maluku Utara, NTB, NTT, dan Papua.
Periode 30 Oktober - 1 November 2026
Hujan dengan intensitas sedang berpotensi terjadi di Jambi, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan.
Hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat berpotensi terjadi di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, dan Lampung.
Hujan dengan intensitas sangat lebat disertai angin Kencang berpotensi terjadi di Aceh dan Sumatra Utara.
Periode 2 - 5 November 2026
Hujan dengan intensitas sedang berpotensi terjadi di Aceh, Sumatra Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Papua Barat, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan.
Hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat berpotensi terjadi di Sumatra Barat.
Hujan dengan intensitas sangat lebat disertai angin kencang berpotensi terjadi di Banten dan Sumatra Barat.
Imbauan BMKG
Dalam kondisi potensi cuaca tersebut, BMKG mengimbau masyarakat untuk terus mengantisipasi dampak cuaca panas dan kondisi udara yang lebih kering seiring musim kemarau yang masih berlangsung. Penggunaan tabir surya diperlukan guna mengurangi paparan langsung sinar matahari.
"Masyarakat juga diimbau untuk menjaga kecukupan cairan tubuh terutama bagi yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari, agar terhindar dari dehidrasi dan kelelahan," imbuh BMKG.
Seiring menguatnya kondisi kering, masyarakat dan pemerintah daerah diimbau untuk menghemat penggunaan air serta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan.
BMKG meminta masyarakat tidak membakar sampah atau membuka lahan secara sembarangan, terutama di kawasan yang mudah terbakar seperti lahan gambut, semak belukar, dan hutan, serta segera melaporkan jika menemukan indikasi titik api.
Meskipun musim kemarau masih dominan, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang masih berpotensi terjadi secara lokal.
"Masyarakat dan para pemangku kepentingan perlu tetap mewaspadai potensi genangan, longsoran material, dan sambaran petir yang berpotensi mengikuti," pungkas BMKG.
(dce)