Internasional

Siaga Krisis Energi, Singapura Bangun 5 Pembangkit Listrik Rp75 T

tfa, CNBC Indonesia
Selasa, 27/10/2026 08:00 WIB
Foto: Warga Singapura tetap beraktivitas di luar ruangan pada Selasa (13/10/2026), meskipun kualitas udara di negara kota tersebut berada pada tingkat tidak sehat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. (Tangkapan Layar Video Reuters/)

Jakarta, CNBC Indonesia - Singapura berencana membangun lima pembangkit listrik tenaga gas alam baru hingga 2031 untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan listrik dan memperkuat ketahanan energi. Rencana ini menjadi langkah strategis di tengah risiko gangguan pasokan energi regional yang dapat mengancam keandalan listrik negara tersebut.

Mengutip Channel News Asia, Senin (26/10/2026), lima pembangkit itu dijadwalkan mulai beroperasi secara bertahap pada 2026-2031. Penambahan fasilitas tersebut diperkirakan meningkatkan kapasitas pembangkitan listrik Singapura sekitar 26% dari kapasitas saat ini yang mencapai sekitar 12 gigawatt (GW).

Pembangunan pembangkit baru diperlukan seiring meningkatnya permintaan listrik. Otoritas Pasar Energi Singapura (Energy Market Authority atau EMA) mencatat kebutuhan daya puncak mencapai 8,6 GW hingga Agustus 2026. Angka tersebut diproyeksikan meningkat menjadi 9,9 GW hingga 13 GW pada 2031.


Kenaikan permintaan terutama berasal dari sektor-sektor yang membutuhkan energi dalam jumlah besar, termasuk industri semikonduktor dan pusat data, serta penggunaan kendaraan listrik yang semakin meluas.

EMA menyatakan, "Peningkatan ini terutama disebabkan oleh permintaan baru dari sektor-sektor yang intensif energi, seperti manufaktur semikonduktor dan pusat data, serta meluasnya penggunaan transportasi listrik."

Selain membangun lima pembangkit tersebut, pemerintah Singapura tengah mengevaluasi proposal pembangunan pembangkit listrik tenaga gas tambahan yang ditargetkan beroperasi pada 2032. Langkah ini disiapkan untuk memastikan kapasitas pasokan listrik dapat mengimbangi pertumbuhan kebutuhan energi dalam jangka panjang.

Penguatan pembangkit juga disertai investasi besar pada jaringan kelistrikan. Singapura mengalokasikan SG$5,3 miliar atau sekitar Rp75,18 triliun untuk memperluas jaringan listrik selama periode 2025-2029. Nilai investasi itu sekitar 11 kali lipat dibandingkan alokasi pada lima tahun sebelumnya.

Melalui investasi tersebut, Singapura berencana membangun tujuh gardu transmisi baru hingga 2031. Jaringan kabel transmisi juga akan diperluas dari sekitar 7.700 kilometer menjadi 9.100 kilometer pada 2030 agar penyaluran listrik semakin andal.

Di luar pembangkit berbahan bakar gas, Singapura turut mengembangkan energi surya dan sistem penyimpanan energi. Kapasitas energi surya saat ini mencapai 2,3 gigawatt-peak (GWp), dengan target meningkat menjadi 3 GWp pada 2030 dan 4 GWp pada 2035. Sementara itu, kapasitas penyimpanan energi ditargetkan naik dari 350 megawatt-jam (MWh) menjadi lebih dari 1 gigawatt-jam (GWh) pada 2030.

Singapura juga berupaya mendiversifikasi pasokan melalui impor listrik rendah karbon. Sembcorp Utilities telah memperoleh persetujuan bersyarat untuk mengimpor listrik sebesar 1,3 GW, dengan potensi sumber pasokan dari pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai di Vietnam dan energi surya dari Malaysia.

Untuk memperkuat pasokan gas, kapasitas regasifikasi gas alam cair (LNG) Singapura direncanakan meningkat dari 10 juta ton menjadi 15 juta ton per tahun. Terminal LNG kedua di Jurong Port ditargetkan mulai beroperasi pada 2030.

Menteri Perdagangan dan Industri Singapura yang membidangi Energi dan Industri, Tan See Leng, mengatakan pemerintah telah mempersiapkan berbagai langkah untuk menghadapi risiko gangguan pasokan.

"Jadi, bagi Singapura... kita bisa tetap tenang dan terus melangkah," ujarnya, seraya menegaskan bahwa ketahanan energi menjadi prioritas negara tersebut.

Risiko gangguan pasokan menjadi perhatian karena Singapura masih mengandalkan gas alam untuk memenuhi sekitar 95% kebutuhan listriknya. Indonesia dilaporkan mulai mengurangi pasokan gas ke Singapura, meski jumlahnya kurang dari 2% kebutuhan gas harian negara tersebut.


(tfa/luc)
Saksikan video di bawah ini:

RI Pangkas Gas ke Singapura, PM Wong: Semua Pihak Harus Tepati Kontrak