Fitch Ramal Ekonomi RI Cuma Tumbuh 5,2% di 2026, Ini Alasannya
Jakarta, CNBC Indonesia - Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya mencapai 5,2% pada 2026. Angka ini di bawah target 5,4% yang ditetapkan pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
Dalam riset terbarunya, Fitch melandasi proyeksinya karena menilai momentum pertumbuhan yang melambat pada semester II-2026. Fitch memperkirakan dukungan fiskal akan berkurang setelah pemerintah mempercepat realisasi belanja pada semester I-2026. Sementara itu, ekspor neto diperkirakan akan menekan pertumbuhan ekonomi.
"Prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah cukup kuat, tetapi diperkirakan masih jauh di bawah target pemerintah sebesar 8%, menurut laporan terbaru Fitch Ratings," sebagaimana termaktub dalam laporan bertajuk Indonesia's Medium-Term Growth to Remain Below Government Target, dikutip Kamis (22/10/2026).
Sekadar catatan, realisasi belanja negara mencapai Rp2.295,7 triliun hingga 31 Agustus 2026. Angka ini baru setara 59,7% dari pagu. Namun, Kementerian Keuangan menyatakan akan menggelontorkan anggaran belanja sebesar Rp1.300 triliun pada kuartal IV-2026. Hingga akhir tahun, belanja negara diperkirakan mencapai Rp3.942,4 triliun atau 102,6% dari pagu.
Di sisi lain, Fitch memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan stabil di level 4,9% pada 2027 dan 2028. Fitch menaikkan estimasi pertumbuhan ekonomi menjadi 4,9% dari sebelumnya 4,7%. Namun, angka tersebut masih jauh di bawah target pemerintah untuk pertumbuhan ekonomi jangka menengah sebesar 8%.
Perbedaan ini mencerminkan perkiraan dasar Fitch bahwa reformasi struktural hanya akan memberikan dampak terbatas terhadap produktivitas total faktor (total factor productivity) dan pendalaman modal (capital deepening), yang menjadi faktor penentu produk domestik bruto (PDB) potensial Indonesia.
Fitch telah menyoroti risiko meningkatnya ketidakpastian kebijakan serta melemahnya konsistensi dan kredibilitas bauran kebijakan di tengah makin terpusatnya kewenangan pengambilan kebijakan. Risiko tersebut menjadi salah satu pertimbangan Fitch ketika mengubah prospek peringkat utang pemerintah Indonesia dari Stabil menjadi Negatif pada Maret 2026.
Berdasarkan skenario dasar Fitch, pemerintah akan menghadapi tantangan untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8% sekaligus menjaga stabilitas makroekonomi dan keuangan. Hal ini akan sulit dicapai tanpa reformasi tambahan yang signifikan dan penciptaan lapangan kerja berkualitas.
Tekanan terhadap rupiah dan cadangan devisa Indonesia meningkat tahun ini di tengah kekhawatiran mengenai kredibilitas kebijakan, disiplin fiskal, dan tata kelola pasar modal.
"Respons kebijakan yang cepat untuk mendukung rupiah serta penunjukan gubernur bank sentral yang baru dalam waktu singkat telah meredakan tekanan tersebut. Sementara itu, APBN 2027 menunjukkan adanya kesinambungan kebijakan dan mengurangi risiko peningkatan belanja pemerintah yang lebih besar," ujarnya.
Fitch mengatakan perkembangan ini mengindikasikan bahwa pemerintah merespons kekhawatiran mengenai ketidakpastian dan kredibilitas kebijakan. Namun, sentimen investor yang masih rapuh serta intervensi valuta asing (foreign exchange) yang berkelanjutan dapat makin menekan cadangan devisa Indonesia.
Sekedar catatan, cadangan devisa Indonesia berada pada level US$146,3 miliar pada September 2026. Angkanya turun tipis dibandingkan dengan US$146,5 miliar pada Agustus 2026.
(haa/haa)