Internasional

Pemilu Paling Menentukan, Nasib Israel & Rezim Netanyahu Dipertaruhkan

tps, CNBC Indonesia
Selasa, 27/10/2026 10:10 WIB
Foto: REUTERS/Eduardo Munoz
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Israel pada hari ini akan menggelar pemilihan umum pertamanya sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, yang tercatat sebagai hari paling mematikan dalam sejarah negara tersebut dengan korban tewas mencapai sekitar 1.200 orang.

Mengutip The Guardian, Selasa (27/10/2026), sejak insiden tersebut Israel telah memicu perang pemusnahan di Gaza, meluncurkan dua perang yang belum konklusif dengan Iran, dan mengintensifkan kampanye pembersihan etnis yang didukung negara di Tepi Barat.

Secara domestik, koalisi yang dipimpin oleh Benjamin Netanyahu juga terus membidik institusi-institusi demokrasi, termasuk mahkamah agung, sehingga banyak warga Israel menyebut pemilu ini sebagai yang paling berkonsekuensi dalam sejarah mereka.


Siapa Saja Pemain Utamanya?

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah memimpin Israel selama 19 dari 30 tahun terakhir. Ia kini tengah mencari mandat baru dengan dukungan dari Presiden AS, Donald Trump. Pertarungan politik ini bersifat sangat personal baginya, mengingat ia sedang diadili atas kasus korupsi, di mana kehilangan kekuasaan dapat berarti risiko hukuman penjara yang lebih besar.

Saingan utamanya adalah Gadi Eisenkot, seorang mantan kepala militer Israel sekaligus pendatang baru di dunia politik. Putra dan dua keponakan Eisenkot diketahui tewas saat bertempur di Gaza pada tahun 2024.

Eisenkot memosisikan dirinya sebagai kebalikan mutlak dari sosok Netanyahu, yang bahkan tercermin dari nama partai barunya, Yashar, atau yang berarti Kejujuran.

Apa Isu Kunci bagi Pemilih?

Faktor keamanan Israel berada tepat di jantung pemilihan umum, bahkan sukses membayangi isu melonjaknya biaya hidup. Oposisi pemerintah saat ini gencar menyoroti bencana 7 Oktober, pengikisan institusi demokrasi, bangkitnya ekstremisme agama, dan besarnya biaya perang terbuka di berbagai front.

Mereka secara tegas berjanji untuk membentuk komisi penyelidikan negara terkait 7 Oktober dan mengakhiri pengecualian wajib militer bagi pria ultra-Ortodoks.

Sebaliknya, Netanyahu berusaha keras mengalihkan kesalahan 7 Oktober kepada lembaga keamanan Israel. Ia mengeklaim bahwa dirinya adalah satu-satunya pemimpin dengan rekam jejak pengalaman dan kontak internasional yang mampu menjaga keamanan negara. Ia baru-baru ini mengunggah gambar AI tentang bom nuklir yang menghantam Tel Aviv di media sosialnya.

"Siapa pun yang peduli dengan keberadaan fisik mereka harus berhenti sejenak sebelum memilih oposisi," tegasnya.

Di sisi lain, sekutu sayap kanan Netanyahu secara radikal menyerukan pembersihan etnis di Gaza dan Tepi Barat serta perluasan permukiman. Sementara itu, mitra ultra-Ortodoksnya bersikeras ingin melestarikan pengecualian wajib militer dan subsidi untuk studi agama.

Apa Kata Jajak Pendapat?

Sebagian besar jajak pendapat menunjukkan bahwa partai Likud milik Netanyahu dan mitra koalisinya saat ini diprediksi akan kehilangan mayoritas mereka. Tren penurunan dukungan tersebut terpantau sangat konsisten selama lebih dari dua tahun terakhir, sekaligus menunjukkan adanya kelompok mayoritas anti-Netanyahu yang jelas.

Meski demikian, kursi oposisi masih terpecah antara blok partai Yahudi Israel yang dipimpin oleh Yashar dan partai-partai yang mewakili warga Palestina di Israel. Partai-partai Yahudi Israel dinilai tidak mungkin meraih mayoritas sendirian, namun mereka menolak berkoalisi dengan pihak Palestina.

Sementara itu, politisi Palestina telah mengisyaratkan bahwa mereka mungkin saja bersedia mendukung pemerintah minoritas dari partai Yahudi Israel semata-mata untuk menumbangkan koalisi sayap kanan Netanyahu.

Bagaimana Sistemnya Bekerja?

Parlemen Knesset memiliki total 120 kursi, dengan anggota parlemen yang dipilih melalui sistem perwakilan proporsional. Sepanjang sejarah, tidak pernah ada satu partai pun yang berhasil mengeklaim porsi mayoritas 61 kursi sendirian, sehingga Israel selalu diperintah oleh koalisi.

Hasil penghitungan suara diprediksi akan sangat bergantung pada nasib dua partai kecil, yang masing-masing harus memenangkan 3,25% dari total suara untuk menduduki kursi Knesset. Jika berhasil menembus ambang batas, mereka masing-masing akan mendapatkan empat kursi penentu. Partai sayap kanan Amcha Yisrael berjanji akan mendukung Netanyahu jika masuk ke Knesset, sedangkan partai Zionis sayap kanan The Reservists dengan tegas menolak bergabung dengan pemerintah yang didukung oleh ultra-Ortodoks maupun pihak Palestina.

Seberapa Demokratis Pemungutan Suara Ini?

Sekitar 15 juta orang saat ini hidup di wilayah yang berada di bawah kendali Israel. Namun, hanya sekitar 7 juta warga Yahudi Israel dan 1,7 juta warga Palestina di Israel yang tinggal di dalam perbatasan pra-1967 yang memiliki hak pilih secara penuh.

Di kawasan Tepi Barat, lebih dari 500.000 pemukim Israel dapat menggunakan hak pilihnya dengan bebas, sementara 3,1 juta warga Palestina yang tunduk pada aturan militer tidak memiliki hak pilih sama sekali. Di Yerusalem Timur, lebih dari 230.000 warga Israel memiliki hak pilih, sedangkan 350.000 warga Palestina tidak.

Lebih mirisnya lagi, dua juta warga Palestina di Gaza yang saat ini hidup di bawah pendudukan militer Israel juga sama sekali tidak memiliki hak suara.


(tps/luc)
Saksikan video di bawah ini:

Trump Tegaskan Tak Beri Dukungan Kepada Netanyahu di Pemilu Israel