MARKET DATA

Kawasan Industri Sedang Tak Baik-Baik Saja, Lapak Terisi Baru 57%

Ferry Sandi,  CNBC Indonesia
29 October 2026 14:25
ilustrasi
Foto: Petugas mengecek mobil yang akan diekspor di kawasan PT Indonesia Kendaraan Terminal, Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (23/6/2026). Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat ekspor mobil utuh atau completely build up (CBU) mencapai 47.560 unit pada Mei 2026 atau naik 31,4 persen secara bulanan dibandingkan April 2026 yang mencapai 36.207 unit sehingga mencerminkan kuatnya permintaan pasar global terhadap kendaraan produksi dalam negeri. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemanfaatan kawasan industri di Indonesia masih belum maksimal. Dari seluruh kawasan industri yang sudah beroperasi, tingkat utilisasinya baru mencapai 57,2%. Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah untuk mengoptimalkan kapasitas yang tersedia sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Menteri Perindustrian Sarmuji mengatakan, peningkatan utilisasi kawasan industri menjadi salah satu pembahasan dalam pertemuannya dengan Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI). Pemerintah ingin mengidentifikasi berbagai kendala yang membuat pemanfaatan kawasan industri belum optimal.

"Yang kedua, tadi kita membahas tentang utilisasi kawasan industri supaya lebih maksimal. Karena sampai sekarang itu baru 57,20% utilisasi kawasan industri yang ada, yang existing," kata Sarmuji usai bertemu Ketua Himpunan Kawasan Industri (HKI) Akhmad Ma'ruf Maulana di Kemenperin, Kamis (29/10/26).

Angka tersebut menunjukkan masih terdapat ruang yang cukup besar untuk meningkatkan pemanfaatan kawasan industri yang telah tersedia. Optimalisasi ini menjadi penting agar kapasitas yang sudah dibangun bisa memberikan kontribusi lebih besar terhadap aktivitas produksi dan investasi. Peningkatan utilisasi tidak hanya akan berdampak pada perkembangan kawasan industri itu sendiri.

"Kalau itu bisa kita tingkatkan utilisasinya, itu akan sangat berpengaruh kepada pertumbuhan kawasan dan juga pertumbuhan ekonomi secara nasional," katanya.

Untuk mencapai target tersebut, pemerintah perlu mengetahui persoalan yang menghambat masuknya kegiatan industri ke kawasan yang tersedia. Pembahasan itu juga melibatkan HKI sebagai pihak yang memahami kondisi kawasan industri di lapangan. Masukan dari pengelola kawasan diperlukan untuk memetakan persoalan yang selama ini menghambat optimalisasi kapasitas.

"Karena itu, apa saja yang diperlukan untuk mendukung utilisasi kawasan industri lagi diidentifikasi bersama, nanti akan kita cari cara penyelesaiannya," katanya.

Sementara itu Ketua HKI Akhmad Ma'ruf Maulana menyambut baik pertemuan tersebut. Kolaborasi antara pemerintah dan pengelola kawasan menjadi penting untuk memperkuat pengembangan industri, terlebih ketika peluang pertumbuhan masih terbuka lebar.

HKI berharap kerja sama dengan Kementerian Perindustrian bisa berlanjut dalam upaya meningkatkan daya saing industri nasional. Pengelola kawasan juga ingin mengambil peran lebih besar dalam mendorong investasi dan memperluas aktivitas ekonomi.

"Kami sebagai yang menginduk Kementerian Perindustrian, harapannya kita bisa terus berkolaborasi dan meningkatkan industri kita, dan kami yakin dan optimis industri kita bisa tumbuh, dan kami bisa sama-sama berjuang. Peluangnya sangat besar sekali, potensinya sangat luar biasa," kata Ma'ruf.

(hoi/hoi) [Gambas:Video CNBC]
Next Article 3 Indikator Ini Kompak Naik, Menperin Pede Industri Kembali Ekspansi


Most Popular
Features