Nelayan Obi Ikut Lomba Mancing di Festival Harmoni, Tangkapan Beragam
Jakarta, CNBC Indonesia - Lebih dari 270 peserta mendaftar dalam Obi Fishing Tournament, bagian dari Festival Harmoni Obi 2026 yang digelar pada 24-25 Oktober di Desa Kawasi, Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara. Jumlah itu naik lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya yang diikuti 135 peserta. Mayoritas peserta adalah nelayan dari Desa Kawasi, Desa Soligi, dan desa sekitar area operasional.
Salah satunya Harmin (37), nelayan Desa Soligi, Obi Selatan. Sebelum turun ke laut, ia selalu memeriksa nilong, senar pancing yang oleh orang Maluku disebut tasi. Ia memastikan senarnya cukup kuat, mengecek mata pancing, lalu menyiapkan umpan, kadang spons, kadang potongan ikan. Kebiasaan itu ia jalani hampir setiap hari sejak lebih dari 20 tahun lalu.
Harmin mulai melaut selepas lulus sekolah dasar. Ia belajar dari orang tuanya, lalu dari tetangga. Di Soligi, ilmu melaut tidak hanya diturunkan di dalam keluarga, tetapi juga dibagi antarwarga. "Kita saling mengajak satu sama lain," ungkap Harmin, dikutip Jumat (30/10/2026).
Bagi Harmin, laut pertama-tama adalah sumber makan keluarga. Hasil tangkapannya dipakai untuk kebutuhan sendiri, dan baru dijual jika ada lebih.
"Pekerjaan saya hampir setiap hari ke laut. Kalau ada lebih, baru saya jual, sisanya untuk saya konsumsi sendiri," katanya.
Menurut Harmin, nelayan hingga kini masih bisa mendapat ikan di pesisir pantai Obi. Perairan Soligi memberinya beragam ikan, seperti bobara, tongkol, dan kerapu. Ia bahkan pernah mendapat ikan dengan berat lebih dari 10 kilogram.
Tahun ini adalah lomba mancing pertama bagi Harmin. Ia mengaku lomba berbeda jauh dengan melaut sehari-hari.
"Kalau lomba, dapat keuntungan seperti mental jadi belajar banyak, mendapat pengalaman kebersamaan dalam kompetisi yang kita lakukan. Kita juga bisa tahu sampai berapa jauh kemampuan kita dalam memancing," ujarnya.
Panitia bersama Asosiasi Pemancing Republik Indonesia menilai hasil tangkapan berdasarkan jenis dan bobot ikan. Ikan yang berhasil ditangkap beragam, mulai dari kakap merah, kerapu, tuna, hingga bobara (giant trevally). Area pemancingan dibatasi pada perairan di depan kawasan. Tangkapan dibatasi pada ikan target yang lazim dikonsumsi atau diperdagangkan, sementara ikan yang dilindungi tidak boleh ditangkap.
Sekretaris Desa Kawasi, Frans Datang, mengatakan penting menjaga kelestarian laut agar manfaatnya terus dirasakan masyarakat.
"Pulau Obi memiliki potensi laut yang besar. Karena itu, penting bagi kita untuk menjaga kelestariannya agar manfaatnya bisa terus dirasakan oleh masyarakat," jelas Frans.
Bagi Harmin, lomba juga menjadi ajang bertemu nelayan dari desa lain, dan itu yang paling ia ingat dari festival ini.
"Torang berkumpul di nelayan itu silaturahmi kepada sesama teman-teman nelayan, agar hubungan kemanusiaan semakin baik, jadi semakin mengenal satu sama lain. Orang Kawasi jadi bisa saling mengenal dengan orang Soligi," tambahnya.
Selain lomba, festival yang dihadiri lebih dari seribu warga dan karyawan Harita Nickel ini menampilkan pertunjukan seni budaya, antara lain dua kelompok tari lokal dan paduan suara anak-anak. Sepuluh UKM lokal juga membuka bazar kuliner dan jajanan khas Obi dan Maluku Utara.
Rangkaian festival ditutup dengan memasak dan makan bersama. Puluhan mama-mama bersama Juara Masterchef Season 13 Stephanie Meyerson mengolah hasil tangkapan turnamen, termasuk kakap merah dan tuna, menjadi hidangan seperti ikan asam pedas dan sate lilit ikan. Warga dan karyawan lalu menikmati hidangan itu bersama.
Festival Harmoni Obi 2026 menjadi cara Harita Nickel dan masyarakat setempat memperkenalkan potensi laut, budaya, serta usaha lokal Pulau Obi kepada khalayak yang lebih luas. Adapun Harmin sudah bertekad ikut lagi tahun depan.
(rah/rah)