Kena Tarif ART 10%, Pemerintah Sebut Dagang RI-AS Masih Naik
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Indonesia mengungkapkan, perundingan tarif dagang resiprokal atau Agreement on Reciprocal Trade (ART) masih terus berlangsung dengan pemerintah Amerika Serikat (AS).
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah AS masih memastikan tarif resiprokal untuk produk asal Indonesia terkena 10%, khususnya untuk produk hasil industri padat karya.
"Perjanjian ART kan kita sudah hampir selesaikan semua dan produk Indonesia yang labor intensif itu dapat tarifnya 10%, tinggal kita mendiskusikan mengenai excess capacity," kata Airlangga di kantornya, Jakarta, Selasa (27/10/2026).
Oleh sebab itu, ia mengatakan, pemerintah Indonesia masih terus berunding supaya kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak bisa segera terealisasi. Airlangga pun belum bisa memastikan kapan perundingan ini bisa selesai dengan AS.
"Mudah-mudahan tidak dalam waktu lama lagi ini akan bisa diselesaikan," tegas Airlangga. "Belum (dalam waktu dekat selesai), kita masih nunggu dari Amerika."
Meski begitu, Airlangga memastikan, perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat hingga kini masih berjalan dengan baik. Ia mengatakan, nilai dagang kedua negara selama periode Januari-Agustus 2026 masih mampu naik 12%.
"Sekarang Rp32,34 miliar sampai Januari-Agustus dan dibandingkan tahun lalu naik 12% dan investasi Amerika juga naik," ucap Airlangga.