Antrean Panjang BBM Subsidi di Sulteng-Gorontalo, Ini Kata Pertamina

Fatimah Boha, CNBC Indonesia
Kamis, 22/10/2026 19:15 WIB
Foto: (CNBC Indonesia/Kartini Bohang)

Gorontalo, CNBC Indonesia - Antrean BBM mengular terlihat di beberapa SPBU Pertamina yang membentang dari wilayah Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, hingga Kota Gorontalo, pada Rabu (21/10/2026). Warga setempat mengatakan kondisi ini sudah berlangsung intensif selama satu bulan belakangan.

Salah satu pengemudi kendaraan roda empat yang mengantre BBM jenis Pertalite di SPBU Kecamatan Biau, Buol, mengaku menghabiskan waktu hingga 5 jam pada Selasa (20/10).

"Saya antre dari jam 19.00 WITA, baru dapat giliran sekitar jam 00.00 WITA," ujarnya kepada CNBC Indonesia, Rabu (21/10/2026).


Umumnya, antrean panjang disebabkan stok BBM di SPBU habis sehingga warga harus menunggu kedatangan truk tangki sebelum pelayanan dibuka kembali. Tak jarang para pengemudi memarkir kendaraan dan mematikan mesin sembari menunggu demi menghemat sisa BBM.

"Rata-rata kalau isi BBM, antre 2-3 jam itu sudah biasa akhir-akhir ini," kata pengemudi lain yang ditemui saat mengantre di SPBU Kecamatan Sumalata, Gorontalo Utara. Pantauan CNBC Indonesia pada sore hari menunjukkan antrean mengular sepanjang kurang lebih 350 meter dari SPBU.

Menurut pengemudi berinisial A, salah satu kendalanya adalah tidak ada SPBU di wilayah Gorontalo yang beroperasi 24 jam. Rata-rata SPBU hanya buka hingga pukul 22.00 WITA.

Selain itu, banyak warung di sekitar area SPBU yang memanfaatkan kesempatan ini untuk menjadi pengecer BBM. Tak tanggung-tanggung, harga yang dipatok mencapai dua kali lipat dari harga resmi SPBU.

Ambil contoh, Pertalite yang dibanderol Rp10.000/liter di SPBU dijual seharga Rp20.000/liter di warung pengecer. Ada pula yang mematok harga Rp20.000 untuk 1,5 liter.

"Padahal seharusnya pengecer menjual di wilayah yang jauh dari SPBU. Ini justru tepat di depan SPBU ada pengecer yang menjual dengan harga mahal," ujar A.

Salah satu pemilik warung makan di Kecamatan Paleleh, yang berjarak lumayan jauh dari SPBU, mengaku menjual Pertalite eceran seharga Rp20.000/liter. Ia mengaku tidak tahu-menahu asal BBM tersebut karena biasanya ada pengepul yang datang membawakan jerigen BBM ke warungnya.

"Paling saya ambil 1 jerigen isi 35 liter. Kalau laku semua, keuntungan saya Rp80.000 per jeriken," jelasnya.

Beberapa pengemudi rela menghabiskan waktu berjam-jam mengantre BBM, tetapi tak sedikit pula yang akhirnya terpaksa membeli dari pengecer meski harganya jauh lebih mahal. Salah satunya adalah pengemudi berinisial D.

"Saya tadi beli Pertalite dari pengecer Rp100.000 hanya dapat 5 liter. Itu bisa untuk jarak sekitar 60 km. Lalu saya sambung lagi beli 15 liter dengan harga Rp20.000/1,5 liter di Kecamatan Tolinggula. Mungkin yang lebih murah itu karena dia antre sendiri, tidak mengambil dari pengepul," tutur D.

D bercerita, beberapa hari lalu ia pernah mengantre di salah satu SPBU di Gorontalo. Setelah lelah mengantre selama 3 jam, ketika gilirannya tiba, stok BBM justru habis. "Itu betul-betul membuang waktu dan tenaga," ucapnya.

Sejumlah pengemudi yang ditemui mengaku tidak mengetahui pasti penyebab kelangkaan BBM di wilayah Buol dan Gorontalo dalam sebulan terakhir. Pantauan di lapangan menunjukkan beberapa SPBU bahkan tidak buka pada siang hari karena ketiadaan stok.

Sebagian warga menduga terjadi kelangkaan pasokan, tetapi ada pula yang menilai stok sebenarnya aman dan menuding maraknya pengecer yang menimbun BBM sebagai biang keroknya.

"Mungkin karena banyak pengecer, makanya jadi langka," ujar pengemudi yang sedang mengantre di SPBU Kecamatan Kwandang, Gorontalo Utara.

Pertamina Angkat Suara

Menanggapi isu tersebut, PT Pertamina Patra Niaga mengungkapkan bahwa stok serta penyaluran Bahan Bakar Minyak (BBM) di wilayah tersebut termasuk jenis Pertalite dan Solar Subsidi tetap berjalan normal sesuai kuota yang ditetapkan tanpa ada pengurangan.

Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun menjelaskan bahwa antrean di SPBU wilayah Buol dan Gorontalo terpantau berkisar antara 30 hingga 100 meter pada jam-jam tertentu dan masih dalam kondisi relatif normal.

Kepadatan tersebut utamanya disebabkan oleh akumulasi aktivitas masyarakat di jam sibuk serta perilaku pengemudi kendaraan pengguna BioSolar yang terbiasa mengantre.

"Antrean ada di 3 SPBU sekitar 50-100 meter, tapi masih normal. Mungkin ini Solar yang dimaksud, karena memang selalu antre seperti Palu untuk pengiriman masih normal, sesuai dengan kuota dan DOT Depot," katanya kepada CNBC Indonesia, Kamis (22/10/2026).

Roberth menegaskan bahwa stok BBM, khususnya Pertalite, berada dalam kondisi aman dan terus terpantau ketersediaannya. Pada jenis Solar Subsidi, sebagian konsumen memilih tetap bertahan menunggu di lokasi SPBU saat pasokan sedang dalam proses pengiriman ulang.

"Tapi kalau antrean BioSolar memang selalu ada, ini terminitor stoknya tersedia. Kalaupun tersalurkan semua, dan menunggu pengiriman, mereka tetep nunggu bermalam sampai datang lagi BBM-nya. Memang culturenya menunggu demikian," imbuhnya.

Berdasarkan catatan perusahaan, penyaluran harian Pertalite di wilayah Gorontalo mencapai 478 ribu liter. Untuk Kabupaten Buol, penyaluran dilakukan dari Fuel Terminal (FT) Tolitoli menuju tiga SPBU reguler dengan volume 64 ribu liter Pertalite dan 24 ribu liter BioSolar per hari untuk menopang kebutuhan warga serta angkutan logistik.

Dengan begitu, Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi mengoptimalkan jadwal pengiriman dari Integrated Terminal Gorontalo dengan memajukan jam keberangkatan truk tangki mulai pukul 01.00 WITA. Pertamina juga menempatkan petugas marshalling untuk mengatur alur antrean kendaraan di area SPBU serta mengimbau masyarakat untuk membeli BBM di lembaga penyalur resmi.


(wia)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Stok BBM RI 16-18 Hari, Bahlil Buka Suara