Dipotong Cuma 8%, Ternyata RI Ekspor Gas Sebesar Ini ke Singapura

Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
Selasa, 27/10/2026 08:30 WIB
Foto: Konpres ketahanan pangan energi nasional, Senin (26/10/2026). (Tangkapan layar youtube ESDM)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan, bahwa sejatinya Indonesia mengekspor gas dengan jumlah yang besar ke Singapura. Tercatat mencapai 409,55 Million Standar Cubic Feet per Day/Mmscfd).

Dengan jumlah gas tersebut, artinya Indonesia hanya memangkas ekspor kurang dari 8% atau mencapai 31 Mmscfd mencakup gas dari wilayah Natuna sebesar 15 Mmscfd serta dari Sumatra sebesar 16 Mmscfd.

"Saya ulangi, total ekspor kita gas pipa, dari dua tempat, satu adalah dari lautan Natuna, satu adalah dari Sumatra. Itu totalnya sebesar 409,55 Mmscfd. Yang kemarin kita potong, itu adalah 31 Mmscfd, hanya kurang lebih sekitar 8%," terang Bahlil saat Konfrensi Pers di Kantor Kementerian ESDM, Senin (26/10/2026).


Atas hal ini, Bahlil menegaskan, bahwa Indonesia sejatinya adalah negara yang menghargai komitmen kontraknya. Pemangkasan ekspor tersebut masih di bawah minimum yang tertera dalam kontrak. Adapun, batas kontrak minimum atas ekspor gas tersebut mencapai sekitar 91 Mmscfd-92 Mmscfd.

"Kita baru sekitar 8%, terkecuali kita potong 10%, nah itu baru kita melanggar kontrak. Negara kita adalah negara yang menghargai kontrak, aturan. Jadi jangan ajarin Indonesia terhadap komitmen untuk menjaga, menghargai kontrak. 31 Mmscfd yang kita potong itu, adalah masih di batas kontrak minimum. Saya ulangi, 31 Mmscfd yang kita potong sebagian, itu masih dalam batas kontrak minimum," tegas Bahlil.

Bahlil pun memberikan alasan, bahwa pemangkasan ekspor gas ke Singapura terjadi karena pertama adanya pemeliharaan sumur. Kedua, karena Indonesia membutuhkan gas untuk kebutuhan dalam negeri.

Tak Cuma gas pipa, ternyata Indonesia juga mengekspor gas alam cair atau Liquefied Natural Gas (LNG) sebanyak 146 kargo. "Jadi, cukup besar. Bapak-Ibu semua, pemerintah Indonesia, sangat menghargai aturan, apalagi dari ESDM-nya, sangat menghargai aturan itu. Tapi saya juga minta, jangan di saat bersamaan, kalian minta dihargai, susah untuk menghargai. Jangan mengolok-olok negara lain," tegas Bahlil.

PM Lawrence Wong Buka Suara

Sebelumnya, Perdana Menteri (PM) Singapura Lawrence Wong meminta seluruh pihak menepati komitmen yang sudah dibuat berdasarkan kontrak komersial. Ia mengisyaratkan para importir gas dari Singapura untuk mengambil langkah yang diperlukan sebagai cara melindungi hak serta kepentingannya.

Sebagaimana diketahui, sebagian besar kebutuhan listrik Singapura saat ini dihasilkan dari gas alam, dan sebagian besar pasokan diimpor melalui jalur pipa dari Indonesia.

"Kami mengharapkan semua pihak menepati komitmennya, dan importir gas Singapura akan menempuh segala langkah yang diperlukan untuk melindungi hak serta kepentingannya berdasarkan kontrak tersebut," kata PM Wong mengutip The Straits Time, Minggu (25/10/2026).

Otoritas Pasar Energi (EMA) menanggapi bahwa pengurangan pasokan gas dari Indonesia mencakup kurang dari 2% total kebutuhan gas harian Singapura. Juru bicara EMA menyatakan berdasarkan data importir gas, total pengurangan yang diterima adalah 17 BBTUD selama kurun waktu 18 hari.

Kebutuhan gas harian Singapura secara keseluruhan melampaui 1.000 BBTUD.

Dalam pidatonya, PM Wong menyatakan Singapura telah mempersiapkan diri menghadapi risiko semacam ini dengan membangun terminal gas alam cair (LNG) agar dapat mengimpor dari berbagai negara tanpa bergantung pada jalur pipa. "Ini memberi kami lebih banyak pilihan untuk mengatasi gangguan pasokan," tambahnya.

Singapura juga harus mencari sumber energi di luar gas alam - sumber yang lebih bersih dan dapat diandalkan sepanjang waktu, ujarnya. Itulah sebabnya tenaga nuklir sedang dikaji secara serius.

Wong mengakui kekhawatiran soal keselamatan tenaga nuklir mengingat ukuran Singapura yang kecil dan padat penduduk. "Kami menanggapi kekhawatiran ini dengan sungguh-sungguh. Keselamatan harus didahulukan. Namun kita tidak boleh menutup kemungkinan hanya karena hal itu sulit atau kontroversial. Risiko dan manfaat harus dinilai cermat, berdialog dengan masyarakat, lalu mengambil keputusan yang tepat bagi masa depan energi kita."

Singapura akan mengundang Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) pada 2027 untuk melakukan peninjauan menyeluruh guna menilai kesiapan negara mengadopsi tenaga nuklir. Penilaian mencakup 19 aspek penting, antara lain keselamatan nuklir, pengelolaan limbah radioaktif, dan perencanaan tanggap darurat.

Menyampaikan prioritas pemerintah, PM Wong menegaskan sejumlah tantangan tidak dapat diselesaikan sendiri karena melintasi batas negara - termasuk penipuan daring dan kabut asap yang melanda Singapura beberapa minggu terakhir.

"Kita tidak bisa mengandalkan kekuatan sendiri. Diperlukan kerja sama negara lain. Namun bukan berarti kita berdiam diri - kami berupaya sekuat tenaga melindungi warga, memperkuat respons, dan bermitra menuntaskan masalah di akarnya."


(pgr/pgr)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Ekspor Gas Singapura Hanya Dipangkas, RI Tak Langgar Kontrak