Mengenal Alvin Tedjo, Pria Keturunan Padang Jadi Wali Kota di Kanada
Jakarta, CNBC Indonesia - Alvin Tedjo, seorang anggota dewan periode pertama dan mantan staf politik tingkat provinsi, berhasil menciptakan kampanye penuh kejutan. Ia sukses mengalahkan dua raksasa politik Mississauga, yakni mantan wali kota Bonnie Crombie dan petahana Carolyn Parrish, untuk merengkuh kemenangan pada pemilihan wali kota hari Senin.
Mengutip Toronto Times, Rabu (28/10/2026), orang tua Tedjo yang merupakan keturunan China-Indonesia yang berasal dari Padang, Sumatera Barat, menetap di Mississauga saat ia baru berusia empat tahun. Ia tumbuh besar di pusat kota, tepatnya di sebuah rumah dengan pemandangan yang langsung menghadap ke Balai Kota yang kini akan dipimpinnya.
"Saya melihat banyak tantangan dan kesulitan yang datang dari pengalaman imigran itu," ungkapnya.
"Jika Anda melihat sesuatu yang salah, lakukan sesuatu untuk mengatasinya," kata Tedjo.
Sejak bangku sekolah menengah, ia sudah aktif sebagai presiden dewan siswa dan bertugas di komite penasihat pemuda wali kota. Saat memenangkan penghargaan Young Citizen of the Year pada pertengahan 1990-an, ia bertemu dengan Wali Kota saat itu, Hazel McCallion, yang memberikan pesan khusus untuknya.
"Masuklah ke dunia politik, anak muda," tutur McCallion.
Rekam Jejak Karir dan Politik
Sebelum memegang jabatan elektoral, Tedjo bekerja sebagai penasihat dan staf politik di Kementerian Perguruan Tinggi dan Universitas Ontario. Ia juga menghabiskan empat tahun di bidang hubungan pemerintah di Sheridan College serta memimpin strategi dan komunikasi di Toronto Metropolitan University.
Kiprah politiknya dimulai pada tahun 2018 ketika ia mencalonkan diri untuk badan legislatif provinsi di Oakville North, Burlington, dan finis di posisi ketiga. Setahun kemudian, ia bertarung dalam pemilihan pemimpin Partai Liberal Ontario dengan raihan akhir 2,7% suara, dengan alasan berkampanye demi anak-anaknya dan warga lainnya.
"Dan semua orang di provinsi ini yang khawatir tentang masa depan," tegasnya.
"Kita menghadapi jumlah perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam hal iklim kita, dalam hal ekonomi kita, dalam hal sistem pendidikan kita," papar Tedjo.
"Dan ada konsekuensi nyata yang bisa kita lihat setiap minggu bahwa pemerintah ini sama sekali tidak siap."
Pada tahun 2022, ia resmi menjadi anggota dewan Mississauga. Ia juga sempat mencalonkan diri sebagai wali kota Mississauga pada tahun 2024, namun mengakhiri persaingan di urutan kedua di belakang Parrish.
Kemenangan Penuh Kejutan
Sebagai anggota dewan, kinerja Tedjo sebenarnya diakui sangat baik oleh Parrish maupun Crombie.
Namun, kedua pesaingnya itu sempat melontarkan pandangan bahwa Tedjo belum memiliki pengalaman yang dibutuhkan untuk memimpin sebuah kota.
"Saya hanya akan mengatakan, awasi saja kami," ucap Tedjo.
"Ada begitu banyak pemimpin hebat di luar sana yang telah mengambil jabatan seperti ini dan menjalankannya."
Tedjo mencatat bahwa di usianya yang menginjak 43 tahun, ia hampir satu dekade lebih tua dibandingkan Wali Kota New York Zohran Mamdani saat pertama kali terpilih. Meski demikian, keputusannya meninggalkan kursi dewan yang dirasa sudah aman demi mencalonkan diri sebagai wali kota diakuinya sebagai sebuah langkah yang berat.
"Benar-benar menegangkan," tuturnya.
Berdasarkan jajak pendapat Liaison pada pertengahan Agustus, ia menempati posisi keempat dengan 9% dukungan dari semua pemilih dan 12% dari pemilih yang sudah memutuskan atau condong memilihnya, tertinggal margin yang sangat lebar dari Parrish dan Crombie.
Namun, dukungan untuk kampanyenya membesar bak bola salju pada akhir September hingga awal Oktober berkat dukungan tak terduga dari serikat pekerja polisi Peel, keberhasilannya menahan diri saat perdebatan sengit Parrish dan Crombie pada debat 1 Oktober, hingga akhirnya sukses memangkas jarak dan menang pada hari Senin.
(luc/luc)