Miris! Mantan Menkeu Ungkap Anggaran Riset RI Baru Sekitar 0,3% PDB
Jakarta, CNBC Indonesia - Mantan Menteri Keuangan sekaligus mantan Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro menyoroti masih rendahnya investasi Indonesia untuk penelitian dan pengembangan (research and development/R&D). Menurutnya, anggaran riset Indonesia saat dirinya menjabat sebagai Menteri Riset baru sekitar 0,3% dari produk domestik bruto (PDB).
Bambang menilai Indonesia perlu meningkatkan investasi riset secara signifikan jika ingin mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain dan bertransformasi menjadi negara berpendapatan tinggi.
"Ketika saya menjadi Menteri Riset, angkanya hanya 0,3% dari PDB," ujar Bambang dalam paparannya di acara Danantara TIIF, Senin (26/10/2026).
Ia menegaskan, Indonesia perlu lebih serius mengalokasikan investasi untuk riset dan pengembangan, terutama di tengah perubahan lanskap ekonomi global yang semakin dipengaruhi oleh perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Menurut Bambang, model pertumbuhan ekonomi Asia ke depan tidak bisa hanya mengandalkan manufaktur dan ekspor seperti yang menopang keberhasilan negara-negara Asia Timur pada masa lalu. Adaptasi teknologi dan inovasi harus menjadi bagian penting untuk meningkatkan nilai tambah perekonomian.
Ia mencontohkan keberhasilan Jepang dan Korea Selatan dalam membangun industri manufaktur berorientasi ekspor hingga mampu mendorong perekonomian mereka menuju kelompok negara berpendapatan tinggi.
Namun, menurutnya, Asia saat ini masih tertinggal dibandingkan dengan Uni Eropa dalam mendorong lebih banyak negara mencapai status berpendapatan tinggi. Salah satu hal yang perlu diperkuat adalah model pertumbuhan ekonomi yang lebih bertumpu pada teknologi dan industrialisasi.
Bambang menilai manufaktur dan ekspor tetap menjadi faktor penting bagi negara yang ingin mencapai status berpendapatan tinggi. Meski demikian, strategi tersebut harus disesuaikan dengan perubahan kondisi geopolitik, geoekonomi, dan perkembangan teknologi.
"Model pertumbuhan Asia berikutnya harus didasarkan pada adaptasi teknologi untuk menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi," jelasnya.
Menurut Bambang, peningkatan nilai tambah melalui adaptasi teknologi tidak hanya diperlukan di sektor manufaktur, tetapi juga pertanian dan jasa. Untuk mencapai tujuan tersebut, adaptasi teknologi harus ditopang oleh riset, pengembangan, dan inovasi yang memadai.
Bambang mencontohkan Korea Selatan sebagai salah satu negara yang berhasil menjadikan riset dan pengembangan sebagai fondasi kemajuan ekonominya. Menurutnya, rasio investasi R&D Korea Selatan mencapai sekitar 5,3% dari PDB, salah satu yang tertinggi di dunia.
Sementara itu, di kawasan ASEAN, Singapura menjadi salah satu negara dengan investasi riset relatif tinggi, yakni sekitar 1,5% dari PDB. Namun, angka tersebut pun dinilai masih jauh di bawah capaian Korea Selatan.
"Ini saatnya Indonesia mulai berinvestasi besar-besaran dalam R&D," tegas Bambang.
(haa/haa)