Mendag Ungkap Nasib Ekspor RI Sampai Akhir Tahun, Ada "Senjata Baru"
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso memasang target pertumbuhan ekspor Indonesia mencapai 5,5%-6,5% hingga akhir 2026. Target tersebut dikejar di tengah berbagai hambatan perdagangan global yang masih membayangi aktivitas ekspor.
Budi mengungkapkan, kinerja ekspor Indonesia masih tumbuh positif. Berdasarkan data Januari-Agustus 2026, ekspor nasional tercatat meningkat 4,7%.
"Jadi kalau kita lihat memang perkembangan perdagangan global kita saat ini banyak hambatan ya. Tetapi kita optimis, karena ekspor kita Januari-Agustus itu tetap naik 4,7%. Jadi kita cukup optimis," ujar Budi dalam Rapimnas Kadin 2026 di Jakarta, Jumat (30/10/2026).
Dia mengakui, kinerja perdagangan Indonesia sempat mengalami penurunan atau defisit pada Mei-Juni. Kondisi tersebut salah satunya dipengaruhi kenaikan harga minyak pada Maret yang dampaknya terasa beberapa bulan kemudian.
"Ya tetapi saat itu memang harga minyak lagi tinggi pada bulan Maret sehingga berimbas pada bulan Mei-Juni. Nah sekarang mudah-mudahan sampai dengan Desember target kita adalah 5,5% sampai 6,5%," katanya.
Di tengah upaya menggenjot ekspor nasional, pemerintah juga mendorong kontribusi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk menembus pasar internasional.
Budi mengungkapkan, program UMKM Bisa Ekspor yang dijalankan Kementerian Perdagangan (Kemendag) telah mencatatkan nilai transaksi US$360 juta sepanjang Januari-September 2026.
Capaian tersebut meningkat dibandingkan nilai transaksi sebesar US$134 juta pada tahun sebelumnya. Menariknya, sekitar 60% UMKM yang terlibat dalam program tersebut sebelumnya belum pernah melakukan ekspor.
"Nah pada tahun 2025 atau tahun kemarin, nilai transaksinya itu US$134 juta. Itu UMKM yang 60% belum pernah ekspor. Nah sekarang, bulan Januari sampai dengan September (2026) nilainya sudah US$360 juta," ungkap Budi.
Melalui program tersebut, Kemendag memfasilitasi UMKM untuk mendapatkan akses pembeli di pasar internasional. Pemerintah memanfaatkan jaringan perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri, termasuk atase perdagangan dan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC), untuk mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli.
Budi menjelaskan, pelaku UMKM cukup mempresentasikan produk mereka kepada perwakilan perdagangan Indonesia. Selanjutnya, pemerintah membantu mencarikan calon pembeli atau buyer di negara tujuan.
"Jadi UMKM di bawah binaan Kadin misalnya, di bawah binaan Himbara, itu nanti tinggal melakukan presentasi. Presentasi kepada perwakilan kita, atase perdagangan dan ITPC, ya. Kemudian atase perdagangan dan ITPC ini mencarikan buyer," jelasnya.
Dia pun berharap semakin banyak UMKM, termasuk yang berada di daerah, memanfaatkan program tersebut untuk memperluas pasar produknya ke luar negeri.
"Saya harap nanti Bapak-Ibu anggota Kadin di daerah ikut. Saya yakin, makanya saya tadi sampaikan bahwa saya ingin bicara yang teknis, karena saya yakin hal-hal seperti ini tidak diketahui oleh Bapak-Ibu terutama yang ada di daerah," pungkas dia.
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso saat memberikan paparannya di acara Rapimnas Kadin 2026 di Jakarta, Jumat (30/10/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky) Foto: Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso saat memberikan paparannya di acara Rapimnas Kadin 2026 di Jakarta, Jumat (30/10/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky) |
