Trump Kena Batunya, Amerika Boncos Rp 799 T
Jakarta, CNBC Indonesia - Biaya militer Amerika Serikat (AS) untuk menjalankan perang melawan Iran telah menembus US$47 miliar (sekitar Rp799 triliun). Angka tersebut melonjak lebih dari 25% dibandingkan estimasi Departemen Pertahanan AS atau Pentagon pada Juli lalu.
Mengutip Reuters, Rabu (28/10/2026), data Pentagon yang diperoleh menunjukkan bahwa biaya tersebut mencakup pengeluaran operasional perang, penggantian amunisi yang telah digunakan, serta penggantian peralatan dan platform militer yang hilang selama konflik. Namun, Pentagon sendiri belum mempublikasikan estimasi terbaru itu.
Secara rinci, dari total biaya yang diperkirakan, lebih dari US$29 miliar (sekitar Rp493 triliun) dibutuhkan untuk mengganti amunisi yang telah digunakan selama perang. Sementara itu, lebih dari US$6 miliar (sekitar Rp102 triliun) diperlukan untuk mengganti peralatan militer dan aset yang hilang, termasuk pesawat dan sejumlah besar drone.
Estimasi terbaru ini lebih tinggi dibandingkan pernyataan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth pada Juli lalu, yang memperkirakan biaya perang mencapai US$37,5 miliar (sekitar Rp637,5 triliun). Namun, estimasi Pentagon tersebut belum secara jelas memperhitungkan besarnya biaya yang diperkirakan diperlukan untuk memperbaiki kerusakan pangkalan militer AS akibat serangan rudal dan drone Iran.
Perang Iran Bebani Politik AS
Lonjakan biaya perang muncul ketika Partai Republik menghadapi tekanan politik menjelang pemilihan paruh waktu atau midterm elections (pemilu sela) pada 3 November mendatang. Pemilu tersebut akan menentukan partai yang mengendalikan Kongres AS selama dua tahun berikutnya.
Partai Republik yang dipimpin Presiden Donald Trump saat ini hanya memiliki keunggulan tipis di kedua kamar Kongres. Dampak perang terhadap harga energi global turut menekan dukungan bagi kandidat Partai Republik dan menggerus tingkat persetujuan terhadap Trump.
Trump melancarkan perang terhadap Iran bersama Israel pada Februari 2026. Saat itu, ia memperkirakan konflik akan berlangsung singkat.
Strategi awal militer AS berfokus pada penggunaan rudal presisi berteknologi tinggi dan berbiaya mahal untuk menghancurkan pertahanan Iran. Setelah itu, militer AS berencana menggunakan amunisi yang lebih murah, termasuk bom gravitasi seperti JDAM yang diluncurkan dari pesawat.
Namun, gencatan senjata pada April memberikan waktu bagi Iran untuk menggali kembali fasilitas penyimpanan bawah tanah. Sejumlah sistem pertahanan, rudal, dan drone Iran yang sebelumnya tidak dapat diakses pun kembali dioperasikan.
AS Blokade Iran, Risiko Perang Berlanjut
Setelah gencatan senjata, Trump memberlakukan blokade laut terhadap Iran untuk menekan pendapatan negara tersebut dari ekspor minyak. Trump juga membuka kemungkinan dimulainya kembali operasi tempur setelah pemilu paruh waktu.
Sejumlah pejabat AS yang berbicara kepada Reuters dengan syarat anonim mengatakan Pentagon telah merencanakan kemungkinan dimulainya kembali pertempuran besar apabila diperintahkan. Besarnya biaya perang berpotensi terus bertambah apabila konflik kembali meningkat.
Selain biaya operasional, penggunaan amunisi dalam jumlah besar dan kehilangan aset militer menambah beban anggaran pertahanan AS. Dengan estimasi terbaru yang melampaui US$47 miliar, biaya perang Iran menjadi salah satu persoalan ekonomi dan politik yang dihadapi pemerintahan Trump menjelang pemilu Kongres.
(sef/sef)