Dunia Gonjang-Ganjing, Anindya Bakrie Beri Petuah Ini ke Pemerintah

Martyasari Rizky, CNBC Indonesia
Kamis, 29/10/2026 16:55 WIB
Foto: Ketua Umum Kadin, Anindya Bakrie di acara Indonesia Maritime Week 2025 di Jakarta International Convention Centre (JICC), Senayan, Jakarta, Rabu (28/5/2025). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie, mengingatkan pentingnya memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global. Sejumlah negara mulai menyiapkan cadangan darurat untuk menghadapi berbagai risiko, termasuk potensi gangguan pasokan energi dan bencana.

Anindya mengatakan, kondisi global saat ini menuntut setiap negara memiliki kesiapan dalam menghadapi situasi darurat. Dia mencontohkan Amerika Serikat yang disebut menyiapkan cadangan bahan bakar minyak (BBM) untuk 90 hari, sementara Inggris meminta warganya memiliki persediaan kebutuhan untuk bertahan selama 72 jam.

"Mungkin sudah sadar, bahwa dunia sedang membangun cadangan darurat, dan ini bukan negara-negara kecil. Amerika Serikat mengatakan 90 hari untuk cadangan BBM. Lalu Inggris meminta warganya 72 jam untuk bisa istilahnya berdiri sendiri atau swasembada, dan siaga bencana 3 hari, setiap rumah mesti punya stok," kata Anindya dalam pembukaan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kadin 2026 di Jakarta, Kamis (29/10/2026).


Menurutnya, Indonesia juga perlu terus memperkuat ketahanan pangan, air, dan energi untuk menjaga kedaulatan nasional di tengah situasi dunia yang tidak menentu.

"Bersamaan, Indonesia juga tentunya membangun ketahanan pangan, air, dan energi, di tengah dunia yang tidak pasti ini. Karena kita mengerti bahwa ketahanan daripada pangan, air, energi adalah bagian daripada kedaulatan Indonesia," ujarnya.

Anindya menilai ketahanan pangan, air, dan energi merupakan bagian penting dari kedaulatan ekonomi Indonesia. Dia pun mengaitkan hal tersebut dengan konsep Trisakti yang pernah disampaikan Presiden pertama RI, Soekarno.

"Ini juga sering dikumandangkan oleh Pak Presiden Prabowo, dan juga oleh Presiden Soekarno dengan Trisakti-nya, yaitu kedaulatan ekonomi, kedaulatan politik dan juga kebudayaan," tutur dia.

Di tengah ketidakpastian tersebut, Anindya menilai fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat. Dia menyebut Indonesia tetap mampu mencatatkan pertumbuhan ekonomi positif dibandingkan sejumlah periode krisis sebelumnya.

"Nah, kenapa? Karena kita resilien atau mempunyai daya tahan. Daya tahan berdasarkan data dan juga daya tahan berdasarkan alam yang diberikan," ucap Anindya.

Dia kemudian membandingkan kondisi ekonomi Indonesia saat ini dengan beberapa periode krisis, mulai dari krisis finansial Asia 1998, krisis keuangan global 2008, hingga pandemi Covid-19 pada 2020.

"Kita lihat tahun 1998 minus 13%, tahun 2020 waktu (pandemi) Covid-19 minus 2,1%, sedangkan sekarang plus 5,1%. Jadi dapat kita sampaikan. melihat data, fundamental kita kuat dan selamat tentunya untuk pemerintah di bawah pimpinan Pak Presiden Prabowo," tuturnya.

Meski demikian, Anindya tidak menampik adanya tekanan di pasar modal dan keuangan Indonesia. Dia menyebut tekanan tersebut perlu diwaspadai, tetapi tidak seharusnya membuat pelaku usaha mengabaikan kondisi fundamental ekonomi.

"Rp124 triliun keluar dari pasar modal, IHSG minus 40%, lalu dolar Rp18.170. Tapi bersamaan kembali ke fundamental," katanya.

Anindya juga menyoroti sejumlah indikator yang menurutnya masih menunjukkan ketahanan ekonomi Indonesia, di antaranya realisasi penanaman modal asing (PMA), pertumbuhan laba bersih emiten, cadangan devisa, dan pertumbuhan kredit.

"Kita lihat bahwa PMA di bawah Pak Menteri Rosan Rp270 triliun, laba bersih emiten, beda dengan waktu krisis, tumbuh 16%, dan juga cadangan devisa US$146 miliar. Dan tentu year on year (tahunan) pertumbuhan kredit 13,3%," jelas Anindya.

Dia menegaskan, tekanan di pasar tetap perlu diperhatikan. Namun, menurutnya, pelaku usaha perlu tetap berfokus pada fundamental ekonomi agar tidak terpengaruh berlebihan oleh gejolak yang terjadi.

"Kita tidak mengatakan yang sebelah kiri tidak ada, dan mesti diwaspadai, tapi kembali kepada fundamental dan saya rasa itu yang paling tepat supaya kita tidak terpengaruh terhadap hingar-bingar," pungkasnya.


(wur)
Saksikan video di bawah ini:

Ini 5 Sektor Yang Bisa Dukung Ekonomi Indonesia