Disemprot Kemenhub Soal KRL CLI-225 Sering Gangguan, INKA Buka Suara
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA buka suara terkait masalah operasional kereta rel listrik (KRL) CLI-225/iE305 produksinya yang sempat masuk bengkel dan kerap mengalami masalah sehingga mengganggu perjalanan Commuter Line. INKA berkomitmen mempercepat perbaikan dan penyempurnaan rangkaian KRL sesuai hasil evaluasi bersama operator dan arahan Kementerian Perhubungan (Kemenhub).
Senior Manager Corporate Communication and Representative Office INKA, Nanang Agung Rohmandiyas, mengatakan pihaknya akan menindaklanjuti temuan teknis dengan tetap mengutamakan keselamatan dan kelayakan operasi kereta.
"Selaras dengan statement dari Bapak Allan Tandiono, Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, kami INKA berkomitmen menghadirkan produk yang berkualitas, sesuai dengan spesifikasi teknis yang disepakati bersama operator serta ketentuan yang ditetapkan regulator," kata Nanang dalam keterangannya, dikutip Rabu (28/10/2026).
"Arahan Kementerian Perhubungan menjadi perhatian kami untuk mempercepat tindak lanjut perbaikan dan penyempurnaan, dengan tetap mengutamakan pemenuhan persyaratan keselamatan dan kelaikan operasi," sambungnya.
Ia menyatakan terus berkoordinasi dengan PT Kereta Commuter Indonesia atau KAI Commuter untuk menindaklanjuti hasil pemeriksaan rangkaian. Penanganan mencakup pemeriksaan lanjutan, perbaikan, hingga penyempurnaan berdasarkan catatan teknis dan kondisi kereta di lapangan.
KRL jenis EA-207 CLI-225 atau seri iE305, yang diproduksi INKA. (Dok: INKA) Foto: KRL jenis EA-207 CLI-225 atau seri iE305, yang diproduksi INKA. (Dok: INKA) |
Nanang juga menegaskan proses perbaikan harus disertai pemeriksaan dan pengujian untuk memastikan hasil penanganan sesuai dengan persyaratan yang berlaku.
"Tanggung jawab kami sebagai manufaktur mencakup tindak lanjut atas kinerja produk setelah digunakan dalam pelayanan. Kami akan terus bekerja bersama operator untuk menindaklanjuti temuan, memverifikasi hasil penanganan, dan memastikan setiap langkah penyempurnaan mengacu pada persyaratan teknis yang harus dipenuhi," jelas dia.
Menurut Nanang, hasil evaluasi di lapangan juga akan menjadi masukan untuk memperbaiki proses produksi dan pengendalian mutu agar kualitas serta keandalan produk semakin konsisten.
"Kami menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami pengguna Commuter Line. Kami memahami bahwa gangguan perjalanan berdampak pada aktivitas masyarakat. Komitmen kami adalah menindaklanjuti hasil pemeriksaan bersama KAI Commuter secara bertanggung jawab, dengan mengutamakan keselamatan, keandalan sarana, dan kenyamanan perjalanan," tutur Nanang.
Sebelumnya, Kemenhub meminta INKA segera memperbaiki dan menyempurnakan kualitas KRL produksinya yang mengalami masalah operasional. Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub Allan Tandiono menegaskan, kereta yang belum memenuhi persyaratan kelayakan tidak boleh dipaksakan beroperasi.
"Sama seperti yang dilakukan oleh PT KAI, apabila memang tidak layak beroperasi, pada hari tertentu kan tidak dioperasikan ya. Ini tentunya kita juga mengikuti pembahasan evaluasi teknis bersama PT KAI maupun PT INKA. Ya hal-hal yang perlu diperbaiki, disempurnakan, harapan kami ya segera disempurnakan," ujar Allan kepada wartawan dalam diskusi Forwahub di Jakarta, Senin (26/10/2026).
KAI sebelumnya menarik tujuh rangkaian KRL seri iE305 atau CLI-225 produksi INKA pada September 2026 untuk menjalani pemeriksaan menyeluruh. Langkah tersebut dilakukan setelah ditemukan masalah pada komponen rangka bawah salah satu rangkaian yang berkaitan dengan aspek keselamatan. Pemeriksaan kemudian diperluas terhadap rangkaian lain yang menggunakan komponen dari tempat dan batch produksi yang sama.
Penarikan rangkaian sempat berdampak pada layanan Commuter Line, terutama lintas Bogor-Jakarta. Pada awal September, KAI Commuter mengurangi perjalanan harian dari 1.065 menjadi 1.048 perjalanan akibat perawatan armada.
Meski tujuh rangkaian yang menjalani perawatan telah kembali beroperasi pada 6 Oktober, masih terdapat catatan teknis yang harus ditindaklanjuti INKA. Pada 16 Oktober, dua rangkaian yang masih menjalani perbaikan di Depo Bukit Duri turut berdampak pada pembatalan tujuh perjalanan KRL lintas Bogor-Jakarta Kota.
Allan menegaskan, operator dan produsen harus memastikan kereta yang digunakan masyarakat memenuhi spesifikasi teknis yang telah ditetapkan dan diuji oleh Kemenhub.
"Kita berharap kereta rel listrik yang diproduksi dan dioperasikan itu sesuai spesifikasi teknis yang sudah ditentukan dan juga telah diuji oleh Kementerian Perhubungan. Jadi itu yang kita jaga, bahwa operator maupun produsen ya harus tunduk kepada spesifikasi teknis yang sudah disepakati bersama," tegasnya.
Di sisi lain, Kemenhub juga mendorong percepatan pengadaan KRL tambahan untuk memenuhi kebutuhan kapasitas penumpang yang terus meningkat, terutama pada jam sibuk.
"Jadi terkait KRL memang kami sangat prihatin bahwa banyak kereta beberapa minggu terakhir perlu di-recall. Karena itu mengurangi kapasitas pelayanan. Tapi apa boleh buat, yang perlu kita pastikan kan kelayakan operasi dari alat transportasi tersebut. Kita juga tidak ingin alat transportasi yang tidak layak melayani penumpang. Nah ini tentunya kami juga sangat berharap operator untuk mempercepat pengadaan KRL sesuai komitmen," pungkas Allan.
(wur) [Gambas:Video CNBC]