Tiba-tiba Mendag Ajak Mahasiswa Jadi Aktivis, Sebut-Sebut Ronaldo
Bogor, CNBC Indonesia - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengajak mahasiswa untuk mengambil peran lebih besar dalam mendorong ekspor nasional. Bahkan, ia menyebut mahasiswa perlu menjadi "aktivis" yang aktif memasarkan dan menghubungkan produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) ke pasar global.
"Menginginkan anak-anak kita itu jadi aktivis. Jadi aktivis semua, harus. Tapi aktivis ekspor. Jadi kita mencari hal-hal yang positif," kata Budi dalam sambutannya di acara Campuspreneur di IPB, Bogor, Jumat (12/6/2026).
Menurutnya, anak muda harus memiliki cita-cita yang jelas sejak dini agar mampu menentukan arah masa depan.
"Kalau umur sekarang itu (masih muda), belum tahu goal-nya apa ya, jadi suka nggak tahu nanti ke depannya mau seperti apa. Jadi sekarang harus punya cita-cita, makanya harus punya cita-cita, punya impian. Itu Ronaldo pemain bola bilang, 'Mimpi yang membuat kita maju adalah bukan mimpi yang kita dapatkan waktu tidur, tetapi mimpi yang membuat kita maju adalah mimpi yang membuat kita tidak bisa tidur.' Itu menurut Ronaldo," ujarnya.
Ia pun mengaitkan semangat tersebut dengan dunia ekspor, yang kini terus didorong pemerintah.
"Jadi kalau tidak bisa tidur karena memang memimpikan jadi eksportir, bagus. Bagaimana cara jadi eksportir sampai nggak bisa tidur, bagus. Jangan gara-gara malah mimpi yang lain gitu kan. Nah itu yang harus kita lakukan," ucap dia.
Menurut Budi, Kementerian Perdagangan telah menyiapkan berbagai fasilitas untuk membantu mahasiswa dan pelaku usaha muda mengembangkan produknya, mulai dari konsultasi desain hingga akses promosi dan pasar.
"Jadi bagaimana produk adik-adik semua ini nanti masuk juga di pasar dalam negeri. Kita menyiapkan pasarnya, kita ada klinik desain, kita mempersiapkan desainnya juga ada. Semua gratis ya, jadi adik-adik kalau mau konsultasi desain semua gratis. Nah itu kita lakukan," katanya.
Budi juga mengundang mahasiswa untuk memanfaatkan ajang Trade Expo Indonesia (TEI) yang akan digelar pada 14-18 Oktober 2026 mendatang. Dalam pameran tersebut, Kemendag berencana memberikan ruang khusus bagi para pelaku usaha dari kampus.
"Jangan lupa tanggal 14 sampai 18 Oktober kita ada Trade Expo. Kita akan mendatangkan buyer.. nanti kita akan buatkan khusus untuk booth campuspreneur kalau anggarannya ada. Tapi ada, nanti kita carikan, ada," ujarnya.
Budi mencontohkan keberhasilan program promosi produk unggulan yang pernah difasilitasi Kemendag melalui booth "Pilihan Busan". Dari sekitar 15 perusahaan yang mengikuti program tersebut, sebagian besar berhasil memperoleh transaksi.
"(Di TEI) kemarin ada booth Pilihan Busan, itu dari sekitar 15 perusahaan, 10-nya itu dapat transaksi. Transaksi ya sampai ada radio itu, juga binaan dari IPB. Itu dapat transaksi 2.000 unit radio," ungkap Budi.
"Nah itu sampai dia tidak bisa memproduksi (sendiri), akhirnya dia ngumpulin UMKM," sambungnya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan Kemendag saat ini telah bekerja sama dengan 19 kampus untuk memberikan pelatihan ekspor sekaligus mempertemukan mahasiswa dengan calon pembeli dari luar negeri.
"Kita sudah kerja sama di 19 kampus. Jadi kita memberikan pelatihan kemudian setelah itu business matching. Saya pikir hari ini juga ada business matching dengan Singapura ya, perwakilan kita di Singapura. Nah itu fasilitas yang kita berikan, pelatihan-pelatihan ekspor kepada anak-anak mahasiswa kita," kata dia.
Menurut Budi, mahasiswa tidak perlu khawatir jika belum memiliki pabrik atau produk sendiri. Mereka tetap bisa terlibat dalam aktivitas ekspor dengan menjadi agregator yang menghubungkan produk-produk UMKM dengan pasar internasional.
"Kemudian tidak hanya pelatihan tetapi bagaimana barang-barang itu dijual. Jadi adik-adik jangan khawatir 'Wah saya nggak punya produk pak, saya nggak punya pabrik'. Tidak harus begitu. Eksportir atau anak-anak mahasiswa ini bisa menjadi agregator," ujarnya.
"Ya agregator itu bagaimana bisa jualan dengan produk-produk dari UMKM. Tinggal kumpulin produk-produk UMKM, dibina ya, kemudian di-standardisasi, kemudian kita mampu menjualkan. Ya jadi marketingnya. Kalau bahasa kasarnya makelar lah ya, nggak apa-apa. Tapi itu justru yang kita cari ya agregator. Kita mengumpulkan banyak agregator. Kemarin kita mengumpulkan 300 agregator di Jakarta," terang dia.
Budi menilai para agregator tersebut merupakan ujung tombak dalam upaya meningkatkan ekspor Indonesia.
"Karena mereka ujung tombak kita. Adik-adik ujung tombak kita untuk terus meningkatkan ekspor kita," katanya.
Dalam kesempatan itu, Budi juga mendorong mahasiswa agar tidak hanya berorientasi menjadi pencari kerja setelah lulus kuliah. Ia berharap lulusan perguruan tinggi mampu menjadi pencipta lapangan pekerjaan melalui kewirausahaan.
"Ya kita ingin anak-anak kita para mahasiswa itu nanti kalau lulus langsung jadi pengusaha, jadi entrepreneur. Jangan lulus sibuk mencari pekerjaan ya, tapi bisa menciptakan pekerjaan untuk lingkungan kita dan untuk diri kita sendiri," ujar Budi.
Budi mengungkapkan, program business matching yang dijalankan Kemendag telah menghasilkan transaksi ekspor yang signifikan. Dalam skema tersebut, UMKM binaan dipertemukan dengan perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri sebelum akhirnya dipertemukan langsung dengan calon pembeli.
"UMKM di bawah binaan nanti presentasi ke perwakilan kita di luar negeri ke atase ITPC. Setelah itu atase ITPC mencarikan buyer. Setelah dapat buyer nanti teman-teman presentasi lagi langsung ke buyer semua secara online," jelasnya.
Hasilnya, sepanjang 2025 transaksi ekspor dari program tersebut mencapai US$134,8 juta atau lebih dari Rp2 triliun. Menariknya, sekitar 70% pelaku usaha yang terlibat sebelumnya belum pernah melakukan ekspor.
"Dan tahun lalu (2025) itu transaksinya sudah US$134,8 juta, atau Rp2 triliun lebih. Itu UMKM yang 70% belum pernah ekspor. Tahun ini Januari-April sudah US$193,88 juta. Jadi sudah melebihi tahun lalu yang setahun. Ini baru sampai April. Nah itu yang kita lakukan," pungkasnya.
source on Google [Gambas:Video CNBC]