CLOSE AD
MARKET DATA

Di Balik Upaya Menjaga Ekosistem Laut dan Pesisir Pulau Obi

Khoirul Anam,  CNBC Indonesia
23 October 2026 21:15
Tim Environmental Marine sedang melakukan pemantauan kualitas perairan dan ekosistem laut (Dok Harita Nickel)
Foto: Tim Environmental Marine sedang melakukan pemantauan kualitas perairan dan ekosistem laut (Dok Harita Nickel)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perairan Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara, menjadi habitat beragam biota laut dan ekosistem terumbu karang. Bagi masyarakat pesisir, laut menjadi sumber penghidupan sekaligus jalur transportasi antarpulau. Di tengah aktivitas pertambangan dan pengolahan nikel, menjaga kondisi ekosistem perairan menjadi penting bagi keberlanjutan lingkungan dan kehidupan masyarakat setempat.

Di bawah permukaan laut Obi, sejumlah penyelam bergerak di antara terumbu karang, mengamati kehidupan biota di sekitarnya. Mereka bukan penyelam wisata atau peneliti yang datang sesekali untuk melihat keindahan bawah laut Obi.

Para penyelam ini merupakan bagian dari tim Environmental Marine Harita Nickel, perusahaan pertambangan dan pengolahan nikel yang beroperasi di pulau tersebut. Tim ini bertugas memantau kualitas air dan kondisi ekosistem sesuai ketentuan lingkungan yang berlaku.

"Saya dan tim bertugas secara intens memantau kualitas perairan dan ekosistem laut agar dampak baiknya bukan hanya untuk perusahaan, tapi juga masyarakat sekitar," kata Environment Marine Foreman Harita Nickel Putri Wullandari Hamid, Jumat (23/10/2026).

Tim Environmental Marine merupakan bagian dari Departemen Health, Safety, and Environment (HSE) Harita Nickel. Kegiatannya mencakup pemantauan kualitas air laut, kondisi ekologi, pertumbuhan karang, identifikasi ikan karang, serta kondisi meteorologi dan oseanografi.

"Pemantauan dilakukan secara berkala, mulai dari mingguan, bulanan, hingga triwulanan, bergantung pada aspek yang diamati," kata VP Environmental Marine Harita Nickel Windy Prayogo.

Secara rutin, tim mengambil sampel air laut dan memeriksa kondisi bawah laut, termasuk di area yang sulit dijangkau penyelam. Untuk menjangkau lokasi tersebut, tim memanfaatkan kendaraan bawah air yang dikendalikan dari jarak jauh atau remotely operated vehicle (ROV). Sampel dianalisis di laboratorium eksternal yang terakreditasi, lalu dibandingkan dengan baku mutu yang berlaku.

Menurut Laporan Keberlanjutan Harita Nickel, sepanjang 2025 seluruh efluen yang dilepaskan dari fasilitas operasional memenuhi baku mutu. Pemantauan juga melibatkan pihak eksternal, seperti perguruan tinggi, konsultan lingkungan, dan LSM. Sejumlah titik pemantauan air limbah juga terhubung secara daring dengan Kementerian Lingkungan Hidup, sehingga dapat diawasi langsung oleh regulator.

"Pengujian dan pemantauan ini penting untuk mengetahui kondisi perairan berdasarkan data. Kami juga bekerja sama dengan pihak eksternal agar pengamatan lingkungan dapat dilakukan dari berbagai sudut pandang," kata Windy.

Tim Environmental Marine sedang melakukan pemantauan kualitas perairan dan ekosistem laut (Dok Harita Nickel)

Rumah Baru Bagi Ikan Karang

Selain melakukan pemantauan, tim Environmental Marine juga melakukan rehabilitasi melalui penempatan reef cube di dasar laut. Struktur buatan ini berfungsi sebagai tempat menempel dan tumbuhnya karang, sekaligus menyediakan ruang hidup bagi berbagai organisme.

Hingga 2025, lebih dari 2.500 reef cube telah ditempatkan di perairan Obi dengan pertumbuhan karang tercatat hingga 18,9 cm. Tim juga mengidentifikasi ikan karang dari 28 famili yang mulai berkoloni di area reef cube. Terumbu karang merupakan habitat penting bagi berbagai jenis ikan. Karena itu, kondisi ekosistem bawah laut juga berkaitan dengan keberlanjutan sumber daya perikanan yang dimanfaatkan masyarakat pesisir Obi.

Upaya pengelolaan lingkungan pesisir juga mencakup konservasi mangrove. Harita Nickel bekerja sama dengan Komunitas Tongke, sebuah kelompok masyarakat, dalam kegiatan penanaman mangrove di Desa Soligi, Obi Selatan. Ekosistem mangrove menjadi habitat bagi berbagai biota pesisir dan dapat membantu mengurangi energi gelombang serta risiko erosi pantai. Vegetasi ini berperan sebagai habitat biota pesisir, sekaligus membantu mengurangi energi gelombang dan risiko erosi pantai.

"Konservasi mangrove tidak bisa hanya mengandalkan penanaman bibit. Perlu ada pemantauan dan perawatan agar tanaman dapat tumbuh dengan baik. Karena itu, kolaborasi dengan masyarakat seperti Komunitas Tongke menjadi penting dalam mendukung upaya pemulihan ekosistem pesisir," kata Windy.

Merayakan Kedekatan Masyarakat dengan Laut

Bagi masyarakat Obi, hubungan dengan laut tidak hanya berkaitan dengan mata pencaharian, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sosial. Kedekatan tersebut turut mendapat ruang dalam Festival Harmoni Obi yang akan digelar pada 24-25 Oktober 2026.

Salah satu rangkaian acaranya adalah lomba memancing, yang menjadi ajang berkumpul sekaligus merayakan tradisi masyarakat pesisir. Menurut Windy, tanggung jawab menjaga perairan Obi berada di tangan semua orang, termasuk perusahaan, warga sekitar, dan masyarakat umum.

"Harapannya masyarakat juga bisa mengenal perairan Obi dari dekat, dan setelah mengenal timbul rasa untuk menjaga" katanya.

Di luar perayaan tersebut, upaya menjaga ekosistem tetap membutuhkan pemantauan, rehabilitasi, dan keterlibatan berbagai pihak agar sumber daya laut Obi dapat terus dimanfaatkan oleh generasi mendatang.

(rah/rah) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Resmi! Wilayah di Kepala Burung Papua Ini Diketok Jadi Zona Konservasi


Most Popular
Features