Anindya Soroti Investasi Raksasa Data Center-Hilirisasi Vs Loker Minim
Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie menyoroti kualitas investasi di Indonesia yang dinilai belum tentu sejalan dengan penyerapan tenaga kerja. Peluang atau lowongan kerja (loker) untuk pekerjaan formal justru minim meski realisasi investasi sudah tembus ribuan triliun rupiah.
Pasalnya, sejumlah investasi besar seperti pusat data (data center), smelter, dan hilirisasi cenderung padat modal sehingga tidak banyak menyerap pekerja.
Hal ini menjadi sorotan di tengah pertanyaan mengenai realisasi investasi yang disebut telah menembus Rp1.500 triliun, sementara jumlah pekerja di sektor formal justru mengalami penurunan.
Anindya menjelaskan, investasi memiliki karakteristik berbeda-beda. Investasi padat modal umumnya mengandalkan teknologi, sedangkan industri padat karya memiliki potensi lebih besar untuk menyerap tenaga kerja.
"Ada investasi yang padat modal, misalnya kayak data center, smelter, hilirisasi, karena didukung oleh teknologi jumlah daripada tenaga kerjanya itu tidak banyak," ujar Anindya dalam konferensi pers Rapimnas Kadin di kantornya, Jakarta, Kamis (22/10/2026).
Menurutnya, Indonesia perlu memberi perhatian pada sektor-sektor yang mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja, seperti pertanian, perkebunan, perikanan, garmen, sepatu, dan furnitur.
"Nah, tapi juga banyak industri yang membutuhkan investasi, yang sifatnya padat karya, misalnya kayak pertanian, perkebunan, perikanan, garmen," katanya.
Anindya menambahkan, penguatan sektor padat karya perlu menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan arah investasi dan ekspor Indonesia.
Menurutnya, peningkatan daya saing harus menjadi fokus agar produk dalam negeri mampu bersaing di pasar internasional sekaligus mendukung penciptaan lapangan kerja.
"Paling enak sih kita punya waktu untuk fokus di semuanya, tapi kalau hanya terbatas, ya penting kan kita naik dulu nih di ekspor. Dan mungkin ekspor yang fokus kepada padat karya, yang kayak tadi semua itu," ucap dia.
Di sisi lain, Anindya menyoroti besarnya jumlah pelaku usaha dan pekerja yang masih berada di sektor informal. Menurutnya, pelaku usaha perlu mendapatkan pendampingan agar dapat masuk ke sektor formal dan meningkatkan daya saing.
"Kenapa Kadin ingin melakukan pembinaan pendampingan? Supaya yang tadinya informal bisa jadi formal, dan kita bisa meningkatkan daya saingnya," kata Anindya.
Anindya menilai peningkatan daya saing perlu dilakukan secara menyeluruh, baik melalui investasi, produktivitas, maupun penguatan dunia usaha. Dengan begitu, pertumbuhan investasi diharapkan tidak hanya tercermin dari nilai penanaman modal, tetapi juga memberikan manfaat lebih luas bagi perekonomian dan tenaga kerja.
"Karena itu kita di Kadin memilih untuk fokus ke fundamental, supaya competitiveness atau daya saing di Indonesia itu semakin kuat. Itu memang sangat dibutuhkan pada saat ini," tuturnya.
Dalam kesempatan yang sama, Anindya juga menyinggung pentingnya peningkatan produktivitas pekerja untuk menjaga daya saing perusahaan, termasuk ketika upah minimum mengalami kenaikan.
"Malah kita mengatakan, bagaimana kalaupun ada peningkatan upah minimum, itu dibarengkan dengan peningkatan produktivitas supaya kita lebih kompetitif," sebut dia.
Menurutnya, dunia usaha perlu mengelola risiko investasi dengan menjaga daya saing, termasuk menghadapi perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
(dce)