Internasional

Geger! Presiden Tanya Gemini Usai Panggil Jaksa Agung, Oposisi Ngamuk

tps, CNBC Indonesia
Sabtu, 24/10/2026 14:30 WIB
Foto: via REUTERS/JEON HEON-KYUN

Jakarta, CNBC Indonesia - Gemini, kecerdasan buatan (AI) generatif besutan Google, kini mendadak menjadi pusat perhatian dalam arena politik Korea Selatan. Hal ini terjadi setelah Presiden Lee Jae Myung dan para politisi oposisi secara terang-terangan menggunakan alat tersebut untuk saling serang dan mempertahankan logika mereka dalam perdebatan mengenai kehadiran kepala badan penyelidik pada rapat kabinet.

Mengutip Korea Times, Sabtu (24/10/2026), perdebatan panas ini mengubah perselisihan tentang independensi badan penyelidikan menjadi kontes politik yang beradu respons AI. Para anggota parlemen dari kubu oposisi beramai-ramai mengutip jawaban Gemini untuk merespons berbagai isu, mulai dari urusan kehadiran kabinet hingga desakan agar sidang pidana Presiden Lee yang sempat ditangguhkan harus segera dilanjutkan.

Perang argumen menggunakan AI ini bermula ketika Presiden Lee mengunggah sebuah cuitan di platform X pada hari Rabu dengan tajuk, "Saya bertanya kepada Gemini." Ia memposting jawaban asisten AI tersebut secara publik untuk menolak kritik atas keputusannya yang mengharuskan kepala Badan Investigasi Kejahatan Serius (SCIA) yang baru dibentuk dan Layanan Kejaksaan untuk menghadiri rapat kabinet pemerintahan.


Unggahan tersebut muncul tepat setelah kepala perdana SCIA, Kim Ji-yong, dipastikan ikut serta dalam rapat kabinet pada hari Selasa yang dipimpin langsung oleh Lee. Blok oposisi seketika mengkritik keras kehadiran Kim karena dinilai akan merusak netralitas dan independensi politik lembaga tersebut, mengingat mereka memiliki kewenangan penuh untuk menyelidiki kasus yang melibatkan presiden, partai penguasa, atau pejabat pemerintah. Secara historis, telah menjadi kebiasaan bagi kepala organisasi penyelidik untuk absen dari rapat kabinet, tetapi Lee justru menyerukan kehadiran mereka sejak Januari lalu.

Menurut jawaban Gemini terhadap pertanyaan Lee, klaim yang menyebut bahwa kepala SCIA dan Layanan Kejaksaan tidak boleh menghadiri rapat kabinet bertentangan dengan Undang-Undang Organisasi Pemerintah. Regulasi tersebut menempatkan lembaga-lembaga itu secara langsung di bawah otoritas presiden. Mengetahui manuver tersebut, pihak oposisi melayangkan protes keras dan berpendapat bahwa respons AI sama sekali tidak dapat dijadikan dasar untuk memerintah atau membenarkan urusan administrasi negara.

Anggota Dewan Tertinggi partai oposisi utama People Power Party (PPP), Kim Jae-won, mengeklaim bahwa ia juga telah bertanya langsung kepada Gemini apakah kehadiran pejabat itu dapat merusak kepercayaan terhadap netralitas investigasi. Hasilnya, AI itu justru memperingatkan bahwa partisipasi tersebut dapat dengan mudah menciptakan persepsi tentang independensi yang terganggu.

"Presiden harus berhenti menggunakan Gemini untuk menyajikan klaim-klaimnya yang tidak berdasar seolah-olah itu benar," tegas Kim.

Anggota Parlemen PPP, Yoon Sang-hyun, juga menyampaikan dalam sesi audit parlemen bahwa ia telah berkonsultasi dengan Gemini mengenai partisipasi kepala SCIA tersebut, yang langsung dijawab oleh AI bahwa kehadiran rutin adalah tindakan yang tidak pantas. Sementara itu, Anggota Parlemen PPP lainnya, Na Kyung-won, membagikan tanggapan Gemini yang memperingatkan bahwa pengawasan presiden dapat mengancam netralitas investigasi, sekaligus menuduh Lee mendapatkan jawaban bias melalui pertanyaan yang juga bias.

Mantan pemimpin partai oposisi minoritas Reform Party, Lee Jun-seok, turut angkat suara dan mempertanyakan kewarasan sang presiden yang sampai harus memanggil AI untuk membenarkan keputusannya.

"Jika presiden akan memerintah dengan bertanya kepada Gemini, mengapa tidak mengganti presiden dengan Gemini saja?" ungkapnya.

Lebih jauh, beberapa pihak menyajikan jawaban Gemini untuk menyerang Lee secara personal atas serangkaian kasus dugaan korupsinya yang telah dihentikan sementara sejak pelantikannya sebagai presiden. Pemimpin PPP, Jang Dong-hyeok, bahkan ikut-ikutan melontarkan pertanyaan provokatif kepada sistem AI tersebut.

"Saya bertanya kepada Gemini tentang sidang presiden, dan ia memberi tahu saya, tentu saja sidang itu harus dilanjutkan," paparnya.

Mantan Menteri Kehakiman yang kini menjadi anggota parlemen independen, Han Dong-hoon, menegaskan bahwa presiden tetap tidak memiliki hak mutlak terkait intervensi hukum. Ia juga membagikan jawaban AI yang menyatakan bahwa Lee pada akhirnya harus turun tangan untuk menghadapi persidangan.

"Bahkan jika Anda membawa kakek Gemini, presiden tidak boleh mengarahkan penyelidikan atau dakwaan," tutur Han.

Menanggapi badai kritik tersebut, sang presiden akhirnya membela diri terkait penggunaan Gemini-nya pada hari Kamis. Ia berdalih hanya mengutip AI untuk menunjukkan bagaimana kritik kelompok oposisi sangat bertentangan dengan logika dasar dan fakta empiris, bukan karena ia tidak memiliki jawabannya sendiri. Ia bersikeras bahwa mengecualikan kepala lembaga dari pertemuan publik tidak akan secara otomatis menjamin netralitas mereka dalam bekerja.

"Mengawasi urusan negara adalah hak dan kewajiban presiden, sehingga mengabaikan hak dan kewajiban itu merupakan pelanggaran terhadap Konstitusi dan Undang-Undang Organisasi Pemerintah," tegasnya.

Pihak Istana Cheong Wa Dae juga menolak mentah-mentah klaim yang menarasikan bahwa Presiden Lee hanya mengandalkan AI semata untuk memimpin negaranya. Sekretaris Presiden Senior untuk Hubungan Masyarakat, Sung Ki-hong, mengatakan kepada wartawan pada hari Kamis bahwa karakterisasi masif semacam itu sangat mendistorsi fakta yang ada.

"Beliau menekankan bahwa Konstitusi dan Undang-Undang Organisasi Pemerintah adalah fakta yang dapat diverifikasi dengan mudah dengan bertanya kepada Gemini," katanya.

"Beliau tidak bertanya kepada AI tentang cara memerintah, beliau hanya memeriksa fakta tentang undang-undang dengan AI tersebut."


(tps/tps)
Saksikan video di bawah ini:

Video: AI Makin Digemari, Ketersediaan Air Kini Jadi Sorotan